PEKANBARU - Sebaran titik panas atau hotspot di Pulau Sumatera kembali meningkat tajam pada Kamis (1/10/2026) sore.
Dari total 2.465 hotspot, sebanyak 1.990 titik berada di Sumsel, sementara Riau tercatat enam titik yang seluruhnya terdeteksi di Kabupaten Kampar.
Dominasi hotspot di Sumsel menunjukkan konsentrasi potensi kebakaran masih berada di wilayah tersebut, sedangkan Riau untuk sementara berada pada tingkat yang jauh lebih rendah.
"Total titik panas wilayah Sumatera, Kamis (1/10/2026) sore ada 2.465 titik," ujar Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Yudhistira.
Selain Sumsel dan Riau, hotspot terpantau di sejumlah provinsi lain. Lampung mencatat 305 titik, Babel 136 titik, Sumbar 19 titik, Aceh lima titik dan Bengkulu empat titik.
Sebaran hotspot di Sumatera pada Kamis sore meliptui, Sumsel 1.990 titik, Lampung 305 titik, Babel 136 titik, Sumbar 19 titik, Aceh 5 titik, Riau 6 titik dan Bengkulu 4 titik.
Dengan demikian, Sumsel menyumbang sekitar 81 persen dari seluruh hotspot yang terdeteksi di Sumatera pada periode tersebut.
Angka ini memperlihatkan bahwa aktivitas anomali panas sangat terkonsentrasi di satu wilayah.
Berbeda dengan Sumsel, kondisi Riau pada Kamis sore relatif lebih rendah. BMKG mencatat hanya enam hotspot, dan seluruhnya berada di Kabupaten Kampar.
Meski jumlah tersebut jauh di bawah wilayah tetangga seperti Sumsel dan Lampung, keberadaan hotspot tetap perlu dibaca sebagai indikator kewaspadaan, bukan sebagai kepastian telah terjadi kebakaran.
BMKG menjelaskan, hotspot merupakan hasil deteksi anomali suhu permukaan oleh satelit. Data tersebut digunakan untuk membantu mengidentifikasi lokasi yang berpotensi mengalami kebakaran, tetapi tidak otomatis berarti setiap titik merupakan kebakaran hutan dan lahan yang sedang berlangsung.
Kewaspadaan di Riau juga penting karena BMKG memprediksi sejumlah wilayah Riau mengalami kondisi hujan di bawah normal pada Dasarian I Oktober 2026.
Kampar termasuk wilayah yang diprediksi mengalami curah hujan kategori menengah, sementara sejumlah kabupaten/kota lain di Riau diprediksi mengalami curah hujan rendah.
Situasi tersebut membuat pencegahan kebakaran tetap diperlukan, terutama pada lahan gambut, semak belukar dan kawasan yang mudah terbakar.
Sebelumnya, BMKG juga mengingatkan bahwa kondisi kering yang masih dominan meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan.
Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran sampah maupun pembukaan lahan dengan cara membakar.
Bagi Riau, enam hotspot yang terdeteksi di Kampar memang jauh lebih kecil dibandingkan ribuan titik di Sumsel.
Namun, angka tersebut tetap menjadi sinyal awal bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk memastikan titik panas tidak berkembang menjadi karhutla.
Sementara itu, BMKG juga mencatat kualitas udara Pekanbaru pada Kamis siang berada pada angka 55,0 dan masuk kategori tidak sehat berdasarkan parameter yang ditampilkan BMKG.