PEKANBARU – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau masih menjadi salah satu bencana menonjol di tingkat nasional. Hingga pertengahan Mei 2026, luas lahan yang terdampak kebakaran tercatat telah mencapai ribuan hektare.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan luas lahan terbakar di Riau terus mengalami peningkatan.
“Kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau juga masih menjadi salah satu kejadian menonjol nasional. Hingga Rabu (20/5/2026), luas lahan terbakar tercatat mencapai 3.474,74 hektare,” ujar Abdul Muhari, Kamis (21/5/2026).
Angka tersebut menunjukkan karhutla masih menjadi ancaman serius di Provinsi Riau, terutama memasuki musim kemarau yang berpotensi memperparah kondisi di lapangan.
Dalam upaya penanganan, BNPB bersama berbagai instansi terkait terus mengintensifkan operasi terpadu baik melalui jalur darat maupun udara. Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi langkah penting untuk mempercepat pengendalian kebakaran.
Pada operasi darat, tim gabungan fokus melakukan pemadaman langsung, pelokalan titik api, hingga pendinginan di area yang telah terbakar.
Salah satu lokasi yang menjadi fokus penanganan berada di Kelurahan Tampan, Kecamatan Payung Sekaki, Kota Pekanbaru. Di wilayah tersebut, tim gabungan melakukan berbagai langkah teknis guna memastikan api benar-benar padam.
BNPB menilai proses pendinginan sangat penting, khususnya di kawasan lahan gambut yang memiliki karakteristik mampu menyimpan bara api di bawah permukaan tanah dalam waktu lama.
Tanpa proses pendinginan yang optimal, potensi kebakaran kembali muncul tetap tinggi meskipun api di permukaan terlihat telah padam.
Selain operasi darat, BNPB juga mengerahkan armada helikopter untuk mendukung pemadaman melalui metode water bombing atau pengeboman air dari udara.
Helikopter tersebut juga dimanfaatkan untuk patroli udara guna memantau perkembangan titik api sekaligus mempercepat respons terhadap potensi kebakaran baru.
Operasi udara dinilai efektif untuk menjangkau wilayah yang sulit diakses tim darat, terutama di kawasan hutan dan lahan gambut yang luas.
Karhutla di Riau tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat dan aktivitas ekonomi akibat kabut asap yang dihasilkan.
Selain itu, kerusakan ekosistem akibat kebakaran hutan turut menjadi perhatian serius karena dapat mengancam keanekaragaman hayati serta memperburuk dampak perubahan iklim.