SIAK - Kerusakan parah yang terjadi di ruas Jalan Lintas Siak-Pekanbaru, khususnya jalur Gasib hingga Maredan, terus menuai keluhan dari masyarakat.
Selain mengganggu aktivitas ekonomi dan distribusi barang, kondisi jalan yang dipenuhi lubang besar juga dinilai membahayakan keselamatan para pengguna jalan.
Hingga pertengahan Juni 2026, sejumlah pengendara mengaku kecewa karena perbaikan yang sempat dijanjikan Pemerintah Provinsi Riau belum juga terealisasi.
Suhaimi (43), warga Kecamatan Dayun, mengatakan kerusakan jalan mulai dari Simpang Empat Kilometer 11 Gasib hingga Jembatan Maredan semakin memprihatinkan.
Menurutnya, hampir seluruh badan jalan dipenuhi lubang dengan ukuran besar dan kedalaman yang cukup berbahaya.
"Jalan dari Simpang Empat Kilometer 11 Gasib sampai ke Jembatan Maredan lubangnya dalam-dalam dan besar-besar," ujar Suhaimi, Rabu (10/6/2026).
Ia mengingat kembali pernyataan Plt Gubernur Riau, SF Hariyanto yang sebelumnya menyebut ruas jalan Siak-Pekanbaru akan diperbaiki dan mulus sebelum Idulfitri 2026. Namun hingga kini, kondisi jalan masih jauh dari harapan masyarakat.
"Janji Plt Gubernur sebelum Lebaran sudah diperbaiki. Ini sudah mau Lebaran lagi, tidak juga diperbaiki," katanya.
Menurut Suhaimi, kerusakan yang merata membuat pengendara sulit mencari jalur aman untuk melintas.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko kecelakaan, terutama bagi pengendara roda dua.
"Lubang dalam dan besar-besar sudah hampir menyeluruh sepanjang jalan. Susah untuk memilih mana jalan yang bagus. Kalau salah bisa terjatuh dan celaka," ungkapnya.
Keluhan serupa disampaikan Novri (40), seorang pengusaha ekspedisi asal Pekanbaru. Ia mengaku kerusakan jalan berdampak langsung terhadap aktivitas pengiriman barang menuju Kabupaten Siak dan wilayah sekitarnya.
Kondisi jalan yang rusak menyebabkan waktu distribusi menjadi lebih lama dari biasanya sehingga memicu keluhan dari pelanggan.
"Karena jalan rusak, pengantaran barang ke wilayah Siak dan sekitarnya jadi terganggu. Konsumen jadi mengeluh karena pesanannya terlambat datang," ujar Novri.
Tak hanya itu, kendaraan operasional yang digunakan untuk mengangkut barang juga mengalami kerusakan akibat sering melintasi jalan berlubang.
"Tak cuma kaki-kaki mobil, beberapa barang milik konsumen juga rusak karena guncangan saat melewati jalan rusak," keluhnya.
Dampak kerusakan jalan juga dirasakan Ferdaus (37), pengendara asal Kabupaten Bengkalis. Ia menyebut perjalanan dari Bengkalis menuju Pekanbaru kini membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan biasanya.
Jika sebelumnya perjalanan dapat ditempuh sekitar empat hingga empat setengah jam, kini durasinya bisa bertambah hingga lima sampai enam jam.
"Biasanya dari Bengkalis paling lama empat setengah jam. Sekarang bisa menjadi lima atau enam jam," kata Ferdaus.
Selain kehilangan waktu, biaya perawatan kendaraan juga meningkat karena kerusakan yang terus berulang pada bagian kaki-kaki mobil.
"Kaki-kaki mobil sebentar sekali rusak. Kemarin velg penyok setelah menghantam lubang. Memang sulit dihindari karena hampir semua sisi jalan berlubang," tuturnya.
Ferdaus berharap Pemerintah Provinsi Riau segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki ruas jalan tersebut.
Pasalnya, jalur Siak-Pekanbaru merupakan akses vital yang menghubungkan Kabupaten Siak, Bengkalis, dan Kepulauan Meranti dengan ibu kota provinsi.
"Semoga jalan tersebut bisa segera diperbaiki. Kondisinya sudah sangat tidak layak dilalui dan bisa mengancam keselamatan pengendara kapan saja," pungkasnya.