www.halloriau.com


BREAKING NEWS :
Seleksi CPNS 2027, Pemerintah Pusat Diharapkan Beri Afirmasi Usia Guru PPPK Penuh Waktu
Otonomi
Pekanbaru | Dumai | Inhu | Kuansing | Inhil | Kampar | Pelalawan | Rohul | Bengkalis | Siak | Rohil | Meranti
 


Nyalakan Inovasi dari Jantung Ladang Minyak
Jumat, 23 Oktober 2026 - 15:25:41 WIB
Rumah Baca Lirik Literacy Center (LILAC) saat diresmikan di September 2024 (foto/istimewa)
Rumah Baca Lirik Literacy Center (LILAC) saat diresmikan di September 2024 (foto/istimewa)

Oleh: Andy Indrayanto

"Kok burung raksasa dimakan? Kan besar? Apa bisa nenek yang sudah tua memakan burung sebesar itu?" tanya seorang bocah laki-laki yang duduk dalam setengah lingkaran bersama teman-temannya.

"Nenek itu kan sakti, pasti bisa lah makan burung raksasa," sahut anak lainnya. "Iya kan, Kak?" katanya sambil menoleh kepada Widya Dwi Rahma Putri yang memegang buku dongeng di tangannya.

Pagi itu, di Kecamatan Lirik, Kabupaten Indragiri Hulu, tawa kanak-kanak menghidupkan kawasan Wisata Alam Lirik. Suara mereka yang memenuhi Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lirik Literacy Center (LILAC) seolah menyatu dengan ketenangan dan keasrian daerah yang selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu jantung produksi minyak bumi di Indragiri Hulu.

Pertanyaan sederhana tadi membuat suasana di rumah baca tersebut semakin hidup. Bagi anak-anak, kisah tentang nenek sakti dan burung raksasa hanyalah sebuah dongeng. Namun bagi mereka yang berada di balik lahirnya LILAC, momen sederhana itu menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dari teknologi canggih.

Di tengah kawasan yang selama puluhan tahun hidup berdampingan dengan industri minyak, inovasi justru dapat dimulai dengan menemukan potensi masyarakat, memberi mereka ruang, lalu menjadikannya sebagai kekuatan untuk menggerakkan perubahan.

Di Kecamatan Lirik, pendekatan seperti itulah yang kemudian dipilih Pertamina EP Field Lirik. Perusahaan tidak menjadikan pembangunan fasilitas sebagai titik akhir program, tetapi mencari potensi yang telah tumbuh di tengah masyarakat untuk diperkuat. Forum Anak Kecamatan Lirik menjadi bagian penting dari pendekatan tersebut.

Dari sinilah LILAC lahir bukan sekadar sebagai rumah baca, melainkan sebagai ruang yang memberi anak-anak muda kesempatan menjadi pengelola sekaligus penggerak perubahan di lingkungannya.

Widya bukanlah guru, juga bukan pustakawan. Namun bersama teman-temannya di Forum Anak Kecamatan Lirik, remaja itu menjadi bagian dari perubahan kecil yang perlahan terus tumbuh di tengah masyarakat.

2 p.jpeg
(LILAC saat membuka stand baca di SDN 002 Pasir Ringgit/foto-istimewa)

Inovasi Tak Selalu Bernama Teknologi
Selama ini, inovasi kerap diukur dari hal-hal yang terlihat, seperti teknologi baru, mesin modern, atau sistem digital. Namun, di Kecamatan Lirik, Pertamina EP Field Lirik memulainya dari sesuatu yang tidak berbentuk benda yakni potensi manusia.

Perusahaan migas itu tidak menjadikan pembangunan perpustakaan sebagai satu-satunya jawaban atas kebutuhan literasi masyarakat. Mereka melihat adanya kelompok anak muda yang memiliki kepedulian dan kemauan untuk bergerak, yakni Forum Anak Kecamatan Lirik.

Di tangan para remaja itulah terdapat modal awal yang tidak kalah penting dari bangunan dan koleksi buku. Mereka memiliki keinginan menghadirkan ruang literasi bagi anak-anak, meskipun belum mempunyai fasilitas dan dukungan yang memadai untuk mewujudkannya.

