PEKANBARU – Sebaran titik panas atau hotspot di wilayah Sumatera kembali menjadi perhatian. Data pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Senin (3/8/2026) sore mencatat sebanyak 149 titik panas terdeteksi di sejumlah provinsi di Pulau Sumatera dan sekitarnya.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Elisa JS Kedang, menyampaikan bahwa konsentrasi hotspot tertinggi berada di Sumatera Selatan dengan 72 titik. Sementara itu, Riau menempati posisi kedua dengan 35 titik panas.
"Total titik panas (hotspot) wilayah Sumatera, Senin (3/8/2026) sore ada 149 titik," ujar Elisa JS Kedang.
Di Riau, hotspot tersebar di lima kabupaten. Pelalawan menjadi daerah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 16 titik.
Selanjutnya, Indragiri Hulu mencatat 13 titik, Kepulauan Meranti empat titik, serta masing-masing satu titik terpantau di Siak dan Indragiri Hilir.
Kondisi tersebut membuat wilayah pesisir timur Riau menjadi salah satu kawasan yang perlu mendapat perhatian dalam pemantauan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di daerah yang memiliki tutupan lahan gambut dan rentan terhadap kekeringan.
Secara regional, selain Sumatera Selatan dan Riau, hotspot juga terpantau di sejumlah provinsi lainnya.
Jambi mencatat 15 titik, Bangka Belitung sembilan titik, Lampung enam titik, Kepulauan Riau lima titik, Sumatera Barat empat titik, Aceh dua titik, serta Bengkulu satu titik.
Dengan total 35 hotspot, Riau menyumbang hampir seperempat dari keseluruhan titik panas yang terpantau di wilayah Sumatera pada Senin sore.
Data ini menjadi salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mendukung kewaspadaan dan pemantauan dini terhadap potensi karhutla.
Meski demikian, keberadaan hotspot tidak secara otomatis menunjukkan adanya kebakaran hutan dan lahan.
Titik panas merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi oleh satelit dan tetap membutuhkan verifikasi lapangan untuk memastikan apakah berkaitan dengan kebakaran.