PEKANBARU - Kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah di Provinsi Riau pada Minggu sore (18/10/2026), meskipun tidak ditemukan titik panas (hotspot) di wilayah tersebut berdasarkan pemantauan yang disampaikan BMKG Pekanbaru.
Kondisi ini membuat kualitas udara di Kota Pekanbaru masih berada dalam kategori tidak sehat. Berdasarkan pantauan Halloriau.com, konsentrasi partikulat halus PM2.5 tercatat mencapai 138,7 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada pukul 15.00 WIB.
Selain Pekanbaru, asap juga mengganggu jarak pandang di sejumlah daerah, terutama di Kabupaten Indragiri Hulu. Jarak pandang di Rengat tercatat hanya 800 meter pada Minggu sore.
Prakirawan BMKG Pekanbaru, Ranti Kurniati, menyampaikan bahwa berdasarkan data pemantauan titik panas di wilayah Sumatera, Riau tidak mencatat adanya hotspot, sementara sejumlah provinsi lain masih terdeteksi memiliki titik panas dalam jumlah besar.
Secara keseluruhan, terdapat 762 titik panas di wilayah Sumatera. Sebagian besar berada di Sumatera Selatan dengan 593 titik, disusul Jambi sebanyak 101 titik, Lampung 44 titik, Bangka Belitung 23 titik, dan Aceh satu titik. Sementara itu, Riau tercatat nihil hotspot.
Meski demikian, tidak adanya titik panas di Riau bukan berarti wilayah tersebut terbebas dari dampak asap. Kondisi atmosfer dan asap yang terbawa dari wilayah lain dapat turut memengaruhi jarak pandang serta kualitas udara.
Berdasarkan pembaruan jarak pandang atau visibility update BMKG pada pukul 16.00 WIB, asap masih terpantau di beberapa wilayah Riau.
Di Kota Pekanbaru, jarak pandang tercatat sekitar 3 kilometer. Kondisi serupa terjadi di Tambang, Kabupaten Kampar, dengan jarak pandang 3 kilometer, serta Kabupaten Pelalawan yang mencapai 2 kilometer.
Sementara itu, jarak pandang di Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, menjadi yang terendah, yakni hanya 800 meter akibat asap.
Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian masyarakat, khususnya pengguna jalan yang melintasi wilayah dengan jarak pandang terbatas. Pengendara diimbau meningkatkan kewaspadaan, mengurangi kecepatan, dan menjaga jarak aman selama berkendara.
Konsentrasi PM2.5 yang mencapai 138,7 µg/m³ di Pekanbaru menunjukkan masih adanya risiko paparan polusi udara bagi masyarakat. Partikel PM2.5 berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.
Masyarakat, terutama anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki riwayat penyakit pernapasan, perlu mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Penggunaan masker yang sesuai juga dapat menjadi salah satu langkah perlindungan saat harus beraktivitas di luar rumah.
Kondisi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pemantauan kualitas udara tetap diperlukan meskipun tidak ditemukan titik panas di wilayah Riau. Selain memantau perkembangan asap, masyarakat diharapkan mengikuti informasi resmi BMKG dan instansi terkait untuk mengetahui perubahan kondisi cuaca serta kualitas udara terkini.