Menurut CDO Pertamina EP Field Lirik, Dela Ayu Puspita Dewi, perusahaan tidak ingin sekadar menghadirkan fasilitas tanpa memastikan adanya pihak yang mampu mengelolanya.

"Kami pikir, kalau rumah bacanya bagus tapi tidak ada yang mengurus, lama-lama pasti mati. Karena itu kami memilih memperkuat anak-anak mudanya dulu," ujarnya.

Pendekatan seperti itulah yang menjadi pembeda dalam pengembangan Lirik Literacy Center (LILAC). Dukungan perusahaan tidak berhenti pada penyediaan tempat, tetapi juga membuka kesempatan bagi anak-anak muda untuk mengambil peran dalam menjalankan program.

Bagi Widya Dwi Rahma Putri, kepercayaan itu memberinya peran baru. Bersama rekan-rekannya di Forum Anak, ia belajar mengelola kegiatan literasi dan menjaga rumah baca tetap bermanfaat bagi anak-anak di Lirik.

Berawal dari Kegelisahan
Sebelum LILAC hadir, ada kegelisahan yang dirasakan Widya Dwi Rahma Putri, Farel Syamsul Amri, dan rekan-rekannya di Forum Anak Kecamatan Lirik. Mereka melihat semakin sedikit anak-anak yang akrab dengan buku, sementara ruang untuk membaca, belajar, dan berkreasi bersama masih terbatas.

"Kami sebenarnya ingin membuat kegiatan yang bisa membuat anak-anak kembali gemar membaca. Budaya literasi sekarang memang semakin minim di tengah zaman yang serba digital," kenang Farel.

Keinginan mereka sederhana: menghadirkan tempat agar anak-anak dapat membaca, berdiskusi, bermain, dan belajar bersama. Namun, gagasan itu belum mudah diwujudkan. Forum Anak belum memiliki tempat maupun koleksi buku yang memadai, sementara kegiatan berkelanjutan membutuhkan dukungan yang tidak sedikit.

Sebelum LILAC hadir, Kecamatan Lirik juga belum memiliki fasilitas perpustakaan umum yang dapat menjadi ruang baca publik bagi masyarakat. Kebutuhan itulah yang semakin menguatkan keinginan para remaja untuk menghadirkan tempat belajar di luar sekolah.

Kesempatan muncul ketika Forum Anak berkolaborasi dengan Pertamina EP Field Lirik dalam kegiatan mewarnai yang melibatkan anak-anak dari berbagai sekolah. Seusai kegiatan, kedua pihak melakukan evaluasi. Dari diskusi itu, muncul gagasan untuk menghadirkan taman bacaan masyarakat.

"Kami melihat di Lirik belum ada perpustakaan atau tempat membaca yang bisa diakses anak-anak. Dari evaluasi itulah muncul gagasan membangun taman bacaan masyarakat," kenang Widya.

Gagasan tersebut kemudian menemukan jalan untuk diwujudkan. Pertamina dan Forum Anak membahas konsep rumah baca serta kegiatan yang dapat dijalankan. Forum Anak sepakat menjadi mitra binaan perusahaan, dengan anak-anak muda setempat sebagai penggerak kegiatan.

Salah satu langkah awalnya adalah memanfaatkan bangunan bekas studio radio milik Pertamina yang sudah tidak digunakan lagi. Bangunan tersebut dialihfungsikan menjadi ruang belajar dan pengembangan kapasitas anak-anak serta remaja.

Pemanfaatan bangunan itu memberi fungsi baru pada aset yang sebelumnya tidak produktif sekaligus menghadirkan fasilitas literasi yang dibutuhkan masyarakat. Dari proses inilah Lirik Literacy Center atau LILAC mulai diwujudkan. Namun tersedianya tempat belum menjamin kegiatan akan terus berjalan. LILAC membutuhkan pengelola yang mampu menjaga aktivitasnya tetap hidup.

1 p.jpeg
(Menjaga kelestarian lingkungan dengan tanam pohon di Taman Baca Masyarakat (TBM) LILAC/foto-istimewa)

Memilih Manusia, Menyalakan Perubahan
Untuk mengembangkan program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, Pertamina EP Field Lirik melakukan social mapping pada 2022. Pemetaan tersebut membantu perusahaan mengenali persoalan sosial sekaligus melihat potensi kelompok masyarakat yang dapat menjadi penggerak perubahan di sekitar wilayah operasinya.

Dalam proses itu, Forum Anak Kecamatan Lirik dinilai memiliki kepedulian dan semangat untuk mengembangkan kegiatan positif bagi anak-anak dan remaja. Kelompok ini juga memiliki kedekatan dengan kelompok sasaran sehingga berpeluang menjalankan kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Menurut Dela Ayu Puspita Dewi, penyediaan ruang literasi merupakan salah satu cara untuk memberi anak-anak dan remaja kesempatan mengembangkan diri melalui aktivitas yang positif.

"Kami berharap anak-anak dan remaja memiliki literasi yang cukup sehingga terhindar dari berbagai pengaruh negatif. Karena itu kami membuka ruang literasi sebagai ruang gerak yang positif bagi mereka," ujarnya.

Pertamina kemudian memilih memperkuat Forum Anak sebagai penggerak LILAC, bukan sekadar menyerahkan fasilitas untuk digunakan. Pilihan itu membuka ruang bagi para remaja untuk terlibat dalam pengelolaan program dan mengembangkan kemampuan mereka melalui pengalaman langsung.

"Karena itu kami memilih memberdayakan anggota Forum Anak sebagai penggerak LILAC sehingga yang dibangun bukan hanya fasilitas, tetapi juga sumber daya manusia yang mampu mengelola dan mengembangkan program secara berkelanjutan," kata Dela.

Peran tersebut memberi pengalaman baru bagi para anggota Forum Anak. Mereka belajar menyusun agenda, membagi tugas, berkomunikasi dengan berbagai pihak, dan bertanggung jawab atas kegiatan yang dijalankan. Rumah baca pun menjadi ruang pembelajaran organisasi dan kepemimpinan, selain tempat anak-anak mengenal buku.

Kepercayaan yang diberikan perusahaan turut menumbuhkan tanggung jawab di kalangan pengelola muda. Widya mengakui bahwa dukungan tersebut mendorong mereka untuk menjalankan kegiatan dengan lebih serius.

"Kami merasa harus bekerja lebih baik karena sudah difasilitasi Pertamina. Buat kami, itu bentuk rasa terima kasih atas kepercayaan yang diberikan," ujarnya.

Meski demikian, menjaga keterlibatan anggota bukan perkara mudah. Regenerasi menjadi tantangan ketika sebagian remaja memiliki kesibukan sekolah dan tidak banyak anak muda yang tertarik aktif dalam organisasi.

"Kami cukup kesulitan mencari anggota baru. Anak-anak sekarang lebih banyak sibuk dengan telepon genggam. Tapi kami sudah bertekad harus menjaga LILAC tetap berjalan," kata Widya.

Tantangan regenerasi memperlihatkan bahwa keberlanjutan LILAC bergantung pada kemampuan para penggeraknya untuk meneruskan pengelolaan program. Melalui pengalaman berorganisasi, mereka belajar memimpin, bekerja sama, dan menjaga agar kegiatan tetap relevan bagi anak-anak di lingkungannya.

Rumah Baca yang Terus Hidup
Perlahan, kepercayaan yang diberikan kepada anak-anak muda Lirik mulai menunjukkan hasilnya. Sejak diresmikan pada 6 September 2024, Lirik Literacy Center (LILAC) tidak berhenti sebagai bangunan dengan rak-rak buku. Tempat itu mulai menemukan denyut kehidupannya melalui berbagai aktivitas yang digerakkan Forum Anak Kecamatan Lirik.

Anak-anak datang bukan hanya untuk membaca. Mereka mendengarkan dongeng, menggambar, bermain permainan tradisional, mengikuti kelas berbagi, hingga belajar kepemimpinan dan kepedulian terhadap lingkungan. Rak buku menjadi pintu masuk, sementara berbagai kegiatan membuat mereka memiliki alasan untuk terus kembali.

