PEKANBARU - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru kembali melaporkan perkembangan titik panas (hotspot) di Pulau Sumatera.
Hingga Sabtu (27/6/2026) sore, terpantau sebanyak 144 hotspot yang tersebar di berbagai provinsi, menjadi indikator yang perlu diwaspadai terkait potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Yudhistira menyampaikan, Provinsi Sumatera Selatan masih menjadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak, disusul Jambi, Bangka Belitung, dan Riau.
"Total titik panas (hotspot) di wilayah Sumatera pada Sabtu sore terpantau sebanyak 144 titik," ujar Yudhistira.
Berdasarkan data BMKG, rincian sebaran hotspot di Pulau Sumatera meliputi Sumatera Selatan 50 titik, Jambi 29 titik, Bangka Belitung 17 titik, Riau 16 titik dan Lampung 13 titik.
Kemudian, Sumatera Barat 8 titik, Bengkulu 7 titik, Aceh 3 titik dan Sumatera Utara 1 titik.
Sementara itu, dari total 16 hotspot di Provinsi Riau, sebarannya berada di tujuh kabupaten dan kota.
Kabupaten Indragiri Hulu menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni empat titik.
Rincian sebaran 16 titik panas di Riau sore ini meliputi, Kabupaten Indragiri Hulu 4 titik, Kabupaten Pelalawan 3 titik, Kabupaten Kuantan Singingi 2 titik dan Kabupaten Rokan Hulu 2 titik.
Kemudian, Kabupaten Siak 2 titik, Kabupaten Indragiri Hilir 1 titik, Kota Dumai 1 titik dan Kota Pekanbaru 1 titik.
Data hotspot yang dirilis BMKG menjadi salah satu parameter awal untuk mendeteksi potensi munculnya kebakaran hutan dan lahan.
Meski demikian, tidak seluruh titik panas dipastikan sebagai lokasi kebakaran sehingga tetap memerlukan verifikasi lebih lanjut di lapangan.
Masyarakat, khususnya di wilayah yang memiliki titik panas, diimbau tetap meningkatkan kewaspadaan serta menghindari aktivitas pembakaran lahan yang dapat memicu karhutla, terutama saat kondisi cuaca mendukung penyebaran api.