PEKANBARU – Tekanan harga di Provinsi Riau masih terasa sepanjang Juli 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau mencatat inflasi tahunan mencapai 3,82 persen, meski secara bulanan justru terjadi deflasi sebesar 0,08 persen.
Data tersebut menunjukkan pergerakan harga di Riau memiliki dua sisi. Dalam rentang satu tahun, masyarakat menghadapi kenaikan harga pada berbagai kebutuhan.
Namun, dibandingkan Juni 2026, sejumlah komoditas mengalami penurunan harga sehingga inflasi bulanan berbalik menjadi deflasi.
Data itu disampaikan Ketua Tim Statistik Distribusi dan Jasa BPS Provinsi Riau, Dr Fitri Hariyanti SST MM, bersama Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfotik) Provinsi Riau, Drs H Supriyadi MSi, dalam pemaparan Berita Resmi Statistik (BRS) BPS Riau, Senin (3/8/2026).
Berdasarkan catatan BPS, inflasi tahunan Riau pada Juli 2026 dibentuk oleh kenaikan harga di sebagian besar kelompok pengeluaran.
Dari daerah yang menjadi indikator inflasi, Kota Pekanbaru mencatat inflasi tertinggi sebesar 3,97 persen dengan IHK 112,76.
Sementara Kabupaten Kampar menjadi daerah dengan inflasi terendah, yakni 3,51 persen dengan IHK 113,83.
"Pada Juli 2026, Provinsi Riau mengalami inflasi year on year sebesar 3,82 persen. Namun secara month to month terjadi deflasi sebesar 0,08 persen, sedangkan secara year to date inflasi mencapai 0,88 persen," kata Fitri.
Angka tersebut menjadi gambaran bahwa meski tekanan harga tahunan masih cukup kuat, perkembangan harga dalam jangka pendek mulai menunjukkan koreksi.
Jika dilihat berdasarkan kelompok pengeluaran, terdapat 10 kelompok yang mengalami inflasi secara tahunan.
Kenaikan paling tinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, yang mencatat inflasi sebesar 10,16 persen.
Posisi berikutnya ditempati kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan inflasi 5 persen, pendidikan 4,45 persen, serta transportasi 4,19 persen.
Kelompok lainnya yang turut mengalami kenaikan harga adalah kesehatan sebesar 3,87 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 3,06 persen, rekreasi, olahraga dan budaya 2,19 persen, informasi, komunikasi dan jasa keuangan 1,61 persen, perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga 1,06 persen, serta pakaian dan alas kaki 0,25 persen.
Sementara itu, satu-satunya kelompok yang mengalami deflasi tahunan adalah perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga, dengan penurunan sebesar 0,01 persen.
Menurut BPS, sejumlah komoditas menjadi sumber utama tekanan inflasi tahunan. Komoditas tersebut antara lain emas perhiasan, cabai merah, bensin, biaya pendidikan tinggi, pemeliharaan kendaraan, minyak goreng, ikan patin, ikan serai, angkutan udara, nasi dengan lauk, rokok kretek mesin, cabai rawit, daging ayam ras, tarif rumah sakit, beras, ikan lele, ikan nila, hingga jeruk.
"Emas perhiasan menjadi komoditas dengan andil inflasi terbesar, diikuti cabai merah, bensin, biaya pendidikan tinggi, hingga tarif transportasi udara," ungkap Fitri.
Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi salah satu perhatian utama dalam perkembangan inflasi Riau.
Kelompok ini mencatat inflasi tahunan sebesar 5 persen dengan andil 1,63 persen terhadap inflasi umum.
Kenaikan harga cabai merah, minyak goreng, ikan patin, ikan serai, rokok kretek mesin, cabai rawit, ikan tongkol, daging ayam ras, tomat, dan beras menjadi faktor yang mendorong kenaikan harga pada kelompok tersebut.
Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberikan andil inflasi sebesar 0,77 persen, dengan inflasi mencapai 10,16 persen. Kenaikan harga emas perhiasan menjadi faktor dominan.
Dari sektor transportasi, inflasi mencapai 4,19 persen dengan kontribusi sebesar 0,53 persen. Kenaikan harga bensin, biaya pemeliharaan kendaraan, angkutan udara, mobil, dan sepeda motor menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi kelompok ini.
Adapun kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mencatat inflasi sebesar 3,06 persen, dengan andil terhadap inflasi tahunan mencapai 0,31 persen.
Kenaikan harga nasi dengan lauk, bakso siap santap, ayam goreng, dan makanan siap saji menjadi pendorong utama.
Berbeda dengan kondisi tahunan, secara bulanan Riau mengalami deflasi sebesar 0,08 persen pada Juli 2026.
Deflasi tersebut terutama dipengaruhi oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan dan transportasi.
Beberapa komoditas yang memberikan andil terhadap deflasi antara lain bawang merah, cabai merah, emas perhiasan, angkutan udara, mobil, telur ayam ras, jeruk, minyak goreng, ikan serai, tempe, dan beras.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa pergerakan harga komoditas di Riau masih sangat dinamis. Sejumlah barang yang sebelumnya menjadi sumber tekanan inflasi mengalami penurunan harga pada periode tertentu sehingga mampu menahan laju kenaikan harga secara bulanan.
Pemerintah Provinsi Riau menilai data inflasi yang dirilis BPS memiliki peran penting dalam menentukan arah kebijakan pengendalian harga.
Kadiskominfotik Provinsi Riau, Drs H Supriyadi MSi mengatakan, pemerintah membutuhkan data yang akurat untuk menjaga stabilitas harga sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat.
"Data yang disampaikan BPS menjadi dasar yang sangat penting dalam perumusan kebijakan pemerintah daerah, khususnya dalam menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat," ucapnya.
"Sinergi antara pemerintah daerah dan BPS akan terus diperkuat agar pengendalian inflasi di Riau semakin efektif," tukas Supriyadi.
Dengan inflasi tahunan yang masih berada di level 3,82 persen, pengendalian harga pangan, transportasi, biaya pendidikan, dan komoditas strategis lainnya menjadi tantangan yang perlu terus diantisipasi.
Di sisi lain, deflasi bulanan 0,08 persen memberikan sinyal bahwa tekanan harga dalam jangka pendek mulai mereda.
Pemerintah daerah bersama pemangku kepentingan terkait perlu menjaga pasokan dan distribusi agar koreksi harga tidak hanya bersifat sementara, sekaligus memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga.