KUANSING - Akhir tahun 1990-an adalah masa emas bagi penyandang gelar sarjana di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing).
Daerah yang baru saja dimekarkan dari Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) tersebut sedang haus akan aparatur sipil negara.
Kursi Aparatur Sipil Negara (ASN) terbuka lebar. Namun, bagi Zaharatul Aini (56) dan suaminya, masa depan tidak berada di balik meja birokrasi, melainkan di hamparan rumput hijau Desa Koto Benai.
Memilih pulang kampung dari Kota Pekanbaru pada tahun 1997 dengan menggendong anak pertama, perempuan yang akrab disapa Ratil ini memulai segalanya dari titik nol.
Alih-alih mendaftar menjadi pegawai pemerintah, Ratil justru memilih jalan sunyi yang saat itu dipandang sebelah mata oleh banyak orang, menjadi peternak sapi.
“Padahal pada tahun 1999 itu Kabupaten Kuantan Singingi baru dimekarkan. Sebenarnya saat itu menjadi kesempatan bagi kami untuk menjadi pegawai pemerintah, karena kami sama-sama memiliki ijazah sarjana," ungkap Ratil.
"Tapi waktu itu kami belum berminat ke arah sana dan memilih fokus mengembangkan usaha ternak sapi ini,” sambungnya.
Pilihan hidup yang anti-mainstream itu kini berbuah manis. Dua dekade berlalu, Ratil bukan sekadar peternak biasa.
Sejak 2010, ia dipercaya memimpin Kelompok Ternak Ingin Maju, sebuah kelompok yang awalnya diinisiasi oleh 28 warga lokal pada tahun 1999 melalui program Community Development (CD) PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP).
Perjalanan kelompok ini tidak instan. Dimulai dari pembekalan materi, pelatihan, hingga studi banding yang difasilitasi CD RAPP, kelompok ini menerima stimulasi awal berupa 30 ekor sapi pada tahun 2001 yang dibagikan kepada 10 Kepala Keluarga (KK).
Sebagai perempuan yang sejak duduk di bangku SMP sudah akrab dengan bau kandang dan sabit rumput, Ratil membawa manajemen peternakan tradisional ke level yang lebih terukur.
Dobrakan terbesar terjadi pada tahun 2020. Di bawah kepemimpinannya, pola peternakan yang awalnya terpisah-pisah disatukan dalam sistem kandang koloni terintegrasi.
Di lahan koloni ini, aktivitas tidak lagi sekadar memberi makan sapi. Kelompok ini mengintegrasikan pemeliharaan ternak, pengolahan pupuk kompos, hingga budidaya tanaman hortikultura seperti cabai sebagai sumber pendapatan ekstra.
“Seitz tahun 2020, kami juga mulai melakukan penghitungan nilai aset kelompok dalam bentuk rupiah supaya perkembangan usaha bisa lebih terukur," sebutnya.
"Waktu itu nilainya masih sekitar Rp60 juta, sedangkan sekarang aset kelompok sudah mencapai Rp173 juta. Alhamdulillah, setiap tahun nilainya terus mengalami peningkatan,” jelas Ratil.
Peningkatan aset yang masif ini berbanding lurus dengan kesejahteraan anggotanya.
Hasil dari jerih payah memelihara sapi terbukti mampu menyekolahkan anak-anak mereka hingga ke perguruan tinggi.
Bahkan, dari hasil menggembala ini pula, Ratil dan suaminya telah menginjakkan kaki di Tanah Suci untuk menunaikan ibadah umroh.
Dunia peternakan bukanlah lini bisnis tanpa risiko. Pada tahun 2024, Kelompok Ternak Ingin Maju sempat dihantam badai Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) tepat menjelang hari raya Iduladha.
Namun, mentalitas tangguh seorang sarjana desa membuat Ratil dan kelompoknya menolak menyerah.
Lewat mitigasi yang cepat dan pendampingan medis yang konsisten dari CD RAPP, mereka berhasil bangkit.
Kini, menjelang Iduladha tahun ini, suasana di kandang koloni Desa Koto Benai mulai lengang.
Sapi-sapi terbaik mereka telah ludes dipesan untuk memenuhi kebutuhan hewan kurban di berbagai wilayah Provinsi Riau.
Keuntungan dari penjualan tersebut dibagi secara adil dengan skema berkelanjutan, 70 persen untuk anggota peternak dan 30 persen masuk kas kelompok sebagai modal pengembangan usaha.
Meski sukses menorehkan angka pertumbuhan ekonomi yang impresif, Ratil menyimpan satu kegelisahan besar, yakni pudarnya minat generasi muda untuk menyentuh sektor agraris.
“Intinya jangan gengsi untuk beternak. Walaupun tangan kotor dan setiap hari bekerja di bawah panas matahari, percayalah bahwa apa yang kita kerjakan dengan sungguh-sungguh pasti akan membuahkan hasil," tuturnya.
"Banyak anak muda menganggap beternak itu berat, padahal usaha ini bisa membawa kehidupan menjadi lebih baik,” tegasnya.
Keberhasilan Kelompok Ternak Ingin Maju bertahan lebih dari 20 tahun menjadi potret sukses bagaimana korporasi dan masyarakat bisa bertumbuh bersama.
Pola kemitraan jangka panjang ini dinilai menjadi role model pemberdayaan ekonomi di wilayah pedesaan Riau.
Agribusiness Program Officer Community Development RAPP, drh Jeni Febrianto MMA yang secara intensif mengawal dinamika kelompok ini, menyatakan kekagumannya atas resiliensi kelompok peternak di Desa Koto Benai tersebut.
"Perjalanan kelompok ini menjadi bukti nyata bahwa program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan secara konsisten melalui pendampingan, pelatihan, penguatan kelembagaan, serta semangat gotong royong setiap anggota kelompok mampu menciptakan usaha ternak yang mandiri dan berkelanjutan," pungkas Jeni.(rilis)