PEKANBARU - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mencatat sebanyak 89 titik panas (hotspot) terdeteksi di Pulau Sumatera hingga Jumat (10/7/2026) sore.
Dari jumlah tersebut, Provinsi Riau menyumbang 22 titik panas, dengan Kabupaten Siak menjadi daerah yang mencatat jumlah terbanyak.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Deby mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan satelit, titik panas tersebar di delapan provinsi di Sumatera dengan konsentrasi tertinggi berada di Aceh dan Riau.
"Hingga Jumat sore, total hotspot di wilayah Sumatera terpantau sebanyak 89 titik. Untuk Provinsi Riau terdapat 22 titik panas yang tersebar di beberapa kabupaten dan kota," ujar Deby.
Secara keseluruhan, sebaran hotspot di Pulau Sumatera meliputi Aceh 31 titik, Sumatera Selatan 24 titik, Riau 22 titik dan Lampung 5 titik.
Kemudina, Sumatera Barat 3 titik, Sumatera Utara 2 titik, Bengkulu 1 titik dan Jambi 1 titik.
Sementara itu, dari total 22 hotspot di Riau, Kabupaten Siak menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni delapan titik panas.
Rincian sebaran hotspot di Provinsi Riau meliputi Kabupaten Siak 8 titik, Kabupaten Rokan Hilir 5 titik, Kabupaten Rokan Hulu 2 titik dan Kabupaten Kampar 2 titik.
Selanjutnya, Kabupaten Pelalawan 2 titik, Kabupaten Indragiri Hulu 1 titik, Kabupaten Kuantan Singingi 1 titik dan Kota Dumai 1 titik.
Deby menjelaskan, data hotspot tersebut merupakan hasil pemantauan satelit yang digunakan sebagai indikator awal potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Namun demikian, keberadaan titik panas belum dapat dipastikan sebagai kejadian kebakaran sebelum dilakukan verifikasi di lapangan.
"Hotspot merupakan indikator awal yang dipantau melalui satelit. Untuk memastikan apakah benar terjadi kebakaran hutan dan lahan, tetap diperlukan pengecekan langsung oleh petugas di lapangan," pungkasnya.
BMKG terus melakukan pemantauan perkembangan hotspot sebagai bagian dari sistem peringatan dini guna mendukung upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan, khususnya memasuki periode musim kemarau di sejumlah wilayah Sumatera.