Oleh: Andy Indrayanto
"Horreee...!"
Sorak kegembiraan itu pecah dari mulut ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati di lahan Desa Lambang Sari V, Kecamatan Lirik, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau. Dua orang di antara mereka baru saja berhasil mencabut tanaman singkong dari kebun desa.
Langit Inhu yang cerah siang itu seolah ikut larut dalam kegembiraan mereka. Ibu-ibu lainnya menyusul, menarik batang demi batang tanaman dari hamparan lahan desa, kemudian mengumpulkan umbi yang tersembunyi di dalam tanah.
Panen singkong tersebut bukan sekadar urusan mencabut tanaman dan mengumpulkan hasil kebun. Bagi mereka, singkong ternyata menyimpan peluang untuk menghasilkan nilai tambah. Umbi yang semula dijual mentah dengan harga relatif murah kini diolah menjadi keripik, produk pangan yang perlahan berkembang menjadi usaha kelompok.
Sri Wiji Rahayuningsih (59), yang akrab disapa Yayuk, mengenang bagaimana usaha itu bermula dari persoalan sederhana.
Hasil panen yang dijual mentah belum memberikan nilai ekonomi seperti yang mereka harapkan.
Sebelum beralih membuat keripik dengan berbagai varian rasa, ibu-ibu KWT Melati lebih dahulu berjibaku memanfaatkan lahan desa seluas satu hektare untuk menanam berbagai tanaman yang dapat menopang kebutuhan rumah tangga.
"Ya, minimal cabai dan tanaman bumbu-bumbu memasak tidak usah beli lagi," Yayuk tertawa kecil.
Ia kemudian menceritakan awal perjalanan kelompok tersebut. "KWT Melati ini berdiri Juni 2022 dan disahkan berdasarkan SK Kepala Desa Lambang Sari V. Kami dipinjamkan kebun milik desa. Mulanya kami diberi 50 karung kotoran ayam dan kita olah sendiri jadi kompos, baunya itu luar biasa," cerita ibu empat anak tersebut.
Namun, perjalanan mereka tidak selalu mudah. Tanaman cabai yang ditanam mereka suatu hari diserbu monyet liar yang datang ke pemukiman warga. "Ngenes rasanya saat itu, Pak," kenang Yayuk dengan logat Jawa-nya yang masih kental.
Tapi kesedihan itu tak memadamkan semangat ibu-ibu KWT Melati. Setelah mengevaluasi kondisi kebun ditambah masukan dari pemerintah desa dan Pertamina mereka kemudian memutuskan menanam singkong sebagai komoditas utama.
"Awalnya, tanaman ubi itu kami jual mentah namun hasilnya tak seberapa. Tahu lah harga ubi mentah berapa, paling Rp30 ribu sampai Rp40 ribu, terus kemudian kami iseng-iseng buat keripik," kenang Yayuk saat ditemui penulis pada pertengahan Oktober 2026.
Berawal dari keisengan, kegiatan itu berkembang menjadi usaha produktif. Dengan bantuan penyuluh pertanian lapangan (PPL), KWT Melati mengajukan proposal bantuan peralatan kepada dinas terkait. Setelah melalui proses survei, permohonan tersebut disetujui. Dukungan itu menjadi salah satu modal bagi kelompok untuk mengolah hasil pertanian menjadi produk dengan nilai jual berbeda.

Saat ini, sebanyak 13 anggota KWT Melati terlibat dalam kegiatan produksi keripik. Dalam sebulan, mereka melakukan produksi dua hingga tiga kali, dengan kebutuhan sekitar 100 kilogram singkong dalam setiap proses produksi.
Bagi Yayuk, kegiatan tersebut bukan semata-mata menghasilkan makanan ringan. Ada manfaat ekonomi yang mulai dirasakan anggota, meskipun hasilnya belum besar.
"Yang jelas menambah pendapatan, bantu-bantu suami walaupun sedikit," ujarnya.
