PEKANBARU – Kualitas udara di Kota Pekanbaru masih berada dalam kategori tidak sehat pada Selasa (20/10/2026) pagi. Meski jumlah titik panas (hotspot) di Provinsi Riau terpantau minim, kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah dan berpotensi mengancam kesehatan masyarakat.
Berdasarkan pantauan Halloriau.com pada pukul 07.00 WIB, konsentrasi partikulat halus PM2.5 di Pekanbaru tercatat mencapai 108,6 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
PM2.5 merupakan partikel polutan berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan, bahkan mencapai bagian terdalam paru-paru. Paparan dalam konsentrasi tinggi berisiko menimbulkan gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki penyakit atau gangguan pernapasan.
Kondisi ini menjadi perhatian karena buruknya kualitas udara masih terjadi ketika jumlah hotspot di Riau terpantau hanya satu titik.
Petugas BMKG Stasiun Pekanbaru, Ranti Kurniati, mengatakan berdasarkan pemantauan pada Selasa pagi, jumlah titik panas di wilayah Sumatera mencapai 1.381 titik.
Sementara itu, di Provinsi Riau hanya terdeteksi satu titik panas yang berada di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil).
Minimnya hotspot di Riau tersebut menunjukkan bahwa sumber kabut asap yang menyelimuti Pekanbaru belum dapat dipastikan hanya berdasarkan data titik panas di wilayah setempat. Asap dari daerah lain berpotensi memengaruhi kondisi udara, tetapi diperlukan data tambahan untuk memastikan asal dan pergerakannya.
Di tengah kondisi kualitas udara yang belum membaik, masyarakat diimbau tidak mengabaikan risiko paparan polusi, meskipun jumlah titik panas di Riau relatif sedikit.
BMKG Stasiun Pekanbaru mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kabut asap, terutama bagi kesehatan sistem pernapasan.
“Kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak asap bagi kesehatan, terutama sistem pernapasan,” imbaunya.
Masyarakat juga disarankan menggunakan masker yang sesuai saat harus beraktivitas di luar ruangan serta mengurangi kegiatan di luar rumah ketika asap semakin pekat. Anak-anak, lansia, dan orang yang memiliki gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian khusus karena lebih rentan terhadap dampak pencemaran udara.
Masyarakat diharapkan terus memantau informasi kualitas udara terkini dan menyesuaikan aktivitas dengan kondisi lingkungan. Pasalnya, sedikitnya jumlah hotspot tidak selalu berarti udara sudah bersih dan aman untuk dihirup.