PEKANBARU – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 236 titik panas (hotspot) terdeteksi di wilayah Sumatera. Dari jumlah tersebut, Provinsi Riau menyumbang 13 titik panas yang seluruhnya berada di Kabupaten Rokan Hilir.
Petugas BMKG Stasiun Pekanbaru, Sanya Gautami, mengatakan kemunculan titik panas tersebut menjadi indikator yang perlu diwaspadai karena berpotensi berkaitan dengan aktivitas pembakaran lahan maupun kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Berdasarkan pemantauan terbaru, terdapat 236 titik panas di Pulau Sumatera. Untuk Provinsi Riau terdeteksi 13 titik panas dan seluruhnya berada di Kabupaten Rokan Hilir,” ujar Sanya Gautami.
Data BMKG menunjukkan Aceh menjadi provinsi dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 65 titik. Disusul Sumatera Selatan sebanyak 49 titik, Sumatera Barat 31 titik, Bengkulu 20 titik, Sumatera Utara 20 titik, Bangka Belitung 20 titik, serta Riau 13 titik.
Sementara itu, Jambi dan Lampung masing-masing mencatat sembilan titik panas.
Menurut Sanya, pemantauan hotspot terus dilakukan secara intensif sebagai langkah deteksi dini terhadap potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan, terutama memasuki periode cuaca yang mendukung meningkatnya risiko kebakaran.
“Informasi hotspot ini menjadi bagian dari sistem peringatan dini. Kami terus melakukan pemantauan dan koordinasi dengan pihak terkait untuk mengantisipasi potensi karhutla,” katanya.
Dengan seluruh titik panas di Riau terkonsentrasi di Kabupaten Rokan Hilir, wilayah tersebut menjadi perhatian khusus dalam upaya pencegahan dan penanganan dini kebakaran hutan dan lahan. Masyarakat juga diimbau untuk tidak melakukan pembakaran lahan serta segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran di lingkungan sekitar.