Menurut Yayuk, keuntungan bersih usaha berkisar 10 hingga 20 persen, sedangkan omzet mencapai Rp1,5 juta hingga Rp3 juta per bulan. Sebagian keuntungan dibagikan, sementara sebagian lainnya disisihkan sebagai tabungan kelompok.
Cara kerja mereka pun bertumpu pada kebersamaan. Para anggota saling membantu dalam proses produksi dan bersama-sama menikmati hasilnya. Sebagian anggota juga menjalankan tanggung jawab lain sebagai kader posyandu maupun pengurus PKK sehingga jadwal produksi harus menyesuaikan waktu yang tersedia.
Tapi dari usaha sederhana itu, KWT Melati mulai belajar bahwa hasil pertanian tidak harus berhenti sebagai komoditas mentah. Dengan pengetahuan, pengolahan, dan pengelolaan usaha yang lebih baik, potensi lokal dapat membuka peluang ekonomi baru. Dan pelajaran tersebut merupakan sesuatu hal yang baru seluruh anggota KWT Melati yang kesemuanya berusia hampir paruh baya.
Ketika Potensi Lokal Mendapat Ruang untuk Tumbuh
Perjalanan usaha KWT Melati tidak berlangsung sendirian. Sejak akhir 2023, Pertamina EP Lirik mulai mendampingi kelompok tersebut melalui program pemberdayaan masyarakat. Dukungan itu kemudian berkembang seiring dengan penguatan program Kampung Iklim (ProKlim) Lambang Sari V pada 2024.
Community Development Officer (CDO) Pertamina EP Lirik, Dela Ayu Puspita Dewi, menjelaskan bahwa pengembangan ProKlim berawal dari permintaan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Inhu untuk mencari desa yang berpotensi menjadi lokasi program.
Berdasarkan pemetaan sosial dan informasi dari CDO sebelumnya, perhatian kemudian tertuju pada KWT Melati. Kelompok ini dinilai aktif dalam kegiatan pertanian dan memiliki semangat untuk mengembangkan potensi yang tersedia di lingkungan mereka.
Pertamina selanjutnya mendukung kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Bantuan tersebut mencakup peralatan pertanian dan produksi, 750 kemasan awal untuk produk keripik, serta pendampingan dalam promosi, pemasaran, dan pembukuan keuangan.
Mengolah singkong menjadi keripik ternyata belum cukup. Produk juga membutuhkan kemasan yang layak, promosi yang tepat, serta pencatatan keuangan agar perkembangan usaha dapat diketahui.
Sebelum mendapat pendampingan, keripik dijual dalam kemasan sederhana seharga Rp1.000 per bungkus. Kemasan yang digunakan masih terbatas, termasuk plastik putih sederhana dengan kondisi produk yang masih berminyak.
Setelah mendapat pendampingan, KWT Melati mulai menggunakan kemasan yang lebih menarik dan memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan produknya kepada konsumen. Kini, keripik dengan merek "Keripik Ubi Buatan Ibu" dipasarkan dalam dua ukuran. Kemasan 200 gram dijual Rp18.000, sedangkan kemasan 500 gram dibanderol Rp35.000.
Menurut Yayuk, perubahan kemasan dan upaya promosi turut mendongkrak penjualan. Produk mereka bahkan telah dibawa ke luar kota sebagai oleh-oleh, meskipun pemasaran secara mandiri ke luar daerah masih perlu dikembangkan.
Bagi kelompok ini, perubahan tersebut bukan sekadar pergantian kemasan. Mereka mulai mengenal bahwa usaha membutuhkan kemampuan mengelola produk, menentukan harga, mencatat keuangan, dan menjangkau pasar. Banyak yang mereka pelajari dari usaha yang pelan-pelan terus berkembang ini.
Pendampingan juga berlangsung melalui pertemuan dan kegiatan bersama masyarakat. Menurut data pendampingan yang disampaikan Dela, kegiatan bersama warga rata-rata dilakukan sekitar empat kali dalam sebulan. Intensitas tersebut menjadi bagian dari proses mengenali kebutuhan, memberikan penguatan, dan mendorong masyarakat menerapkan pengetahuan yang diperoleh.