Bagi Widya Dwi Rahma Putri, sejak awal Forum Anak memang ingin menjadikan LILAC lebih dari sekadar tempat membaca.

"Kami melihat minat literasi anak-anak di Lirik masih minim. Karena itu kami ingin mereka tidak hanya membaca, tetapi juga menulis, membuat puisi, berpantun, bermain permainan tradisional, atau melakukan kegiatan positif lainnya daripada terus-menerus bermain telepon genggam," ujarnya.

Keinginan itu kemudian diuji melalui kegiatan-kegiatan sederhana. Salah satunya kelas membaca dan menggambar yang dibuka secara gratis bagi anak-anak. Widya masih mengingat antusiasme peserta ketika kegiatan tersebut dimulai.

"Banyak yang bertanya, 'Kak, ini gratis ya? Kalau gratis saya mau ikut.' Mereka senang karena bisa belajar, menggambar, dan bermain tanpa dipungut biaya. Respons seperti itu membuat kami merasa perjuangan membangun LILAC tidak sia-sia," kenangnya.

Dari kegiatan-kegiatan kecil itulah LILAC perlahan menjadi ruang yang dikenal anak-anak. Forum Anak kemudian membawa aktivitas tersebut ke sekolah-sekolah dan berbagai kegiatan masyarakat.

"Di sekolah-sekolah maupun saat AMK Fest 2026, anak-anak senang sekali ikut kegiatan kami. Mereka bisa membaca, menggambar, bermain, dan belajar bersama. Itu membuat kami yakin LILAC memang dibutuhkan," kata Widya.

Aktivitas di LILAC juga diperkuat melalui kolaborasi dengan Pertamina. Salah satunya melalui program Pertamina Mengajar. Para Perwira Pertamina hadir di sekolah-sekolah untuk berbagi pengalaman dan mengajak anak-anak melihat lebih jauh kemungkinan masa depan yang dapat mereka raih.

Kolaborasi itu membuat kegiatan literasi tidak berhenti pada buku. Anak-anak memperoleh pengalaman belajar dari berbagai sumber, sementara para penggerak muda Forum Anak mendapat ruang untuk terus mengembangkan kegiatan sesuai kebutuhan anak-anak di lingkungannya.

Dampaknya mulai dirasakan oleh sekolah. Kepala SMAN 1 Lirik, Abdi Mulia, S.Pd., menilai kehadiran LILAC melengkapi ruang literasi yang tersedia di sekolah. "Kalau di sekolah koleksi bukunya lebih banyak buku pelajaran, tapi di LILAC anak-anak bisa menemukan bacaan yang lebih beragam sesuai minat dan hobinya. Itu membuat mereka lebih termotivasi untuk membaca," ujarnya.

Menurut Abdi, keberadaan LILAC juga memberi manfaat bagi masyarakat karena menghadirkan alternatif ruang belajar yang lebih santai. Lokasinya yang berada di kawasan ruang terbuka hijau membuat anak-anak dapat membaca dan mengikuti kegiatan dalam suasana yang berbeda dari ruang kelas.

Namun, bagi Forum Anak, keberhasilan LILAC tidak semata-mata diukur dari banyaknya kegiatan yang digelar. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan ruang tersebut tetap hidup ketika dukungan dari luar tidak selalu hadir.

Di sinilah makna kepercayaan yang diberikan sejak awal kembali menemukan relevansinya. Anak-anak muda yang semula hanya memiliki kegelisahan tentang minimnya ruang literasi kini memiliki tanggung jawab untuk menjaga agar gagasan itu terus berjalan.

Dela Ayu Puspita Dewi mengatakan bahwa rasa memiliki menjadi salah satu kunci agar program pemberdayaan tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat.

"Ketika masyarakat menjadi penggerak, program akan lebih mudah berkembang dan berkelanjutan," ujarnya.  

Di Lirik, Pertamina telah membuka ruangnya sementara anak-anak muda Forum Anak menghidupkannya melalui kegiatan yang mereka jalankan bersama anak-anak.

