JAKARTA - Pelemahan daya beli masyarakat mulai mengubah perilaku pemilik mobil dalam merawat kendaraannya.
Salah satu dampaknya terlihat dari keputusan konsumen menunda penggantian ban, bahkan ketika kondisi ban sudah aus dan berpotensi membahayakan keselamatan.
Presiden Direktur PT Bridgestone Tire Indonesia, Mukiat Sutikno mengungkapkan, fenomena tersebut terjadi di tengah perlambatan pasar ban pada semester kedua 2026.
Menurutnya, konsumen kini semakin berhati-hati mengalokasikan pengeluaran sehingga penggantian ban yang seharusnya dilakukan justru ditunda.
"Konsumen untuk sekarang ini bahkan memperlama penggantian bannya, walaupun saat servis spooring atau balancing bengkel kita sering memperingatkan 'Ini hati-hati nih, bahkan kawatnya sudah ada yang keluar'," ujar Mukiat.
Kondisi itu, kata dia, bahkan ditemukan pada kendaraan kelas premium. Artinya, persoalan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan membeli kendaraan atau harga mobil, tetapi lebih mencerminkan perubahan prioritas pengeluaran rumah tangga.
Mukiat mengatakan pasar ban nasional sebenarnya masih mencatat pertumbuhan pada paruh pertama 2026.
Penjualan semester pertama tahun ini meningkat sekitar 4 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
"Dibandingkan tahun lalu, semester pertama 2026 ini memang cukup baik, ada kenaikan market sekitar empat persen ya dibandingkan semester pertama 2025," katanya.
Namun, momentum tersebut tidak berlanjut ketika memasuki semester kedua. Perlambatan mulai terlihat sejak Juli dan berlanjut hingga September 2026.
"Tapi di semester kedua 2026, mulai Juli, Agustus, September ini, kita ada lihat ada market yang bisa dikatakan cukup slow down. Jadi ada pelemahan pasar, dibandingkan semester kedua 2025," jelas Mukiat.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan pasar pada awal tahun belum sepenuhnya mencerminkan kondisi konsumsi masyarakat sepanjang 2026. Ada faktor musiman yang turut memengaruhi pola belanja rumah tangga.
Menurut Mukiat, kenaikan aktivitas pasar pada semester pertama tidak terlepas dari momentum Lebaran.
Mobilitas masyarakat meningkat karena mudik dan perjalanan wisata sehingga pengeluaran untuk kebutuhan kendaraan ikut terdorong.
"Di semester satu (penjualan meningkat) karena ada faktor libur lebaran, di mana memicu orang untuk spending, karena harus traveling, pulang kampung atau jalan-jalan," sebutnya.
Situasinya berbeda ketika memasuki pertengahan tahun. Liburan sekolah dan tahun ajaran baru membuat sebagian anggaran rumah tangga dialihkan untuk kebutuhan pendidikan.
"Karena di Juni-Juli itu ada liburan sekolah plus ada tahun ajaran baru, jadi kan semua harus keluar uang untuk sekolah anaknya, uang buku, sehingga itu menyebabkan ekonomi secara overall turun," tuturnya.
Tekanan terhadap konsumsi juga diperbesar oleh kondisi ekonomi global. Meski Indonesia tidak berada langsung dalam pusaran konflik global yang dimaksud, dampaknya terhadap perekonomian domestik tetap dirasakan.
"Terus kalau kita lihat kan kondisi global ini cukup tidak menguntungkan ya, walaupun Indonesia tidak masuk dalam pusaran konflik yang terjadi, tapi ekonomi impact tentu terasa sampai sini," ungkapnya.
Dampak paling mengkhawatirkan dari perubahan perilaku konsumen adalah ketika penghematan dilakukan pada komponen yang berkaitan langsung dengan keselamatan.
Mukiat menceritakan pengalaman saat mengunjungi sebuah toko ban. Ia menemukan kendaraan dengan kondisi ban yang sudah sangat botak, bahkan bagian kawat ban telah terlihat.
"Kebetulan pas saya visit ke toko, sampai saya bilang 'Ini ban mobil apa? saya sudah lihat (mobilnya) di depan, tapi saya nggak percaya. Karena kondisi bannya cukup botak, kawatnya ada yang keluar'," tuturnya.
Menurut keterangan mekanik kepada Mukiat, pemilik kendaraan sebenarnya telah mendapatkan peringatan untuk segera mengganti ban. Namun, penggantian tidak langsung dilakukan.
"Kami sudah kasih peringatan ke pemiliknya, mereka bilang satu-dua bulan (balik lagi untuk penggantian ban), tapi ini 3-4 bulan kemudian (baru balik lagi)," kata Mukiat menirukan percakapan dengan mekanik.
Fenomena tersebut menjadi perhatian karena penundaan penggantian ban bukan hanya persoalan penjualan industri otomotif, tetapi juga menyangkut risiko keselamatan pengguna jalan.
Ban merupakan salah satu komponen vital kendaraan karena menjadi titik kontak langsung antara mobil dan permukaan jalan.
Ketika kondisi tapak semakin aus, kemampuan ban mempertahankan traksi dapat menurun, terutama ketika kendaraan menghadapi kondisi jalan yang membutuhkan daya cengkeram tinggi.
Karena itu, peringatan bengkel mengenai kondisi ban tidak semestinya dipandang hanya sebagai dorongan untuk membeli produk baru.
Ketika ban sudah menunjukkan kerusakan serius, termasuk tapak yang sangat aus atau kawat yang mulai terlihat, persoalannya telah bergeser dari efisiensi pengeluaran menjadi aspek keselamatan.
"Karena cengkeraman paling utama itu di ban ya," tukasnya.