PEKANBARU – Sebaran titik panas atau hotspot di Pulau Sumatera mencapai 2.084 titik pada Minggu (25/10/2026) pagi.
Dari jumlah tersebut, Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan konsentrasi tertinggi, sedangkan Provinsi Riau tercatat hanya memiliki satu titik panas yang terdeteksi di Kota Dumai.
Data yang disampaikan Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Yudhistira menunjukkan, Sumatera Selatan menyumbang 1.452 titik panas.
"Jumlah itu setara dengan sekitar 69,7 persen dari total hotspot yang terpantau di Sumatera," ucapnya.
Besarnya konsentrasi tersebut memperlihatkan bahwa persebaran hotspot di Sumatera tidak merata.
Sebagian besar titik terkumpul di Sumatera Selatan, sementara provinsi lain mencatat jumlah yang jauh lebih rendah.
Di tengah tingginya angka tersebut, Riau berada pada posisi yang relatif rendah berdasarkan pemantauan pagi itu.
Meski demikian, temuan satu hotspot di Dumai tetap perlu diperhatikan karena jumlah titik panas yang terdeteksi tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator untuk menyimpulkan tingkat risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Setelah Sumatera Selatan, Jambi mencatat 199 titik panas, disusul Bangka Belitung sebanyak 210 titik dan Lampung sebanyak 216 titik.
Sementara itu, Bengkulu terpantau memiliki empat titik panas. Aceh dan Sumatera Utara masing-masing mencatat satu titik.
Rendahnya jumlah hotspot di Riau berdasarkan pemantauan pagi ini menjadi informasi penting, tetapi tidak serta-merta memastikan seluruh wilayah terbebas dari ancaman karhutla.
Hotspot merupakan indikasi anomali suhu yang terdeteksi melalui pengamatan satelit. Data tersebut perlu dibaca bersama informasi tingkat kepercayaan deteksi, kondisi cuaca, kelembapan, curah hujan, serta hasil pemeriksaan langsung di lapangan untuk memastikan ada atau tidaknya kebakaran.