3 p.jpeg
(Menjaga pelestarian permainan anak tradisional bakiak/foto-istimewa)

Dari Literasi Menuju Keberlanjutan
Perkembangan LILAC terlihat dari pertumbuhan kelompok yang mengelolanya. Data program menunjukkan bahwa kepengurusan yang pada tahap awal berjumlah lima orang kini telah berkembang menjadi 44 pengurus aktif dari kalangan pelajar SMA.

Pertambahan itu membuka lebih banyak kesempatan bagi anak-anak muda untuk terlibat dalam pengelolaan kegiatan. Mereka belajar membagi tanggung jawab, menyusun agenda, dan bekerja dalam organisasi.

Namun, jumlah pengurus saja belum cukup untuk memastikan keberlanjutan program. Regenerasi tetap diperlukan agar pengalaman dan pengetahuan tidak berhenti ketika pengurus lama melanjutkan pendidikan atau meninggalkan bangku sekolah.

Dari sisi fasilitas, LILAC kini memiliki lebih dari 300 koleksi buku dan telah menjangkau sedikitnya lima sekolah. Kegiatan literasi juga dipadukan dengan pendidikan lingkungan melalui aksi penghijauan. Dengan demikian, ruang belajar tersebut tidak hanya memperkenalkan anak-anak pada bacaan, tetapi juga memberi kesempatan untuk mengenal lingkungan di sekitarnya.

Upaya tersebut mendapat pengakuan dalam ajang Bisnis Indonesia Social Responsibility Awards (BISRA) 2025. LILAC meraih penghargaan Silver pada kategori peningkatan literasi masyarakat. Penghargaan ini menjadi salah satu penanda bahwa program yang dikembangkan di Lirik memperoleh perhatian di luar lingkungan pelaksanaannya.

Meski begitu, penghargaan bukanlah tujuan akhir bagi Widya dan para relawan Forum Anak. Yang lebih penting bagi mereka adalah memastikan rumah baca tetap terbuka dan kegiatan terus berjalan, sehingga anak-anak masih memiliki ruang untuk membaca, belajar, dan bermain bersama.

Sementara bagi perusahaan yang beroperasi di wilayah penghasil minyak bumi, program seperti LILAC memperlihatkan sisi lain dari upaya membangun keberlanjutan. Selain kegiatan yang berkaitan langsung dengan industri energi, pengembangan kapasitas masyarakat di sekitar wilayah operasi juga menjadi bagian dari perhatian sosial.

LILAC mengambil bagian melalui jalur literasi dan pemberdayaan pemuda. Program ini tidak menghasilkan minyak bumi, tetapi membuka kesempatan bagi anak-anak dan remaja untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, serta pengalaman berorganisasi yang berguna bagi masa depan mereka.

Pendekatan tersebut beririsan dengan dimensi sosial dalam kerangka Environmental, Social, and Governance (ESG), khususnya pada dukungan terhadap akses pendidikan dan pengembangan kapasitas masyarakat. Kegiatannya juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama Tujuan 4 tentang Pendidikan Berkualitas.

Meski demikian, jumlah buku, pengurus, sekolah yang dijangkau, dan penghargaan perlu dibedakan dari dampak jangka panjang. Data tersebut menunjukkan perkembangan program, sedangkan perubahan pada kemampuan anak-anak, kualitas pengelolaan, dan keberlanjutan organisasi perlu terus diamati dan dibuktikan.

Bagi LILAC, salah satu ujian penting ke depan adalah kemampuan pengurus baru untuk meneruskan kegiatan ketika generasi sebelumnya berganti. Jika rumah baca tetap aktif, kegiatan berkembang sesuai kebutuhan, dan anak-anak terus memanfaatkannya, upaya pemberdayaan itu akan memiliki pijakan yang lebih kuat untuk bertahan.

Sore mulai turun di kawasan Wisata Alam Lirik. Satu per satu anak melangkah pulang sambil memeluk buku pinjaman di dada. Tawa yang sejak pagi memenuhi rumah baca perlahan menghilang. Widya merapikan buku-buku yang tersisa, memastikan tidak ada yang tercecer di lantai.

