JAKARTA - Keamanan mobil modern kembali menjadi sorotan setelah BYD Shark 6 berhasil diretas oleh peneliti keamanan siber di Australia.
Dalam pengujian tersebut, sejumlah fitur kendaraan dapat dikendalikan dari jarak jauh, mulai dari lampu utama, pintu, sistem hiburan hingga wiper.
Yang membuat persoalan ini lebih serius bukan sekadar kemampuan mengakses perangkat hiburan kendaraan.
Pengujian tersebut memperlihatkan bahwa celah keamanan pada sistem digital mobil berpotensi mengganggu pengemudi ketika kendaraan sedang melaju.
Peneliti keamanan siber yang fokus pada sektor otomotif, Dan Hreszczuk, melakukan pengujian terhadap BYD Shark 6 setelah mendapat tugas untuk mengidentifikasi sejauh mana sistem kendaraan dapat diakses dari luar.
Selama sekitar dua pekan menganalisis sistem kendaraan, Hreszczuk menemukan celah yang memungkinkan dirinya memperoleh akses terhadap sejumlah fungsi digital BYD Shark 6.
"Itu (meretas BYD Shark 6) lebih mudah dari yang kami perkirakan," kata Hreszczuk.
Salah satu demonstrasi yang dilakukan adalah mengendalikan lampu utama kendaraan. Lampu dapat dimatikan dan dinyalakan kembali ketika kendaraan berada dalam kondisi gelap.
Persoalan keamanan semakin terlihat ketika akses tersebut digunakan untuk mengendalikan fitur lain.
Dalam pengujian yang dilakukan dari pinggir jalan pedesaan, Hreszczuk menunjukkan sejumlah fungsi yang dapat dikendalikan dari jarak jauh.
Ia dapat mengunci pintu kendaraan, memutar musik dengan volume tinggi serta menampilkan gambar pada layar sistem hiburan.
Ketika kendaraan dikemudikan, akses tersebut juga digunakan untuk menyalakan wiper pada kecepatan maksimum dan menyemprotkan cairan pembersih kaca. Lampu kendaraan pun dapat dinyalakan maupun dimatikan dari jarak jauh.
Gangguan semacam ini bukan lagi sekadar persoalan kenyamanan. Jika dilakukan ketika kendaraan bergerak, perubahan fungsi secara tiba-tiba berpotensi mengganggu konsentrasi pengemudi, khususnya saat malam hari atau ketika kondisi cuaca membutuhkan visibilitas tinggi.
Dalam demonstrasinya, Hreszczuk bahkan membuat sistem pengeras suara kendaraan mengeluarkan peringatan berulang kali dengan kalimat, "Demi keselamatan, gunakan lampu dekat." Setelah itu, lampu kendaraan dimatikan sepenuhnya.
Meski demikian, Hreszczuk menyatakan akses yang diperolehnya tidak memungkinkan pengendalian terhadap seluruh sistem kendaraan.
Fungsi penting seperti rem dan kamera kendaraan disebut tidak dapat diakses melalui celah yang ditemukan tersebut.
Salah satu temuan yang paling mengkhawatirkan adalah mekanisme akses terhadap sistem digital kendaraan.
"Akses yang kami manfaatkan itu bahkan tidak memiliki kata sandi. Agak menakutkan betapa terbukanya BYD Shark terhadap peretas," ujar Hreszczuk.
Kondisi tersebut membuat persoalan keamanan siber kendaraan menjadi lebih kompleks. Mobil modern tidak lagi hanya terdiri dari mesin, transmisi, sistem pengereman dan perangkat mekanis.
Kendaraan kini merupakan komputer berjalan yang mengintegrasikan berbagai perangkat lunak, sensor, kamera, sistem hiburan dan konektivitas.
Ketika semakin banyak fungsi kendaraan bergantung pada perangkat lunak, celah keamanan pada sistem digital juga dapat menciptakan risiko baru yang sebelumnya tidak ditemukan pada kendaraan konvensional.
Persoalan lain yang ikut muncul adalah besarnya data yang dikumpulkan kendaraan modern.
Mobil yang dilengkapi kamera, mikrofon, sensor dan berbagai sistem konektivitas dapat menghasilkan serta memproses data dalam jumlah besar.
Karena itu, keamanan kendaraan tidak lagi hanya berkaitan dengan kemungkinan seseorang mengganggu fungsi mobil. Ada pula persoalan mengenai bagaimana data kendaraan dikumpulkan, disimpan, diproses dan siapa yang memiliki akses terhadapnya.
Kekhawatiran tersebut menjadi perhatian di Australia, terutama karena kendaraan yang terhubung dengan sistem digital dapat membawa perangkat pribadi maupun perangkat kerja ke dalam lingkungan yang sensitif.
Namun, pemerintah Australia tidak memberlakukan larangan menyeluruh terhadap kendaraan listrik buatan China.
Bahkan, Menteri Perdagangan Australia Don Farrell diketahui memiliki BYD Shark 6, model kendaraan yang sama dengan yang diuji oleh Hreszczuk. Farrell sebelumnya menyebut kendaraan tersebut sebagai "truk pikap terbaik yang pernah saya miliki".
Di sisi lain, badan intelijen Australia ASIO telah memperingatkan para menteri dan pegawai negeri agar tidak melakukan percakapan sensitif di dalam kendaraan atau menghubungkan perangkat kerja dengan kendaraan.
Situasi tersebut menunjukkan adanya paradoks dalam perkembangan mobil pintar: semakin banyak fungsi yang dapat dikendalikan melalui perangkat lunak, semakin besar pula tuntutan terhadap keamanan sistem yang menopangnya.
Kasus BYD Shark 6 menjadi pengingat bahwa fitur digital pada kendaraan bukan hanya soal kecanggihan dan kenyamanan.
Keamanan siber harus menjadi bagian penting dari standar keselamatan kendaraan, terutama ketika sebuah celah memungkinkan pihak luar mengubah fungsi kendaraan yang sedang digunakan.
Bagi konsumen, persoalannya juga mulai bergeser. Membeli kendaraan modern bukan lagi hanya mempertimbangkan kapasitas mesin, baterai, jarak tempuh atau fitur keselamatan fisik, tetapi juga seberapa kuat sistem digital kendaraan tersebut menghadapi serangan siber.