PEKANBARU – Memburuknya kualitas udara memaksa Pemerintah Kota Pekanbaru kembali mengambil langkah darurat di sektor pendidikan.
Mulai Rabu (16/9/2026), seluruh peserta didik jenjang PAUD, TK, SD hingga SMP kembali belajar dari rumah melalui pembelajaran jarak jauh (PJJ).
Kebijakan tersebut diberlakukan setelah kondisi udara Pekanbaru masuk kategori sangat tidak sehat berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Pemko Pekanbaru tidak langsung menetapkan PJJ dalam waktu panjang. Pembelajaran dari rumah untuk sementara diberlakukan selama dua hingga tiga hari, sembari menunggu perkembangan kondisi udara dan potensi hujan.
Walikota Pekanbaru, Agung Nugroho mengatakan, keputusan itu diambil setelah pemerintah daerah berkoordinasi dengan sejumlah instansi yang berkaitan langsung dengan kondisi lingkungan, kebencanaan, kesehatan dan pendidikan.
"Kami memutuskan mulai besok untuk seluruh sekolah, SD dan SMP, TK dan PAUD untuk melakukan pembelajaran jarak jauh," kata Agung, Selasa (15/9/2026) sore.
Koordinasi dilakukan bersama BMKG, BPBD Kota Pekanbaru, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK), Dinas Kesehatan serta Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru.
Pemko Pekanbaru kini menghadapi persoalan lain: belum adanya hujan yang cukup untuk membantu memperbaiki kualitas udara.
Agung mengatakan kondisi cuaca menjadi salah satu pertimbangan pemerintah dalam menentukan apakah PJJ akan dihentikan atau justru diperpanjang.
Menurut dia, terdapat prakiraan hujan pada Jumat (18/9/2026). Namun, apabila hujan tidak terjadi dan kualitas udara tetap buruk, Pemko Pekanbaru siap memperpanjang pembelajaran dari rumah.
"Kalau tidak juga turun hujan pada hari Jumat, maka langsung kita buatkan surat edaran pembelajaran jarak jauh sampai Minggu," ungkapnya.
Artinya, keberlanjutan aktivitas belajar tatap muka di Pekanbaru sangat bergantung pada perkembangan kualitas udara dalam beberapa hari ke depan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kabut asap dan kualitas udara buruk bukan lagi semata persoalan lingkungan, tetapi sudah berdampak langsung terhadap aktivitas pendidikan masyarakat.
Di tengah penerapan PJJ, Pemko Pekanbaru juga meminta sekolah menyesuaikan metode pembelajaran dengan kondisi keluarga peserta didik.
Agung mengingatkan agar guru tidak memberikan pola pembelajaran daring yang justru menambah beban orangtua.
"Siapkan pembelajaran yang tidak memberatkan orangtua maupun peserta didik," tegasnya.
Pemerintah berharap sekolah tetap memastikan proses pendidikan berjalan selama PJJ, tetapi dengan mempertimbangkan keterbatasan perangkat, akses internet dan kemampuan orangtua mendampingi anak belajar di rumah.
Keputusan PJJ ini sekaligus menjadi gambaran seriusnya dampak penurunan kualitas udara di Pekanbaru.
Ketika udara berada pada level sangat tidak sehat, aktivitas anak-anak di lingkungan sekolah menjadi salah satu kegiatan yang harus dikurangi untuk menekan paparan polusi.
Pemko Pekanbaru selanjutnya akan mengevaluasi kondisi udara dan cuaca sebelum menentukan apakah peserta didik dapat kembali mengikuti pembelajaran tatap muka atau harus tetap belajar dari rumah.