PEKANBARU - Provinsi Riau akhirnya bisa bernapas lega dari ancaman kabut asap. Saat sebagian besar wilayah Pulau Sumatera masih dikepung ratusan titik panas (hotspot), di Riau justru mengalami penurunan drastis hingga menyisakan 20 titik pada Selasa (1/9/2026) sore.
Penurunan signifikan ini menjadi kabar baik di tengah lonjakan hotspot Sumatera yang secara kumulatif menembus angka 833 titik.
Turunnya angka kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Riau ini merupakan dampak langsung dari hujan yang mengguyur sebagian besar wilayah Bumi Lancang Kuning selama tiga hari berturut-turut.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Elisa JS Kedang mengonfirmasi kabar melegakan tersebut sekaligus memaparkan data perbandingan yang mencolok dengan provinsi-provinsi tetangga.
"Untuk Riau, jumlah titik panas jauh menurun menjadi 20 titik karena wilayah kita telah diguyur hujan sejak tiga hari terakhir," ungkap Elisa, Selasa (1/9/2026).
Kondisi kondusif di Riau sangat kontras dengan situasi di bagian selatan pulau Sumatera.
Berdasarkan pantauan BMKG, dari total 833 titik panas, Provinsi Sumatera Selatan mencatatkan rekor tertinggi dengan dominasi 528 titik, menjadikannya daerah paling rawan Karhutla saat ini.
Posisi kedua penyumbang hotspot terbanyak disusul oleh Bangka Belitung dengan 157 titik, dan Provinsi Lampung dengan 67 titik.
Sementara itu, provinsi lain mencatatkan angka yang lebih moderat, di antaranya Aceh 43 titik, Sumatera Utara 25 titik, Jambi 18 titik, Kepulauan Riau 16 titik, Sumatera Barat 5 titik dan Bengkulu 4 titik.
Meski ancaman menurun, kewaspadaan tetap dijaga di Provinsi Riau. Elisa merincikan, ke-20 titik panas yang masih terdeteksi tersebar dalam skala kecil di tujuh kabupaten, yaitu Rokan Hilir 4 titik dan Bengkalis 4 titik.
Kemudian, Indragiri Hilir 4 titik, Kuantan Singingi 3 titik, Rokan Hulu 2 titik, Indragiri Hulu 2 titik dan Pelalawan 1 titik.
Data terbaru dari BMKG ini diharapkan menjadi peringatan dini bagi pemerintah daerah, khususnya di provinsi dengan angka hotspot tinggi, untuk memaksimalkan langkah mitigasi agar bencana kabut asap lintas provinsi dapat dicegah secara dini.