PEKANBARU – Lembaga Pengkajian Islam dan Peradaban (LPIP) menggelar Diskusi LPIP Seri ke-38 dengan mengangkat tema "Masa Depan Pendidikan Islam: Inovasi, Moderasi, dan Penguatan Karakter" di Gedung Islamic Riau Global Terpadu (IRGT Hall), Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru, Sabtu (1/8/2026).
Diskusi yang diikuti puluhan tokoh, akademisi, dan praktisi pendidikan tersebut menghadirkan lima narasumber, yakni Ketua LPIP Prof. Dr. Alaiddin Koto, MA, Anggota DPR RI Dr. Achmad, M.Si, Direktur Politeknik BBC sekaligus Diaspora Indonesia Prof. Dr. Jaswar Koto, Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Riau yang juga Rektor Universitas Lancang Kuning (Unilak) Prof. Dr. Junaidi, M.Si, serta Pendiri Islamic Riau Global Terpadu (IRGT), H. Jasman Jaiman, M.Ed.
Sejumlah tokoh turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Pakar Hukum Universitas Islam Riau (UIR) Dr. Husnu Abadi, Ketua ICMI Riau drg. Burhanudin Agung, mantan Sekretaris Daerah Provinsi Riau Ahmad Hijazi, Prof. Afrizal, serta sejumlah akademisi dan praktisi pendidikan lainnya.
Kegiatan diawali dengan pembacaan puisi berjudul "Kupu-kupu dalam Buku" karya Taufiq Ismail oleh budayawan Riau sekaligus pakar hukum UIR, Dr. Husnu Abadi. Pembacaan puisi berlangsung khidmat dan mendapat apresiasi dari peserta yang hadir.
Pendiri IRGT, Jasman Jaiman, mengatakan tema yang diangkat dalam diskusi kali ini dinilai relevan dengan pengembangan program pendidikan yang tengah dirancang lembaganya.
Menurutnya, inovasi dan moderasi menjadi bagian penting dalam menghadapi tantangan pendidikan Islam di masa mendatang.
Sementara itu, Sekretaris LPIP, Dian Eka Putra, menjelaskan bahwa LPIP telah berdiri selama 13 tahun dan secara konsisten menyelenggarakan forum diskusi sebagai ruang pertukaran gagasan.
Ia menyebutkan, hingga saat ini LPIP telah menggelar 38 kali diskusi di berbagai daerah, bahkan sebelumnya Diskusi LPIP ke-37 dilaksanakan di Perlis, Malaysia.
"LPIP sudah melaksanakan 38 kali diskusi. Sebelumnya diskusi ke-37 dilaksanakan di Perlis, Malaysia, dan selanjutnya Diskusi LPIP ke-39 direncanakan berlangsung di Dumai dengan menghadirkan peserta dari empat negara," ujarnya.
Menurut Dian, LPIP merupakan organisasi independen yang terbuka bagi seluruh kalangan dalam mendorong lahirnya pemikiran dan solusi terhadap berbagai persoalan umat dan pendidikan.
Kepala Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Riau Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Riski Bestari, berharap hasil diskusi tersebut dapat menjadi masukan bagi pengembangan dunia pendidikan, khususnya dalam peningkatan kualitas tenaga pendidik.
Ketua LPIP, Prof. Dr. Alaiddin Koto, menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber dan peserta yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
Menurutnya, para pembicara berasal dari berbagai latar belakang sehingga diharapkan mampu memberikan pandangan yang komprehensif mengenai masa depan pendidikan Islam.
Ia juga menyoroti beban administrasi yang masih dihadapi para guru sehingga dinilai mengurangi fokus dalam menjalankan tugas utama sebagai pendidik.
"Mudah-mudahan melalui diskusi ini lahir solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi dunia pendidikan saat ini," katanya.
Sementara itu, Anggota DPR RI, Dr. Achmad, lebih menyoroti pentingnya penguatan karakter peserta didik, khususnya karakter keislaman.
Ia menilai pembentukan karakter harus menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan pendidikan.
Selain itu, ia juga menyinggung perbedaan alokasi anggaran antara pendidikan umum dan pendidikan Islam dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Saat ini anggaran pendidikan umum sekitar Rp600 triliun, sementara anggaran pendidikan Islam dalam APBN sekitar Rp69 triliun," ujarnya.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pandangan dan masukan dari para narasumber maupun peserta. Forum tersebut diharapkan dapat melahirkan rekomendasi yang berkontribusi terhadap pengembangan pendidikan Islam yang adaptif, moderat, dan berkarakter di Indonesia.(Rls)