PEKANBARU – Sebaran titik panas (hotspot) masih terpantau di sejumlah wilayah Sumatera pada Senin (27/7/2026) sore.
Berdasarkan pemantauan BMKG, terdapat 129 titik panas yang tersebar di sembilan provinsi.
Provinsi Riau sendiri menyumbang enam titik panas. Sebarannya berada di lima kabupaten dan kota, dengan Kabupaten Kampar menjadi wilayah yang memiliki jumlah hotspot terbanyak, yakni dua titik.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Ranti Kurniati menyampaikan, total hotspot yang terpantau di wilayah Sumatera pada Senin sore mencapai 129 titik.
"Total titik panas (hotspot) wilayah Sumatera, Senin (27/7/2026) sore ada 129 titik," kata Ranti Kurniati.
Dari total 129 titik panas yang terdeteksi, Sumatera Selatan menjadi provinsi dengan jumlah tertinggi.
Wilayah tersebut mencatat 45 hotspot, atau menjadi daerah dengan konsentrasi titik panas paling banyak dalam pemantauan tersebut.
Posisi berikutnya ditempati Jambi dengan 24 titik panas dan Lampung sebanyak 19 titik. Sementara itu, Bangka Belitung tercatat memiliki 18 hotspot, disusul Sumatera Barat 10 titik.
Adapun Aceh dan Bengkulu masing-masing mencatat tiga titik panas. Kepulauan Riau menjadi wilayah dengan jumlah terendah, yakni satu titik.
Di Provinsi Riau, enam titik panas terdeteksi di lima wilayah. Kabupaten Kampar menjadi daerah dengan jumlah hotspot paling banyak, yaitu dua titik.
Sementara itu, masing-masing satu titik panas terpantau di Kabupaten Bengkalis, Kota Dumai, Kabupaten Siak, dan Kabupaten Rokan Hilir.
Sebaran tersebut memperlihatkan bahwa titik panas di Riau tidak terkonsentrasi di satu kawasan saja.
Indikasi panas terpantau mulai dari wilayah pesisir hingga kawasan daratan, sehingga pemantauan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan tetap menjadi perhatian.
Meski demikian, keberadaan hotspot tidak serta-merta dapat diartikan sebagai kebakaran hutan atau lahan.
Titik panas merupakan indikasi adanya anomali suhu yang terdeteksi melalui sistem penginderaan jauh.
Untuk memastikan apakah titik tersebut benar-benar merupakan kebakaran, tetap diperlukan pengecekan dan verifikasi di lapangan.
Dengan jumlah 129 titik panas yang tersebar di Sumatera, kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa potensi munculnya titik api masih perlu diwaspadai.
Pemantauan rutin terhadap perkembangan hotspot menjadi penting, terutama di wilayah yang memiliki kondisi lahan dan cuaca yang mendukung terjadinya kebakaran.