SURABAYA – Industri media digital menghadapi tantangan besar di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), perubahan pola konsumsi berita, serta pergeseran distribusi informasi ke media sosial dan platform digital. Kondisi ini menuntut perusahaan pers untuk bertransformasi agar tetap relevan dan dipercaya masyarakat.
Isu tersebut menjadi pembahasan utama dalam Indonesia Digital Media Conference (IDMC) 2026 yang digelar Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) di Ballroom Shangri-La Surabaya, Jawa Timur, Rabu hingga Kamis (28–29/10/2026).
Mengusung tema “Media Reborn: Reinventing News Media in the Era of AI & Content Creator”, konferensi ini mempertemukan pelaku industri media, pemerintah, akademisi, pelaku usaha, serta berbagai pemangku kepentingan untuk membahas masa depan media digital di Indonesia.
Ketua Umum AMSI Pusat, Wahyu Dhyatmika, mengatakan industri media saat ini menghadapi tekanan serius, baik dari sisi bisnis, distribusi konten, maupun kepercayaan publik.
“Kita harus mengakui kenyataan industri media tidak baik-baik saja. Model bisnis yang menjadi tumpuan tidak hanya bermasalah, tetapi juga berubah bentuk. Kita berusaha membangun kembali ekosistem yang baru,” ujarnya dalam sambutannya.
Menurut Wahyu, tekanan tersebut juga dirasakan media lokal. Sejumlah perusahaan media menghadapi kesulitan mempertahankan operasional, termasuk akibat kontrak kerja sama yang tidak diperpanjang dan penurunan trafik pembaca.
Ia menilai perubahan pola distribusi informasi menjadi salah satu persoalan mendasar yang harus dihadapi industri pers. Media tidak lagi sepenuhnya mengendalikan jalur distribusi berita karena audiens semakin banyak mengakses informasi melalui media sosial dan platform video.
Wahyu menyebutkan, berdasarkan survei yang dirujuknya, sebanyak 54 persen audiens mencari berita melalui media sosial. Pada saat yang sama, konten kreator semakin menjadi pilihan masyarakat untuk memperoleh informasi.
“Distribusi harus diakui tidak lagi milik kita. Medsos dan platform video, pertama kalinya survei menunjukkan media massa bukan lagi menjadi pilihan utama audiens, mereka memilih mendapatkan berita di medsos. Bahkan konten kreator berita menjadi favorit orang untuk menemukan berita,” katanya.
Selain media sosial, perubahan teknologi mesin pencari juga menjadi tantangan tersendiri. Jika sebelumnya mesin pencari mengarahkan pengguna ke berbagai tautan berita, kini teknologi berbasis AI semakin mampu menyajikan jawaban langsung kepada pengguna.
Perubahan tersebut berpotensi mengurangi kunjungan audiens ke situs berita, sekaligus memengaruhi model bisnis media yang selama ini mengandalkan trafik sebagai salah satu sumber pendapatan.
Di sisi lain, kepercayaan publik terhadap berita juga menjadi perhatian. Wahyu menyoroti kekhawatiran masyarakat terhadap hoaks yang berjalan beriringan dengan tantangan mempertahankan kepercayaan terhadap media.
Ia menilai transformasi industri pers tidak cukup dilakukan melalui pembaruan teknologi atau perubahan strategi pemasaran. Media juga perlu mengevaluasi kembali cara memproduksi, mendistribusikan, dan membiayai jurnalisme.
“Cara membuat, distribusi, dan membiayai jurnalisme harus diubah. Kita harus berani melepas bagian jurnalisme yang tidak lagi relevan,” tegasnya.
Wahyu menambahkan, perkembangan AI membuat kecepatan dan volume produksi konten tidak lagi menjadi keunggulan utama jurnalisme. Dalam situasi tersebut, media harus memperkuat perannya dalam memeriksa fakta, menguji kebenaran, dan menyajikan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Zaman AI, volume dan kecepatan bukan lagi menjadi keunggulan jurnalisme. Jurnalisme bekerja menguji kebenaran,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar perusahaan pers tidak memandang konten kreator sebagai musuh. Menurutnya, perubahan perilaku audiens justru perlu dipahami sebagai peluang untuk membangun pendekatan baru dalam menjangkau masyarakat.
Konten kreator memiliki kedekatan personal dengan pengikutnya. Karena itu, media perlu mengembangkan cara penyajian informasi yang lebih relevan dengan kebutuhan audiens tanpa meninggalkan standar dan disiplin jurnalistik.
Media, lanjutnya, harus mampu menemukan pembeda di tengah persaingan konten yang semakin ketat. Keunggulan pers tidak semata-mata terletak pada kecepatan menyampaikan informasi, tetapi juga pada kemampuan menjaga kepercayaan publik.
Media perlu kembali menemukan relevansinya di tengah masyarakat, terutama ketika informasi dapat diproduksi dan disebarkan oleh siapa saja melalui berbagai platform digital. IDMC 2026 turut menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan nasional dan daerah. Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya hadir dalam kegiatan tersebut.
Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid diwakili Direktur Ekosistem Media, Farida Dewi Maharani. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa diwakili Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin. Perwakilan Dewan Pers, Dahlan Dahi, juga hadir dalam konferensi tersebut.
Kegiatan ini diikuti sekitar 400 peserta yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pemilik usaha, akademisi, agensi, praktisi hubungan masyarakat, dinas komunikasi dan informatika kabupaten/kota, hingga perusahaan media massa.
Keterlibatan berbagai sektor tersebut diharapkan membuka ruang dialog dan kolaborasi untuk memperkuat ekosistem media digital yang berkelanjutan.

(Kadiskominfo Jatim, Sherlita Ratna Dewi Agustin dalam IDMC 2026 digelar di Surabaya/foto-budi)
Perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, Sherlita Ratna Dewi Agustin, mengapresiasi penyelenggaraan konferensi tersebut. Ia berharap pembahasan dalam forum tidak berhenti pada diskusi, tetapi menghasilkan langkah konkret bagi pengembangan industri media.
“Kami mengapresiasi kegiatan ini. Harapannya tidak berhenti di diskusi, kami berharap acara ini bisa merumuskan hal yang konkret. Kalau butuh tempat diuji, kami siap menjadi ruang uji untuk kolaborasi,” ujar Sherlita.
Ia juga menekankan pentingnya peran pers dalam mendokumentasikan perjalanan bangsa. Menurutnya, di tengah perubahan teknologi dan lanskap media, jurnalisme tetap memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan informasi yang jernih dan bermartabat.
“Hampir seabad pers pencatat sejarah. Kita pastikan sejarah Indonesia ditulis dengan jernih dan bermartabat,” katanya.
Melalui IDMC 2026, AMSI mendorong industri media untuk tidak sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga membangun model bisnis, strategi distribusi, dan pendekatan jurnalistik yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Transformasi tersebut menjadi penting agar media tetap mampu menjalankan fungsi utamanya sebagai penyedia informasi yang akurat, menjaga kepercayaan publik, serta berperan dalam kehidupan demokrasi di tengah derasnya arus informasi digital.