PEKANBARU – Luas kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Provinsi Riau sepanjang Januari hingga April 2026 mencapai 14.854,9 hektare. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan periode yang sama pada 2023 yang hanya tercatat 1.099 hektare.
Meski demikian, luas Karhutla tahun ini masih berada di bawah periode El Nino kuat tahun 2019 yang mencapai 26.375,2 hektare.
Data tersebut merupakan hasil analisa citra satelit kerja sama Kementerian Kehutanan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Kementerian Lingkungan Hidup.
Kabupaten Bengkalis menjadi wilayah dengan luas Karhutla terbesar di Riau selama Januari hingga April 2026, yakni mencapai 8.060,9 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 7.843,9 hektare berada di lahan gambut dan 217 hektare di lahan mineral.
Posisi kedua ditempati Kabupaten Pelalawan dengan luas lahan terbakar mencapai 4.470,1 hektare, yang juga didominasi kawasan gambut seluas 4.273,6 hektare.
Sementara itu, Kabupaten Indragiri Hilir mencatat luas Karhutla sebesar 819,6 hektare dan Kota Dumai mencapai 550,5 hektare.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan data tersebut diperoleh melalui analisa citra satelit lintas lembaga yang membandingkan periode Januari-April pada tahun-tahun dengan fenomena El Nino.
“Data ini disampaikan berdasarkan analisa citra satelit kerja sama Kementerian Kehutanan, BRIN dan Kementerian Lingkungan Hidup. Periode yang dibandingkan adalah Januari-April pada tahun-tahun yang sama-sama mengalami El Nino,” ujar Ferdian, Jumat (22/5/2026).
Ia menjelaskan, kebakaran masih didominasi lahan gambut yang sangat rentan terbakar saat cuaca panas dan kondisi kering berkepanjangan.
Dari total 14.854,9 hektare lahan terbakar di Riau pada 2026, sekitar 13.831,1 hektare berada di kawasan gambut, sedangkan 1.023,9 hektare lainnya merupakan lahan mineral.
Jika dibandingkan tahun 2023, lonjakan Karhutla tahun ini meningkat lebih dari 13 kali lipat.
Meski begitu, luas kebakaran pada 2026 masih lebih rendah dibandingkan tahun 2019 yang menjadi salah satu periode Karhutla terburuk di Riau.
Ferdian mengingatkan seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan di tengah cuaca panas ekstrem yang masih berpotensi memicu meluasnya Karhutla.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah daerah, tim gabungan, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam upaya pencegahan serta penanggulangan kebakaran hutan dan lahan di Riau.