ROHIL – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), memperkuat pembinaan kepribadian warga binaan melalui pelatihan seni hadrah, Sabtu (24/10/2026).
Program ini diarahkan untuk membangun karakter religius, menanamkan kedisiplinan, serta memberikan ruang bagi warga binaan untuk mengembangkan keterampilan selama menjalani masa pidana.
Pelatihan tersebut tidak hanya berfokus pada kemampuan memainkan alat musik rebana dan melantunkan selawat.
Lapas juga menargetkan terbentuknya kelompok hadrah yang dapat dilibatkan dalam berbagai agenda keagamaan di lingkungan pemasyarakatan.
Kepala Subseksi Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan (Kasubsi Bimkemaswat) Lapas Bagansiapiapi, Islam Prayongono mengatakan, kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut arahan Kepala Lapas, Agus Imam Taufik, untuk memperkuat pembinaan mental dan spiritual warga binaan.
"Pelatihan hadrah ini kami hadirkan sebagai langkah nyata arahan Kalapas Agus Imam Taufik dalam menguatkan pembinaan kerohanian warga binaan," ucapnya.
"Harapannya, grup yang terbentuk nantinya dapat tampil mengisi acara-acara keagamaan di Lapas Bagansiapiapi," sambungnya.
Menurut Islam, kelompok hadrah yang sedang dibentuk diproyeksikan tampil dalam pengajian rutin, tabligh akbar, serta peringatan hari besar Islam.
Kehadiran kelompok ini diharapkan membuat warga binaan memiliki kesempatan lebih luas untuk berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan.
Dalam pelaksanaannya, para peserta mempelajari teknik ketukan rebana, menyelaraskan irama, hingga melantunkan syair selawat.
Setiap tahapan membutuhkan konsentrasi, latihan berulang, dan koordinasi antarpeserta agar menghasilkan penampilan yang harmonis.
Aktivitas tersebut menjadi salah satu pendekatan pembinaan yang memadukan nilai spiritual dengan pengembangan keterampilan sosial.
Melalui latihan bersama, warga binaan berkesempatan membangun kedisiplinan, meningkatkan kemampuan bekerja dalam kelompok, serta menyalurkan energi melalui kegiatan yang konstruktif.
Antusiasme peserta terlihat selama proses latihan berlangsung. Suasana religius yang tercipta melalui perpaduan tabuhan rebana dan lantunan selawat turut mendukung pelaksanaan pembinaan keagamaan di dalam lapas.
Namun, keberhasilan program pembinaan tidak cukup diukur dari antusiasme saat pelatihan atau terbentuknya kelompok seni.
Keberlanjutan latihan, keterlibatan warga binaan, serta dampak kegiatan terhadap perubahan perilaku menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan agar manfaatnya tidak berhenti pada kegiatan seremonial.
Kepala Lapas Kelas IIA Bagansiapiapi, Agus Imam Taufik menegaskan, kegiatan keagamaan merupakan bagian dari upaya membentuk karakter warga binaan selama menjalani masa pembinaan.
"Kami berkomitmen untuk terus memfasilitasi kegiatan keagamaan agar mereka memiliki ketenangan batin dan kesiapan mental untuk menjadi pribadi yang lebih baik," pungkasnya.