PEKANBARU - Aktivitas titik panas atau *hotspot* kembali terpantau di sejumlah wilayah Sumatera pada Selasa (21/7/2026) sore.
Data pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru mencatat sebanyak 110 titik panas tersebar di delapan provinsi.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Yudhistira mengatakan, sebaran hotspot paling banyak terpantau di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan 41 titik. Posisi berikutnya ditempati Sumatera Selatan dengan 29 titik.
"Total titik panas (hotspot) wilayah Sumatera, Selasa (21/7/2026) sore ada 110 titik," kata Yudhistira.
Sementara itu, Provinsi Riau berada di urutan berikutnya dengan 14 titik panas.
Sebaran hotspot di Riau terkonsentrasi di empat wilayah, dengan Kabupaten Bengkalis menjadi daerah yang mencatat jumlah terbanyak.
Berdasarkan data BMKG Pekanbaru, rincian hotspot di Riau terdiri dari Kabupaten Bengkalis 11 titik, Kabupaten Siak 1 titik, Kabupaten Indragiri Hilir 1 titik dan Kota Dumai 1 titik.
Adapun provinsi lain yang turut terpantau memiliki titik panas yakni Aceh sebanyak 7 titik, Jambi 6 titik, Lampung 6 titik, Sumatera Barat 5 titik, serta Bengkulu 2 titik.
Jika dijumlahkan, seluruh wilayah yang terpantau mencatat 110 titik panas, dengan konsentrasi terbesar berada di Kepulauan Bangka Belitung dan Sumatera Selatan.
Di Riau, dominasi hotspot berada di Kabupaten Bengkalis yang menyumbang 11 dari total 14 titik panas.
Data tersebut menunjukkan bahwa Kabupaten Bengkalis menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi di Riau pada pemantauan Selasa sore.
Jumlahnya mencapai hampir 80 persen dari total titik panas yang terdeteksi di provinsi tersebut.
Kondisi ini menjadi salah satu indikator yang perlu mendapat perhatian dalam pemantauan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama ketika titik panas muncul secara berulang dan berada di kawasan yang memiliki potensi bahan bakar mudah terbakar.
Meski demikian, keberadaan hotspot dari hasil pemantauan satelit tidak serta-merta menunjukkan adanya kebakaran hutan dan lahan.
Data tersebut tetap membutuhkan verifikasi lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya.
Dengan adanya 14 titik panas yang tersebar di Bengkalis, Siak, Indragiri Hilir, dan Dumai, perkembangan kondisi di lapangan menjadi penting untuk terus dipantau, khususnya terhadap kemungkinan munculnya titik api baru.