PEKANBARU - Revitalisasi 16 sekolah di Kota Pekanbaru melalui bantuan Kementerian Pendidikan senilai Rp17 miliar pada 2026 belum otomatis menjawab seluruh persoalan sarana belajar siswa.
Di sejumlah sekolah, persoalan yang justru mendesak adalah meubelair berupa meja dan kursi yang sudah rusak dan tidak layak digunakan.
Program revitalisasi tersebut diarahkan untuk memperbaiki berbagai bagian fisik sekolah, seperti ruang kelas, atap, plafon, toilet dan fasilitas pendukung lainnya.
Sementara kebutuhan pengadaan meja dan kursi baru belum menjadi bagian yang dipastikan masuk dalam program tersebut.
Kondisi ini menjadi perhatian karena sekolah dasar dan sekolah menengah pertama negeri di Pekanbaru masih menghadapi persoalan meubelair yang telah digunakan bertahun-tahun.
Salah satu gambaran terlihat di SMPN 8 Pekanbaru. Sejumlah meja dan kursi siswa dilaporkan dalam kondisi rusak.
Bahkan, terdapat meja yang diperbaiki sementara menggunakan material seadanya agar tetap bisa dipakai untuk kegiatan belajar mengajar.
Persoalan tersebut menunjukkan bahwa pembenahan fasilitas pendidikan tidak cukup hanya berhenti pada bangunan fisik.
Ketika ruang kelas diperbaiki tetapi meja dan kursi siswa tetap dalam kondisi rusak, kenyamanan proses pembelajaran juga belum sepenuhnya teratasi.
Wakil Ketua Komisi III DPRD Pekanbaru, Tekad Indra Pradana Abidin mengatakan, bantuan revitalisasi dari pemerintah pusat diberikan berdasarkan kebutuhan sekolah yang sebelumnya diajukan.
"Tapi sampai hari ini, kami belum dapatkan laporan resmi dari Disdik. Termasuk untuk pembelian meubelair baru, kami tidak tahu pasti. Karena setahu kami, itu berdasarkan PKS (pengajuan kebutuhan sekolah)," kata Tekad, Jumat (18/9/2026).
Menurut dia, kebutuhan meubelair semestinya menjadi bagian yang perlu diperiksa kembali mengingat jumlah sekolah negeri di Pekanbaru cukup banyak.
"Dari puluhan SMPN dan ratusan SDN, tidak mungkin sekolah itu tidak mengajukan pembelian meubelair baru," ujarnya.
Tekad menegaskan pihaknya akan melakukan pengecekan kepada Disdik Pekanbaru untuk memastikan apakah kebutuhan meja dan kursi siswa telah masuk dalam perencanaan pengadaan.
"Tapi ini nanti kita kroscek lagi ke Disdik," katanya.
Kebutuhan meubelair baru bukan persoalan yang muncul tahun ini. Sejumlah sekolah mengaku telah menyampaikan kebutuhan penggantian meja dan kursi selama beberapa tahun, namun belum seluruhnya terealisasi.
"Sudah sejak beberapa tahun kami ajukan ke pemerintah, tapi tak pernah terealisasi," ujar seorang kepala sekolah.
Kondisi tersebut menjadi persoalan tersendiri bagi sekolah karena meja dan kursi merupakan fasilitas yang digunakan siswa setiap hari.
Kerusakan meubelair bukan hanya berkaitan dengan tampilan ruang kelas, tetapi juga menyangkut kenyamanan siswa selama mengikuti pembelajaran.
Di sisi lain, program revitalisasi pemerintah pusat tetap menjadi bagian penting dalam memperbaiki kualitas sarana pendidikan.
Namun, pelaksanaannya perlu dipastikan mampu menjawab kebutuhan sekolah secara menyeluruh, bukan hanya memperbaiki komponen bangunan yang mengalami kerusakan.
Plt Kadisdik Pekanbaru, Dr Abdul Jamal membenarkan, bantuan pemerintah pusat senilai Rp17 miliar tahun ini diperuntukkan bagi revitalisasi 16 sekolah.
Menurut Jamal, pekerjaan meliputi perbaikan ruang kelas, plafon, atap, toilet dan fasilitas fisik lainnya. Sejumlah sekolah bahkan sudah mulai mengerjakan proyek revitalisasi tersebut.
"Kami dari dinas hanya mengawasi saja, saat ini kita lihat pengerjaannya sudah dimulai," jelas Jamal.
Berbeda dengan pola pekerjaan yang sepenuhnya dilaksanakan pemerintah daerah, anggaran revitalisasi tersebut langsung masuk ke rekening masing-masing sekolah.
Pelaksanaan kegiatan kemudian dikelola oleh pihak sekolah bersama masyarakat, sementara Disdik Pekanbaru menjalankan fungsi pengawasan.
Program revitalisasi juga direncanakan berlanjut pada 2027. Disdik Pekanbaru akan kembali memetakan sekolah yang membutuhkan pembenahan.
Jamal mengatakan pemetaan kebutuhan sekolah dapat mengacu pada Data Pokok Pendidikan (Dapodik).
Dengan mekanisme tersebut, sekolah tidak perlu lagi mengajukan proposal khusus untuk mendapatkan program revitalisasi.
Persoalannya kini adalah bagaimana memastikan data kebutuhan tersebut tidak hanya menangkap kerusakan bangunan, tetapi juga kebutuhan sarana belajar yang digunakan siswa setiap hari.
Sebab, revitalisasi sekolah pada akhirnya bukan hanya tentang membuat atap, plafon atau toilet kembali layak.
Meja dan kursi tempat siswa belajar juga merupakan bagian dari wajah fasilitas pendidikan yang seharusnya tidak luput dari perhatian pemerintah.