Meski begitu, dalam proses pendampingan itu bukan berarti seluruh persoalan usaha langsung terselesaikan. KWT Melati juga perlu menjaga kualitas produk, menyesuaikan produksi dengan kesibukan anggota, serta memperluas pemasaran secara bertahap.
Proses ini menunjukkan bahwa dukungan perusahaan dapat membuka ruang bagi potensi lokal untuk berkembang. Namun, keberlanjutan usaha tetap bergantung pada kemampuan anggota mengelola kegiatan, menjaga mutu produk, dan menemukan pasar yang dapat menopang produksi mereka.
Dari Persoalan Sampah Menuju Ekonomi Sirkular
Di Lambang Sari V, upaya pemberdayaan tidak hanya berkaitan dengan usaha keripik singkong. Persoalan lingkungan juga menjadi bagian dari kegiatan yang dikembangkan melalui Pro-Iklim.
Diakui Yayuk bahwa sebelum mendapatkan pendampingan, pengelolaan sampah di lingkungan mereka belum berjalan maksimal. Sampah hanya dikumpulkan di tempat sampah, tetapi sebagian masih ditumpuk, dibakar, atau dibuang tanpa pemilahan yang memadai.
"Dulu apa yang kami lakukan terkait sampah ini belum begitu terarah maksimal. Sampah memang dikumpulkan di tempat sampah, tapi untuk mendaur ulang sampah menjadi cuan, ilmu itu yang belum kami dapat," kata Yayuk.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan menyediakan tempat pembuangan. Masyarakat juga membutuhkan pengetahuan mengenai pemilahan, pengolahan, dan pemanfaatan sampah agar kebiasaan lama dapat berubah.
Menurut Kepala DLH Inhu, Elpadri Adha, persoalan lingkungan di Lambang Sari V bukan hanya berkaitan dengan sampah rumah tangga. Desa tersebut juga menghadapi genangan air pada musim hujan dan kekeringan ketika kemarau.
Dukungan Pertamina EP Lirik mencakup bantuan mesin biopori untuk membantu mengatasi genangan serta mesin komposter untuk mendukung pengolahan sampah organik. Kegiatan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) juga menjadi bagian dari penguatan kepedulian lingkungan.
Menurut Elpadri, genangan air disebut mulai berkurang setelah bantuan biopori diberikan. Namun, untuk mengetahui besarnya perubahan, diperlukan data pembanding yang menunjukkan kondisi sebelum dan sesudah pelaksanaan kegiatan.
Sedangkan Dela menjelaskan bahwa pengembangan ProKlim Lambang Sari V diarahkan untuk menghubungkan pengelolaan lingkungan dengan kegiatan ekonomi masyarakat. Pendekatan tersebut membuka peluang penerapan ekonomi sirkular, yakni pemanfaatan sumber daya secara lebih optimal untuk mengurangi limbah sekaligus menghasilkan nilai tambah.
Untuk memperkuat pemahaman warga, Pertamina EP Lirik mengadakan sejumlah kegiatan, antara lain pelatihan ekoenzim, perkebunan, biopori, dan pengelolaan bank sampah. Pada akhir 2025, masyarakat mendapatkan pelatihan bank sampah dengan menghadirkan narasumber dari Pekanbaru. Kegiatan tersebut kemudian dilanjutkan dengan kunjungan belajar ke Bank Sampah Ibnu Al-Mubarok, binaan PHR di Rumbai, sekitar Maret 2026.
Melalui kegiatan itu, warga memperoleh pengetahuan mengenai pemilahan dan pengelolaan sampah serta mengenal potensi ekonomi dari material yang masih dapat dimanfaatkan. Pengetahuan tersebut menjadi bekal untuk mengembangkan Bank Sampah Delima melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL/CSR) Pertamina EP Lirik.
