PEKANBARU – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru kembali merilis perkembangan terbaru kondisi titik panas (hotspot) di Pulau Sumatera.
Hingga Kamis (9/7/2026) sore, terpantau sebanyak 108 hotspot tersebar di berbagai provinsi, termasuk 12 titik yang berada di wilayah Provinsi Riau.
Data tersebut menunjukkan aktivitas titik panas masih perlu diwaspadai sebagai salah satu indikator awal potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di daerah yang memasuki musim kemarau.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Yasir mengatakan, hasil pemantauan satelit mencatat sebaran hotspot di hampir seluruh wilayah Sumatera.
"Total titik panas (hotspot) di wilayah Sumatera pada Kamis sore mencapai 108 titik. Untuk Provinsi Riau terpantau sebanyak 12 titik panas," ujar Yasir.
Berdasarkan data BMKG, Sumatera Utara menjadi provinsi dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 21 titik, disusul Sumatera Selatan 20 titik, Lampung 19 titik, Bangka Belitung 15 titik, Aceh 14 titik, dan Riau 12 titik.
Sementara Kepulauan Riau terpantau tiga titik, Sumatera Barat dua titik, Jambi satu titik, serta Bengkulu satu titik.
Di Provinsi Riau, sebaran hotspot paling banyak berada di Kota Dumai dengan empat titik.
Selanjutnya Kabupaten Siak terpantau tiga titik, Kabupaten Rokan Hilir dua titik, Kabupaten Kuantan Singingi dua titik, dan Kabupaten Pelalawan satu titik.
"Sebaran hotspot di Riau meliputi Kabupaten Rokan Hilir dua titik, Siak tiga titik, Kuantan Singingi dua titik, Pelalawan satu titik, dan Kota Dumai empat titik," jelas Yasir.
BMKG mengingatkan bahwa hotspot merupakan indikator awal yang memerlukan pemantauan lebih lanjut.
Keberadaan titik panas belum tentu menunjukkan telah terjadi kebakaran, namun dapat menjadi sinyal meningkatnya potensi karhutla apabila didukung kondisi cuaca yang kering dan minim curah hujan.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembakaran lahan serta segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.