PEKANBARU - Pulau Sumatera kembali berada dalam fase kritis ancaman lingkungan. Berdasarkan pantauan terbaru radar Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru, bahaya Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) mengganas dengan terdeteksinya 2.253 titik panas (hotspot) yang mengepung daratan Sumatera pada Sabtu (5/9/2026) sore.
Alih-alih mereda, eskalasi kemunculan titik panas justru menunjukkan lonjakan yang mengkhawatirkan.
Provinsi Sumatera Selatan kini menjadi episentrum krisis darurat dengan sumbangan angka fantastis mencapai 1.379 titik.
Sementara itu, Provinsi Riau dipaksa menyalakan alarm siaga tinggi menyusul temuan 191 titik panas yang mengepung 10 wilayah kabupaten dan kota.
"Total titik panas wilayah Sumatera pada Sabtu sore ini menembus 2.253 titik. Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan konsentrasi tertinggi, sementara Riau juga harus meningkatkan kewaspadaan dengan terdeteksinya 191 titik," tegas Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Yasir.
Jika dibedah lebih dalam, ancaman api di Bumi Lancang Kuning tidak tersebar merata, melainkan mengancam serius wilayah selatan dan pesisir timur yang secara geografis didominasi lahan gambut kering.
Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) kini menjadi wilayah paling membara di Riau dengan 76 titik panas, disusul ketat oleh wilayah rawan lainnya yakni Indragiri Hilir (Inhil) sebanyak 42 titik, dan Kabupaten Siak dengan 38 titik.
Sisa titik panas di Riau tersebar secara sporadis di Kabupaten Kepulauan Meranti 9 titik, Kota Dumai 7 titik, Bengkalis 5 titik, Rokan Hulu 5 titik, Kuantan Singingi 4 titik, Pelalawan 4 titik, dan Rokan Hilir 1 titik.
Tingginya angka di kawasan gambut ini menuntut langkah mitigasi proaktif dan respons cepat dari Satgas Karhutla sebelum status hotspot bertransformasi menjadi titik api (firespot) yang memicu bencana kabut asap lintas provinsi.
Selain Sumsel dan Riau, ancaman Karhutla juga mengintai beberapa provinsi lain yang menyumbang angka signifikan, di antaranya Bangka Belitung 200 titik, Jambi 188 titik, dan Lampung 145 titik.
Kepulauan Riau menyusul dengan 55 titik, Sumatera Barat 39 titik, Aceh 11 titik, dan Sumatera Utara yang relatif lebih aman dengan 9 titik.
Masyarakat dan pihak korporasi diimbau untuk menghentikan total aktivitas pembersihan lahan dengan cara dibakar, mengingat cuaca terik dan minimnya curah hujan berpotensi membuat api lepas kendali dalam hitungan jam.