PEKANBARU - Rampungnya proyek utama Jalan Tol Sicincin–Padang hingga 100 persen rupanya bukan titik akhir bagi PT Hutama Karya (Persero).
BUMN infrastruktur ini justru langsung tancap gas menggarap satu proyek krusial yang menjadi 'kunci pembuka' konektivitas lokal, akses Lubuk Alung sepanjang 2,4 kilometer.
Meski jaraknya relatif pendek, jalur penghubung ini diproyeksikan menjadi urat nadi baru yang krusial bagi mobilitas masyarakat di Sumatera Barat (Sumbar).
Kehadirannya akan memangkas sekat geografis antara Padang, Bukittinggi, hingga Pariaman.
Saat ini, progres fisik di lapangan telah menyentuh angka 24,06 persen.
Hutama Karya sengaja mempercepat ritme kerja di segmen ini agar manfaat tol utama bisa langsung dirasakan secara inklusif oleh warga di sekitar koridor jalan tol.
Plt Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Hamdani menegaskan, percepatan ini tidak akan mengorbankan kualitas. Seluruh tahapan konstruksi diawasi secara ketat demi memenuhi standar nasional.
“Kami berkomitmen menyelesaikan pembangunan Akses Lubuk Alung secara optimal dengan memperhatikan mutu pekerjaan serta penerapan aspek kesehatan dan keselamatan kerja di seluruh area proyek,” ujar Hamdani, Minggu (17/5/2026).
Beberapa pekerjaan teknis yang sedang dikebut antara lain pekerjaan tanah dan timbunan struktur dan pemasangan bored pile pada Abutment 1 Jembatan Irigasi.
Kemudian, pembangunan struktur atas berupa slab overpass interchange dan box culvert, serta penghamparan lean concrete (lantai kerja beton).
Akses Lubuk Alung ini begitu strategism karena jalur ini akan menghubungkan pengguna jalan tol secara langsung dengan pusat perekonomian, pasar dan pemukiman di wilayah Lubuk Alung.
Selama ini, mobilitas antarkota di Sumbar sering kali terkendala oleh titik-titik kemacetan di jalan arteri konvensional. Dengan adanya akses tol baru ini, rantai pasok logistik dipastikan bakal jauh lebih lancar.
"Dengan koneksi yang semakin terintegrasi, arus mobilitas masyarakat dari dan menuju Kota Padang, Bukittinggi, maupun Pariaman diharapkan menjadi lebih cepat dan efisien," kata Hamdani.
Lebih jauh, infrastruktur ini dirancang bukan sekadar sebagai jalan pintas kendaraan, melainkan sebagai stimulus pertumbuhan ekonomi baru (center of growth) di sepanjang koridor Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS).
“Akses Lubuk Alung diharapkan dapat mendukung aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat sekitar, termasuk memperlancar mobilitas harian, distribusi barang, serta akses menuju kawasan permukiman dan pusat perdagangan,” pungkasnya.