PEKANBARU - Upaya mengatasi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Riau terus diperkuat.
Tim Satgas Udara kembali mengintensifkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan menyemai tiga ton garam untuk memicu pertumbuhan awan dan meningkatkan peluang turunnya hujan.
Kalaksa BPBD dan Damkar Riau, Edy Afrizal melalui Kabid Kedaruratan Jim Gafur mengatakan, penyemaian dilakukan dalam tiga sortie penerbangan pada Rabu (26/8/2026).
“OMC hari ini dilaksanakan tiga sortie penyemaian,” kata Jim.
Menurut dia, penerbangan pertama diarahkan ke wilayah Siak dan Bengkalis. Sortie kedua menyasar Pekanbaru, Siak, dan Kampar.
Sementara penerbangan ketiga dilakukan dengan fokus penyemaian di Pelalawan dan Indragiri Hilir.
Material yang digunakan dalam operasi tersebut berupa garam atau natrium klorida (NaCl).
Material ini disemai ke dalam sistem awan dengan harapan dapat membantu proses pembentukan dan pertumbuhan awan sehingga peluang terjadinya hujan di wilayah sasaran meningkat.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi penanganan karhutla, terutama ketika kabut asap masih menyelimuti sejumlah kawasan di Riau.
Hujan yang diharapkan dari pelaksanaan OMC tidak hanya berpotensi membantu mengurangi konsentrasi asap di udara, tetapi juga dapat mendukung upaya pemadaman dan pembasahan lahan yang terdampak kebakaran.
“OMC ini merupakan salah satu upaya untuk membantu penanganan karhutla, terutama dengan mendorong turunnya hujan di wilayah-wilayah yang menjadi sasaran penyemaian,” ujar Jim.
Dengan tambahan tiga ton garam yang disebar melalui tiga sortie tersebut, akumulasi material yang telah digunakan dalam rangkaian OMC di Riau kini mencapai 33 ton.
Intensifikasi OMC dilakukan di tengah kondisi kabut asap yang kembali menjadi perhatian di sejumlah daerah.
Pemerintah daerah bersama unsur terkait terus mengandalkan berbagai langkah penanganan karhutla, sementara operasi udara diarahkan untuk meningkatkan peluang hujan di kawasan yang membutuhkan.
Keberhasilan OMC sangat bergantung pada keberadaan dan karakteristik awan yang memenuhi syarat untuk dilakukan penyemaian.
Karena itu, penerbangan dan wilayah penyemaian disesuaikan dengan kondisi atmosfer serta potensi awan yang terpantau.