PEKANBARU – Hujan yang mengguyur wilayah Riau sepanjang Senin (26/10/2026) membawa dampak positif terhadap kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
BMKG Pekanbaru mencatat tidak ada titik panas atau hotspot yang terdeteksi di Riau hingga Senin sore, ketika jumlah hotspot di wilayah Sumatera turun menjadi 108 titik.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Gita Dewi menyampaikan, sebaran titik panas di Sumatera pada sore hari terkonsentrasi di tiga provinsi, dengan Sumatera Selatan menjadi wilayah yang mencatat jumlah terbanyak.
“Total titik panas di wilayah Sumatera pada Senin sore tercatat sebanyak 108 titik,” ujar Gita Dewi.
Berdasarkan pemantauan BMKG, Sumatera Selatan mencatat 73 titik panas, disusul Kepulauan Bangka Belitung sebanyak 32 titik dan Lampung tiga titik. Sementara itu, Riau tidak mencatat hotspot pada periode pemantauan tersebut.
Nihilnya titik panas di Riau terjadi setelah hujan mengguyur wilayah tersebut sepanjang hari. Kondisi ini menjadi perkembangan positif di tengah perhatian terhadap ancaman karhutla yang masih berpotensi muncul ketika kondisi cuaca kembali mengering.
Meski demikian, tidak adanya hotspot dalam satu periode pemantauan tidak serta-merta memastikan seluruh wilayah Riau terbebas dari kebakaran hutan dan lahan.
Titik panas merupakan indikasi awal yang perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan lapangan untuk memastikan ada atau tidaknya kebakaran.
Penurunan jumlah hotspot di Sumatera juga perlu dicermati melalui pemantauan berkelanjutan.
Perubahan cuaca, tingkat kelembapan lahan, serta kondisi vegetasi dapat memengaruhi potensi munculnya titik panas pada hari-hari berikutnya.
Karena itu, perkembangan cuaca dan sebaran hotspot tetap menjadi indikator penting dalam mengantisipasi karhutla, meskipun hujan telah membantu menekan kemunculan titik panas di Riau.