PEKANBARU - Deretan bus Trans Metro Pekanbaru (TMP) yang terparkir membisu di pool dekat Terminal Bandar Raya Payung Sekaki (BRPS) menjadi penanda jelas, transportasi massal andalan warga Kota Bertuah ini sedang berada di persimpangan jalan.
Faktanya, dari kejayaan armada yang dulu mengaspal, saat ini hanya tersisa sekitar 32 unit bus TMP yang masih sanggup melayani enam koridor utama.
Sisanya? Mengalami penuaan dini hingga mangkrak akibat kendala teknis.
Namun, alih-alih membiarkan sistem transportasi ini lumpuh, Pemerintah Kota Pekanbaru justru sedang menyiapkan cetak biru transformasi besar-besaran.
Walikota Pekanbaru, Agung Nugroho menegaskan, pemerintah tidak akan tinggal diam melihat kondisi armada yang mulai renta.
Langkah peremajaan kini menjadi prioritas utama demi mengembalikan fungsi TMP sebagai urat nadi mobilitas warga yang murah dan nyaman.
"Kita tentu punya target, karena bus kita sudah tua," ujar Agung Nugroho, Sabtu (6/6/2026).
Menariknya, pembenahan yang diusung Pemko Pekanbaru tidak melulu soal membeli unit baru.
Agung Nugroho memilih pendekatan yang lebih fundamental dan taktis, yakni membenahi manajemen waktu dan kenyamanan penumpang terlebih dahulu.
Fokus jangka pendek pemerintah saat ini adalah memangkas waktu tunggu di setiap koridor.
Pengelola ingin memastikan warga tidak lagi menghabiskan waktu terlalu lama di halte hanya untuk menunggu bus datang.
"Secara perlahan kita benahi pelayanan, baru kita adakan armada baru," papar Agung.
Menurutnya, penambahan kuantitas tanpa perbaikan kualitas sistem operasional justru akan menjadi bom waktu di kemudian hari.
"Kita proses secara menyeluruh, sehingga nantinya pelayanan bus TMP bisa lebih baik," tambahnya.
Masa depan transportasi Pekanbaru tampaknya akan berwarna hijau, dalam arti harfiah dan ekologis.
Sebagai langkah awal transisi energi, Pemko Pekanbaru mengonfirmasi telah melakukan uji coba terhadap dua unit bus listrik.
Langkah berani ini diambil untuk menguji kelayakan integrasi kendaraan ramah lingkungan ke dalam sistem TMP.
Transformasi ini dinilai krusial, mengingat isu polusi udara perkotaan dan komitmen global menuju net-zero emission yang semakin mendesak.
Selain mesin dan sistem digitalisasi, kenyamanan fisik penumpang di darat juga mulai disentuh.
Perbaikan fasilitas pendukung seperti halte kini tengah digesitkan di sejumlah ruas jalan protokol Pekanbaru agar lebih ramah bagi lansia, disabilitas, dan anak-anak.
"Jadi bukan sistem saja kita benahi, tapi fasilitas seperti halte pelan-pelan sudah kita perbaiki," tutupnya.