PEKANBARU – Penguatan kompetensi tenaga kesehatan menjadi salah satu langkah penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan bagi ibu dan bayi, terutama di wilayah dengan tantangan geografis dan keterbatasan akses fasilitas kesehatan.
Upaya tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Asuhan Persalinan Normal (APN) bagi tenaga kesehatan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama di Kabupaten Pelalawan. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Provinsi Riau bersama Community Development (CD) PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), dengan melibatkan Dinas Kesehatan Kabupaten Pelalawan.
Sebanyak 15 peserta dari delapan puskesmas serta perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Pelalawan mengikuti pelatihan selama 13 hari di Hotel Fox Harris Pekanbaru, mulai 22 Agustus hingga 3 September 2026.
Pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tenaga kesehatan dalam memberikan asuhan persalinan yang aman, berkualitas, dan sesuai standar. Peserta juga dibekali kemampuan menghadapi kondisi kegawatdaruratan dalam pelayanan persalinan.
Pembukaan pelatihan dihadiri Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau Zulkifli, S.Kep., M.H., Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pelalawan H. Asril K., SKM., M.Kes., Kepala Bapelkes Dinas Kesehatan Provinsi Riau dr. Siska Hidayani, M.Kes., Manajer CD RAPP Sundari Berlian, serta Wakil Direktur RSUD Arifin Achmad Ns. Asfeni, S.Kep., M.Kes., selaku fasilitator.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pelalawan H. Asril K. mengatakan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan menjadi kebutuhan penting mengingat karakteristik wilayah Pelalawan yang cukup beragam.
Sejumlah kecamatan masih menghadapi keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan. Karena itu, diperlukan strategi pelayanan yang mampu menjangkau masyarakat hingga ke wilayah yang sulit mendapatkan layanan kesehatan.
“Pelalawan memiliki karakteristik daerah yang beragam, sehingga pemerintah daerah dituntut menghadirkan strategi pelayanan yang mampu menjangkau masyarakat hingga ke kawasan yang sulit mendapatkan akses fasilitas kesehatan,” ujar Asril.
Ia menilai dukungan berbagai pihak, termasuk sektor swasta, sangat membantu pemerintah dalam meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan.
“Kami bersyukur dengan aksi RAPP yang membantu melalui pelatihan APN ini. Ini merupakan hal yang sangat berharga karena peningkatan kemampuan tenaga kesehatan membutuhkan pelatihan yang berkelanjutan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau Zulkifli mengatakan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak masih menjadi perhatian bersama.
Menurutnya, dari sekitar 121 ribu ibu hamil di Riau, baru sekitar 41 ribu yang terpantau melalui pemeriksaan rutin. Selain itu, angka kematian balita di Riau masih berada pada kisaran lebih dari 400 kasus.
Zulkifli menyebut angka kematian bayi dan balita tertinggi berada di Kabupaten Indragiri Hilir. Sementara kasus kematian ibu masih cukup banyak ditemukan di Kabupaten Pelalawan dan Kampar.
“Kami tidak boleh membiarkan kematian ibu dan bayi karena ini menyangkut hak asasi manusia. Pelatihan seperti ini sangat membantu,” tegas Zulkifli.
Ia menilai persoalan tersebut membutuhkan intervensi dan kerja sama berbagai pihak, termasuk dukungan dari sektor swasta. Para peserta pelatihan juga diharapkan dapat menjadi penggerak peningkatan kompetensi di tempat mereka bertugas.
Untuk memastikan manfaat pelatihan terus berlanjut, Dinas Kesehatan Provinsi Riau akan melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala melalui pertemuan daring serta sistem aplikasi kompetensi tenaga kesehatan.
“Dengan begitu, ilmu yang diperoleh tidak berhenti pada peserta pelatihan, tetapi dapat dibagikan kepada rekan sesama tenaga kesehatan di puskesmas, pustu, maupun poskesdes,” harapnya.
Kepala Bapelkes Dinas Kesehatan Provinsi Riau dr. Siska Hidayani mengatakan pelatihan APN tidak hanya berorientasi pada perolehan sertifikat, tetapi harus memberikan perubahan nyata dalam praktik pelayanan di lapangan.
Karena itu, Bapelkes akan melakukan Evaluasi Pasca Pelatihan (EPP) secara berkala untuk memastikan kompetensi yang diperoleh peserta benar-benar diterapkan.
“Bapelkes dan RAPP memiliki energi yang sama, yakni memastikan pelatihan yang diberikan benar-benar menghasilkan perubahan di lapangan. Kami mendorong tenaga kesehatan untuk terus memperbarui pengetahuan dan meningkatkan kemampuan demi memperkuat kualitas pelayanan serta keselamatan ibu dan bayi,” jelas Siska.
Manajer Community Development RAPP Sundari Berlian mengatakan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan merupakan bagian penting dalam mendukung kualitas pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya di tingkat puskesmas.
Pelatihan Asuhan Persalinan Normal (APN) bagi tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama di Kabupaten Pelalawan.
“Melalui pelatihan ini, kami berharap kompetensi dokter dan bidan semakin kuat dalam memberikan asuhan persalinan yang aman, berkualitas, dan sesuai standar, termasuk memiliki kesiapan dalam menangani kondisi kegawatdaruratan untuk mendukung keselamatan ibu dan bayi,” ujar Sundari.
Sebelumnya, RAPP bersama Bapelkes Dinas Kesehatan Provinsi Riau juga mendukung Pelatihan Antenatal Care dan Skrining Hipotiroid Kongenital bagi bidan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Pelatihan yang dilaksanakan pada Juli 2026 tersebut diikuti 61 tenaga kesehatan dari 28 puskesmas serta perwakilan dinas kesehatan dari lima kabupaten di wilayah operasional RAPP, yakni Pelalawan, Kampar, Siak, Kuantan Singingi, dan Kepulauan Meranti.
Keterlibatan Dinas Kesehatan Kabupaten Pelalawan dalam pelatihan APN ini diharapkan dapat memastikan keberlanjutan program melalui pembinaan dan pendampingan setelah pelatihan selesai.
Melalui sinergi antara Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Dinas Kesehatan Kabupaten Pelalawan, Bapelkes, RAPP, dan tenaga kesehatan, pelatihan yang berlangsung hingga 3 September 2026 ini diharapkan mampu meningkatkan kompetensi peserta serta memperkuat kualitas pelayanan persalinan.
Dengan demikian, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan secara langsung di fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendukung pelayanan yang aman, berkualitas, dan berorientasi pada keselamatan ibu dan bayi.(*)