Kehadiran Bank Sampah Delima diharapkan memperluas edukasi lingkungan dan mendorong keterlibatan warga di luar kelompok yang selama ini aktif. Sampah anorganik yang dipilah berpotensi memiliki nilai jual, sedangkan sampah organik dapat dimanfaatkan melalui pengomposan untuk mendukung kegiatan pertanian.
Dengan pendekatan ini, sampah tidak lagi semata-mata dipandang sebagai limbah. Sebagian material dapat dimanfaatkan kembali, sementara pengurangan pembakaran dan pembuangan yang tidak tepat berpotensi memberikan manfaat bagi lingkungan.
Di tempat yang sama, Kepala Desa Lambang Sari V, Safrizal, mengatakan pemerintah desa berencana mendorong pembuatan lubang biopori di setiap rumah. Pemerintah desa juga ingin mengembangkan pemanfaatan sampah plastik agar memiliki nilai ekonomi.
"Kami ingin sampah plastik nantinya bisa menjadi sumber penghasilan bagi setiap keluarga," kata Safrizal.
Rencana tersebut, sambungnya, menunjukkan adanya peluang untuk memperluas partisipasi masyarakat, dimulai dari lingkungan rumah tangga. Namun, keberhasilannya akan bergantung pada pelaksanaan, keterlibatan warga, dan konsistensi pengelolaan setelah kegiatan pendampingan berlangsung.
Elpadri menilai keterlibatan masyarakat menjadi unsur penting dalam pengembangan ProKlim. "Menurut saya, justru hal yang terpenting bukan sekadar menghadirkan kegiatan lingkungan, tapi memastikan masyarakat berperan aktif dan dapat manfaat dari program itu," ujarnya.
Pernyataan tersebut seolah menegaskan bahwa program lingkungan tidak cukup dinilai dari jumlah sarana yang diberikan atau pelatihan yang diselenggarakan. Perubahan perilaku dan kemampuan warga menjalankan kegiatan secara berkelanjutan juga menjadi bagian penting dari keberhasilannya.
Inovasi yang Berangkat dari Kebutuhan Warga
Kisah KWT Melati dan pengembangan Bank Sampah Delima memperlihatkan bahwa inovasi dapat berangkat dari persoalan sederhana yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Bagi KWT Melati, persoalannya bermula dari hasil panen singkong yang dijual mentah dengan nilai ekonomi terbatas. Melalui pengolahan menjadi keripik, kelompok ini mulai mengenal peluang usaha, pengemasan produk, pemasaran, hingga pembukuan keuangan. Sementara dalam pengelolaan lingkungan, warga menghadapi persoalan sampah yang selama ini masih ditumpuk, dibakar, atau dibuang tanpa pemilahan yang memadai.
Kedua persoalan tersebut membutuhkan pendekatan yang berbeda, tetapi memiliki kesamaan: potensi yang tersedia belum dimanfaatkan secara optimal. Singkong yang semula dijual mentah dapat diolah menjadi produk bernilai tambah. Sampah yang sebelumnya dianggap tidak berguna pun berpeluang dimanfaatkan kembali melalui pemilahan, pengomposan, dan pengelolaan bank sampah.
Pendampingan Pertamina EP Lirik menjadi salah satu unsur yang mendukung proses tersebut. Bantuan peralatan, pelatihan, dan penguatan kapasitas memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengembangkan potensi lokal sekaligus mempelajari cara mengelolanya dengan lebih baik.
Namun, perubahan tidak berhenti pada tersedianya sarana atau terlaksananya pelatihan. Usaha keripik membutuhkan konsistensi produksi, kualitas produk, dan pemasaran yang berkelanjutan. Bank Sampah Delima juga memerlukan sistem operasional, pencatatan, serta keterlibatan warga agar pengelolaan sampah dapat memberikan manfaat nyata bagi lingkungan maupun masyarakat.
Di sinilah pendampingan perlu diarahkan pada penguatan kemampuan warga. Pengetahuan yang diperoleh harus dapat diterapkan, sedangkan kelompok masyarakat perlu memiliki ruang untuk mengambil keputusan, mengelola kegiatan, dan mengembangkan solusi sesuai kebutuhan mereka.
