PEKANBARU - Aktivitas panas terdeteksi di wilayah Riau pada Kamis (1/10/2026) sore. BMKG Pekanbaru mencatat enam titik panas atau hotspot, seluruhnya terkonsentrasi di Kabupaten Kampar.
Dua titik di antaranya berada pada level confidence tinggi 80-100 persen sehingga perlu mendapat perhatian lebih dalam pemantauan potensi kebakaran.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Yudhistira mengatakan, enam hotspot tersebut terdeteksi melalui citra satelit BMKG pada Kamis sore.
"Enam titik panas itu, seluruhnya berada di Kabupaten Kampar," kata Yudhistira.
Seluruh hotspot tersebut berada di Kecamatan XIII Koto Kampar. Dari enam titik yang terpantau, dua memiliki tingkat kepercayaan deteksi 80-100 persen.
"Sedangkan empat titik lainnya berada pada level confidence rendah 0-29 persen," ujarnya.
Perbedaan tingkat confidence menjadi bagian penting dalam membaca data hotspot.
Titik dengan confidence tinggi menunjukkan indikasi anomali panas yang lebih kuat berdasarkan parameter deteksi satelit, meski data hotspot tetap perlu diverifikasi di lapangan untuk memastikan apakah berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan.
Di tengah relatif rendahnya jumlah hotspot di Riau, kondisi regional Sumatera menunjukkan konsentrasi aktivitas panas yang jauh lebih besar.
BMKG mencatat terdapat 2.465 hotspot di Sumatera pada Kamis sore. Dari jumlah tersebut, 1.990 titik atau sekitar 81 persen berada di Sumatera Selatan (Sumsel).
Sebaran hotspot lainnya tercatat di Lampung sebanyak 305 titik, Bangka Belitung 136 titik, Sumatera Barat 19 titik, Aceh 5 titik, Bengkulu 4 titik, dan Riau 6 titik.
Dominasi Sumsel menunjukkan bahwa anomali panas pada periode pengamatan tersebut tidak tersebar merata di Pulau Sumatera. Sebagian besar justru terkonsentrasi di satu provinsi.
Kondisi tersebut sekaligus menempatkan angka enam hotspot di Riau dalam konteks yang berbeda.
Jumlahnya memang jauh lebih kecil dibandingkan Sumsel, tetapi dua hotspot dengan confidence tinggi di XIII Koto Kampar tetap menjadi indikator yang perlu dipantau, terutama apabila kondisi cuaca mendukung munculnya titik api.
Data satelit sendiri merupakan indikator awal, bukan bukti tunggal terjadinya kebakaran. Karena itu, keberadaan hotspot dengan confidence tinggi tetap membutuhkan pengecekan lapangan untuk menentukan kondisi sebenarnya.