Sebelum menutup pintu, ia kembali memandang ruang yang telah menjadi bagian dari kesehariannya. Perjalanan yang bermula dari kegelisahan sederhana kini memberinya dan rekan-rekannya kesempatan untuk menjaga sebuah ruang belajar bagi anak-anak di Lirik.

Di Kecamatan Lirik, tempat yang selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil minyak bumi, energi perubahan hadir dalam bentuk yang berbeda: anak-anak yang menemukan kesenangan dalam membaca dan anak-anak muda yang bersedia menjaga pintu rumah baca tetap terbuka. 

Sumur-sumur minyak mungkin suatu hari berhenti berproduksi. Namun, pengetahuan dapat terus berpindah dari satu anak kepada anak lainnya, dari satu buku ke pikiran yang lain, dan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Karena minyak memiliki batas. Pengetahuan tidak. Semoga! (*)

Penulis: Andy
Editor: Riki


Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa/rilis atau ingin berbagi foto?
Silakan SMS ke 0813 7176 0777
via EMAIL: redaksi@halloriau.com
(mohon dilampirkan data diri Anda)


BERITA LAINNYA    
Ketua DPW Aliansi Merah Putih, Eko Wibowo (foto/ist)Seleksi CPNS 2027, Pemerintah Pusat Diharapkan Beri Afirmasi Usia Guru PPPK Penuh Waktu
Ist.BKawan BRK Syariah Dekatkan Layanan Keuangan ke Masyarakat Kepulauan Karimun
Tersangka SS saat diamankan di Mapolres Pelalawan.(foto: andi/halloriau.com)Diduga 4 Kali Cabuli Bocah, Seorang Karyawan di Pangkalan Kuras Dibui
Wakil Bupati Pelalawan, Husni Thamrin meninjau kesiapan personel Satlantas Polres Pelalawan.(foto: andi/halloriau.com)Bukan Sekadar Tilang, Ini Fokus Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 di Pelalawan
Tim FP GCN RPP melakukan pelatihan cara penggunaan dan jenis-jenis APAR serta pembuatan jalur evakuasi darurat kepada Tenaga Pengajar dan Peserta Didik SDN 02 Desa Kudap.GCN Latih Guru SDN 02 Kudap Gunakan APAR untuk Antisipasi Kebakaran
  Skuad PSPS Pekanbaru.(foto: mcr)PSPS Pekanbaru Gugat Denda Rp20 Juta dari PSSI, Ini Alasan Keberatannya
Marc Marquez.(foto: int)Marc Marquez Unggul 10 Poin, Tardozzi Ingatkan Ancaman Martin dan Bezzecchi
Wakil Ketua DPRD Pekanbaru, Tengku Azwendi Fajri.(foto: int)Jalan Rusak dan Banjir Prioritas APBD Pekanbaru 2027, Ini Program Lain yang Disiapkan
Sebaran titik panas di Sumatera sore ini.(foto: infografis/halloriau.com)Hujan Seharian, Riau Nihil Hotspot! BMKG Catat 108 Titik Panas di Sumatera Sore Ini
Honda Bikers Day 2026 di Ambarawa diikuti 32.214 bikers dari seluruh Indonesia. 32.214 Bikers Honda Satukan Semangat Persaudaraan dalam Honda Bikers Day 2026
Komentar Anda :

 
 
 
Potret Lensa
Pengumuman dan Penyerahan Penghargaan LKJ Raja Ali Kelana 2026
 
 
Eksekutif : Pemprov Riau Pekanbaru Dumai Inhu Kuansing Inhil Kampar Pelalawan Rohul Bengkalis Siak Rohil Meranti
Legislatif : DPRD Pekanbaru DPRD Dumai DPRD Inhu DPRD Kuansing DPRD Inhil DPRD Kampar DPRD Pelalawan DPRD Rohul
DPRD Bengkalis DPRD Siak DPRD Rohil DPRD Meranti
     
Management : Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik Wartawan | Visi dan Misi
    © 2010-2026 PT. METRO MEDIA CEMERLANG (MMC), All Rights Reserved