Community Development Officer (CDO) Pertamina EP Lirik, Dela Ayu Puspita Dewi, menjelaskan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak cukup dilakukan melalui pemberian bantuan. Masyarakat perlu dilibatkan dalam mengenali persoalan dan menentukan kegiatan yang sesuai dengan kondisi mereka.
Pendekatan tersebut menempatkan masyarakat sebagai pelaku perubahan, bukan sekadar penerima program. Keberhasilan pendampingan karena itu tidak hanya dilihat dari bantuan yang disalurkan, tetapi juga dari tumbuhnya kemampuan warga untuk menjalankan dan mengembangkan kegiatan secara mandiri.
Pada KWT Melati, proses tersebut mulai terlihat melalui keterlibatan anggota dalam usaha keripik dan kebiasaan menyisihkan sebagian keuntungan sebagai tabungan kelompok. Sementara dalam pengelolaan lingkungan, keberlanjutan ProKlim Lambang Sari V masih perlu diperkuat melalui operasional Bank Sampah Delima, pemilahan sampah rumah tangga, pengolahan sampah organik, serta pemanfaatan biopori.
Kedua kegiatan itu menunjukkan bahwa pemberdayaan ekonomi dan kepedulian lingkungan dapat berjalan beriringan. Usaha produktif membuka peluang peningkatan pendapatan, sedangkan pengelolaan sampah mendorong masyarakat membangun kebiasaan yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Dalam konteks Program Kampung Iklim (ProKlim), keterlibatan masyarakat menjadi penting karena upaya menghadapi perubahan iklim tidak cukup mengandalkan sarana fisik. Pengetahuan, perubahan perilaku, dan konsistensi warga dalam menjalankan kegiatan juga diperlukan agar manfaat program dapat bertahan dalam jangka panjang.
Dari Tabungan Keripik, Sebuah Mimpi Terwujud
Bagi Yayuk dan anggota KWT Melati lainnya, pergi bersama ke Yogyakarta mungkin pernah menjadi keinginan yang hanya tersimpan dalam angan-angan. Hari-hari mereka selama ini lebih banyak dihabiskan di kebun, bergelut dengan tanah, tanaman, dan pupuk untuk mengembangkan usaha kelompok.
Namun, kerja bersama yang mereka jalani perlahan membuka kesempatan untuk mewujudkan keinginan tersebut. Pada 17 Oktober 2026 lalu, Yayuk bersama sembilan anggota KWT Melati lainnya berangkat ke Yogyakarta. Sebanyak sepuluh orang itu menikmati perjalanan bersama setelah menjalani rutinitas berkebun dan memproduksi keripik singkong.
Ketika ditanya apakah pernah membayangkan bisa pergi bersama anggota KWT ke Yogyakarta, Yayuk menjawab melalui pesan WhatsApp. "Gak pernah, Pak, membayangkan saja tidak tapi memimpikan ke Yogya iya."
Kebahagiaan itu rupanya sulit diungkapkan dengan kata-kata. "Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, Pak," tulisnya sambil menyertakan emotikon tertawa.
Selama di Yogyakarta, mereka menikmati waktu bersama dan mengunjungi sejumlah tempat wisata. Perjalanan tersebut terutama menjadi kesempatan untuk beristirahat dan menyegarkan pikiran, bukan kegiatan studi banding yang secara khusus dirancang untuk mempelajari teknologi atau metode baru bagi KWT Melati.
Yang membuat perjalanan itu terasa istimewa adalah sumber pembiayaannya. Sebagian biaya berasal dari tabungan keuntungan penjualan keripik singkong, sedangkan sisanya ditambah oleh para peserta.
Bagi Yayuk sendiri, perjalanan tersebut bukan semata-mata kesempatan mengunjungi kota yang diimpikannya. Ada kebahagiaan karena usaha yang dijalankan bersama anggota kelompok mulai menghasilkan sesuatu yang dapat mereka nikmati bersama.
