PEKANBARU – Aktivitas titik panas atau hotspot kembali terpantau di sejumlah wilayah Sumatera. Data pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Jumat (24/7/2026) sore mencatat sedikitnya 125 titik panas tersebar di berbagai provinsi, dengan Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Indah menyebutkan, dari total tersebut, Riau menyumbang tujuh titik panas. Sebaran hotspot di Riau terdeteksi di tiga wilayah, yakni Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Pelalawan, dan Kota Dumai.
"Total titik panas (hotspot) wilayah Sumatera, Jumat (24/7/2026) sore ada 125 titik," ungkap Indah.
Berdasarkan pemantauan BMKG, Sumatera Selatan menjadi provinsi dengan konsentrasi hotspot paling tinggi pada Jumat sore, yakni mencapai 41 titik.
Di posisi berikutnya terdapat Jambi dengan 26 titik panas dan Lampung sebanyak 22 titik.
Sementara itu, Sumatera Barat terpantau tujuh titik, Aceh enam titik, Sumatera Utara enam titik, Bangka Belitung enam titik, Bengkulu empat titik, dan Riau tujuh titik.
Jika dirinci, sebaran hotspot di wilayah Sumatera meliputi Sumatera Selatan 41 titik, Jambi 26 titik, Lampung 22 titik, Sumatera Barat 7 titik, Riau 7 titik, Aceh 6 titik, Sumatera Utara 6 titik, Bangka Belitung 6 titik dan Bengkulu 4 titik.
Di Provinsi Riau, tujuh hotspot yang terpantau tersebar pada tiga daerah. Kabupaten Pelalawan dan Kota Dumai masing-masing mencatat tiga titik panas, sedangkan satu titik lainnya berada di Kabupaten Bengkalis.
Data tersebut menunjukkan bahwa konsentrasi hotspot Riau pada Jumat sore berada di wilayah pesisir dan kawasan yang memiliki potensi kerentanan terhadap kebakaran lahan dan hutan.
Meski jumlah hotspot Riau masih jauh lebih rendah dibandingkan Sumatera Selatan dan Jambi, kemunculan titik panas tetap menjadi indikator yang perlu dicermati, terutama apabila berada di area dengan kondisi lahan kering dan sulit dijangkau.
Data ini dapat menjadi salah satu indikator awal untuk mendeteksi potensi kebakaran, tetapi tidak otomatis berarti seluruh titik tersebut merupakan kebakaran hutan dan lahan.
Karena itu, keberadaan hotspot tetap membutuhkan verifikasi lapangan untuk memastikan apakah titik panas tersebut benar-benar berkaitan dengan kebakaran atau dipengaruhi faktor lain.