PEKANBARU - Kabut asap yang menyelimuti Kota Pekanbaru pada Selasa (6/10/2026) tidak berasal dari kebakaran lahan baru di dalam kota.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pekanbaru memastikan hingga hari ini tidak ditemukan titik panas atau hotspot baru.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak serta-merta membuat persoalan asap di Pekanbaru berakhir.
Asap kiriman dari sejumlah daerah tetap berdampak terhadap kualitas udara di ibu kota Provinsi Riau.
Berdasarkan pemantauan laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kualitas udara Pekanbaru berada pada kategori sangat tidak sehat.
Plt Kalaksa BPBD Kota Pekanbaru, Martin Manoluk menegaskan, pihaknya masih memantau potensi munculnya kebakaran baru, terutama di kawasan yang memiliki kerawanan terhadap kebakaran lahan.
"Untuk hotspot atau titik api di Kota Pekanbaru masih nihil, kami memastikan tidak ada titik api baru," tegas Martin.
Kondisi ini menunjukkan, persoalan kabut asap yang dirasakan warga Pekanbaru tidak selalu identik dengan munculnya kebakaran di dalam wilayah kota.
Pergerakan asap dari daerah lain tetap dapat memengaruhi kualitas udara, sehingga pemantauan tidak cukup hanya dilakukan terhadap wilayah administratif Pekanbaru.
BPBD pun terus mengerahkan tim untuk melakukan patroli di sejumlah kawasan rawan kebakaran.
Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mendeteksi sedini mungkin apabila muncul titik api baru.
"Apabila nanti ada muncul titik api baru, tentu kita bakal melakukan langkah antisipasi agar kebakaran tidak meluas," ujarnya.
Meski saat ini tidak ada penambahan luas lahan terbakar, catatan penanganan kebakaran lahan di Pekanbaru sepanjang Januari hingga September 2026 menunjukkan persoalan karhutla masih serius.
BPBD bersama aparat gabungan sebelumnya menangani 196 titik kebakaran lahan yang tersebar di 14 kecamatan. Total luas lahan yang terdampak mencapai 106,8 hektare.
Angka tersebut menjadi catatan penting di tengah memburuknya kualitas udara. Nihilnya hotspot baru saat ini belum berarti risiko kebakaran lahan sepenuhnya hilang.
"Kebakaran lahan yang kami tangani memang sempat meluas hingga September lalu, namun untuk saat ini nihil penambahan luas lahan terbakar," jelas Martin.
Karena itu, kewaspadaan tetap diperlukan. Kebakaran lahan yang terlambat diketahui berpotensi meluas dan kembali memperburuk persoalan asap di Pekanbaru.
BPBD meminta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran lahan. Respons cepat diperlukan agar api tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
"Kami juga mengimbau warga agar tidak membuka lahan dengan cara membakar," pungkasnya.