"Semua ibu-ibu anggota KWT merasa bersyukur bisa bergabung dengan KWT. Yang selama ini selalu bergelut dengan tanah, pupuk yang bau, sekarang alhamdulillah tinggal menikmati hasilnya berkat kerja sama dan dukungan dari semua pihak, terutama dari pemerintah desa dan CSR Pertamina. Ini hasil tabungan kami jualan keripik selama ini," ungkapnya.

Pengalaman itu memperlihatkan sisi lain dari pemberdayaan yang tidak selalu tercermin dalam angka omzet atau jumlah bantuan. Ada kepuasan ketika usaha bersama memberikan kesempatan kepada anggota untuk mewujudkan keinginan yang sebelumnya terasa sulit dijangkau.
Perjalanan ke Yogyakarta tentu bukan satu-satunya ukuran keberhasilan KWT Melati. Namun, penggunaan tabungan hasil usaha untuk membiayai perjalanan bersama menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi kelompok mulai memberikan manfaat yang dirasakan langsung oleh anggotanya.
Bagi mereka, hasil kerja bersama bukan hanya tambahan pendapatan. Kesempatan belajar, bertambahnya keterampilan, dan kemampuan menyisihkan keuntungan untuk mencapai tujuan bersama juga menjadi bagian dari manfaat usaha yang mereka bangun.
Meski demikian, perjalanan menuju kemandirian masih panjang. KWT Melati perlu menjaga kualitas keripik, memperluas pemasaran, dan mengelola keuangan dengan lebih teratur. Kesibukan anggota sebagai kader posyandu dan pengurus PKK juga menuntut pembagian waktu yang baik agar produksi tetap berjalan.
Tantangan serupa terdapat dalam pengembangan ProKlim Lambang Sari V. Bank Sampah Delima, pemilahan sampah rumah tangga, pengolahan sampah organik, dan pemanfaatan biopori membutuhkan keterlibatan warga serta pengelolaan yang konsisten. Pengetahuan yang diperoleh melalui pendampingan perlu diterapkan agar kegiatan lingkungan tidak berhenti pada tahap pelatihan.
Bagi Pertamina EP Lirik, proses tersebut menjadi pengingat bahwa pendampingan masyarakat tidak cukup berhenti pada pemberian bantuan. Dukungan perlu membuka kesempatan bagi warga untuk meningkatkan pengetahuan, mengembangkan potensi, dan membangun kemampuan mengelola kegiatan sesuai kebutuhan mereka.
Kemandirian bukan berarti masyarakat harus langsung berjalan tanpa dukungan. Yang lebih penting adalah tumbuhnya kemampuan untuk mengambil keputusan, mencari peluang, mengatasi persoalan, dan menjaga kegiatan tetap berjalan secara bertahap.
Dari kebun singkong hingga perjalanan ke Yogyakarta, kisah Yayuk dan KWT Melati memperlihatkan bagaimana usaha sederhana dapat membuka peluang ekonomi sekaligus menghadirkan kebahagiaan bagi mereka yang menjalankannya. Sementara itu, pengembangan ProKlim Lambang Sari V menunjukkan bahwa upaya memperbaiki lingkungan membutuhkan lebih dari sekadar sarana: diperlukan pengetahuan, partisipasi, dan pengelolaan yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, inovasi tidak hanya terletak pada peralatan, pelatihan, atau program yang diperkenalkan. Inovasi juga tumbuh ketika masyarakat mampu mengembangkan potensi di sekitarnya, merasakan manfaat dari kerja bersama, dan membangun kemampuan untuk melanjutkannya.
Bagi Yayuk dan anggota KWT Melati, tabungan dari penjualan keripik telah membantu mewujudkan sebuah mimpi. Bagi Lambang Sari V, pekerjaan berikutnya adalah memastikan usaha ekonomi dan kegiatan lingkungan yang telah dirintis terus tumbuh serta memberikan manfaat bagi masyarakat pada masa mendatang. Semoga!