PEKANBARU – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mendeteksi sebanyak 240 titik panas (hotspot) yang tersebar di sejumlah wilayah di Pulau Sumatera pada Minggu (1/11/2026).
Dari jumlah tersebut, Provinsi Riau menyumbang 11 titik panas yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota. Kondisi ini menjadi perhatian di tengah potensi meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Petugas BMKG Stasiun Pekanbaru, Yudhistira Mawaddah, mengatakan berdasarkan pemantauan terbaru, Sumatera Selatan menjadi provinsi dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni mencapai 118 titik.
"Secara keseluruhan, terpantau sebanyak 240 titik panas di wilayah Sumatera. Sebaran terbanyak berada di Sumatera Selatan dengan 118 titik, disusul Bangka Belitung sebanyak 43 titik dan Jambi sebanyak 39 titik," ujarnya.
Sementara itu, provinsi lainnya yang terpantau memiliki titik panas yakni Lampung 18 titik, Bengkulu 4 titik, Aceh 3 titik, Sumatera Utara 3 titik, serta Sumatera Barat 1 titik.
Untuk Provinsi Riau, sebanyak 11 titik panas terdeteksi di tujuh kabupaten dan kota.
Kabupaten Indragiri Hilir menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak di Riau, yakni tiga titik. Selanjutnya, Kabupaten Pelalawan dan Kota Dumai masing-masing dua titik.
Sementara itu, Kabupaten Bengkalis, Rokan Hilir, Siak, dan Indragiri Hulu masing-masing terpantau satu titik panas.
Yudhistira mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah yang terpantau memiliki titik panas.
"Masyarakat diharapkan tidak melakukan pembakaran lahan, baik untuk membuka kebun maupun membersihkan area pertanian. Selain itu, segera laporkan kepada petugas apabila menemukan indikasi kebakaran hutan dan lahan," imbaunya.
Keberadaan titik panas merupakan salah satu indikator awal yang perlu diwaspadai. Namun, tidak seluruh titik panas dipastikan sebagai kebakaran karena masih memerlukan verifikasi lebih lanjut di lapangan.