JAKARTA – PT Telkom Indonesia terus memperkuat strategi transformasi digital melalui pengembangan layanan pita lebar tetap atau Fixed Broadband (FBB) IndiHome serta percepatan layanan konvergensi.
Langkah tersebut mulai menunjukkan hasil positif dari sisi pertumbuhan pelanggan sepanjang tahun buku 2025, meskipun perseroan masih menghadapi ketatnya persaingan harga di industri telekomunikasi.
Berdasarkan data presentasi korporasi Telkom, jumlah pelanggan IndiHome mencapai 10,32 juta pelanggan hingga akhir 2025. Angka tersebut tumbuh 7,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 9,61 juta pelanggan.
Peningkatan jumlah pelanggan internet tetap itu juga diikuti pertumbuhan layanan konvergensi atau Fixed Mobile Convergence (FMC), yakni integrasi layanan internet rumah IndiHome dengan layanan seluler Telkomsel dalam satu ekosistem layanan terpadu.
Melalui konsep FMC, pelanggan dapat menikmati konektivitas internet rumah dan layanan seluler dengan sistem layanan yang lebih terintegrasi, termasuk penggunaan satu tagihan pembayaran.
Hingga akhir 2025, jumlah pelanggan layanan konvergensi Telkom meningkat 11,7 persen secara tahunan menjadi 6,06 juta pengguna, dibandingkan 5,43 juta pengguna pada 2024.
Dengan pertumbuhan tersebut, tingkat penetrasi layanan konvergensi terhadap total pelanggan IndiHome naik menjadi 59 persen, lebih tinggi dibandingkan posisi akhir 2024 yang berada di angka 57 persen.
Meski mencatatkan pertumbuhan pelanggan, Telkom mengakui masih menghadapi tekanan dari sisi pendapatan akibat kompetisi harga di pasar layanan internet tetap.
Pendapatan segmen Fixed tercatat turun tipis 1,6 persen secara tahunan menjadi Rp26,16 triliun, dari sebelumnya Rp26,6 triliun pada 2024.
Selain itu, Average Revenue Per User (ARPU) layanan FBB juga mengalami penurunan sebesar 10,1 persen menjadi Rp214 ribu per bulan.
Manajemen Telkom menjelaskan kondisi tersebut dipengaruhi persaingan tarif yang semakin ketat serta perubahan strategi bisnis perusahaan yang kini lebih menitikberatkan pada pertumbuhan berkualitas atau value-led growth.
“Alih-alih terjebak dalam perang tarif demi mengejar kuantitas masal, fokus utama perseroan dialihkan pada akuisisi pelanggan baru yang lebih selektif dan berkualitas tinggi guna memastikan retensi jangka panjang yang solid,” tulis manajemen Telkom.
Dalam jangka pendek, Telkom berupaya mempertahankan stabilitas pangsa pasar melalui diferensiasi kualitas layanan, rasionalisasi portofolio produk, dan peningkatan produktivitas imbal hasil.
Perseroan juga menyiapkan paket layanan konvergensi yang lebih sesuai dengan kebutuhan pelanggan rumah tangga guna meningkatkan loyalitas pengguna.
Melalui strategi tersebut, Telkom optimistis penguatan ekosistem digital dan penyederhanaan produk dapat mendorong pertumbuhan ARPU secara bertahap sekaligus menjaga profitabilitas perusahaan dalam jangka panjang.