PEKANBARU - Badai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang kini menembus angka Rp 17.606 per satu dolar AS mulai mengirimkan gelombang kejut ke pasar-pasar tradisional di Kota Pekanbaru.
Bukan hanya fluktuasi di papan saham, efek domino makroekonomi ini nyata dirasakan oleh para pedagang komoditas plastik yang kini berada di ambang ketidakpastian hebat.
Kenaikan harga bahan baku impor yang dipicu oleh lonjakan dolar AS diprediksi akan kembali melambungkan harga jual produk plastik di pasaran lokal.
Situasi ini membuat para pedagang eceran kebingungan menentukan strategi bertahan hidup di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya stabil.
Bagi para pedagang, plastik bukan sekadar alat pembungkus, melainkan urat nadi bagi ribuan pelaku UMKM kuliner di Pekanbaru. Ketika harganya tidak terkendali, margin keuntungan pedagang kecil langsung tergerus.
Dewi, salah seorang pedagang di Pasar Arengka Pekanbaru, tidak dapat menyembunyikan kekhawatirannya.
Menurutnya, lonjakan harga ini sebenarnya bukan barang baru, melainkan akumulasi dari tren kenaikan yang sudah terjadi sejak April lalu. Namun, posisi rupiah saat ini membuat situasi kian kritis.
"Kita yang kena imbas, makanya kita khawatir naik lagi. Kalau naik lagi, nanti kami jual berapa lagi? Sekarang barang banyak di kedai," keluh Dewi, Jumat (15/5/2026).
Ironisnya, demi mengantisipasi kelangkaan dan lonjakan harga yang lebih parah, Dewi telah mengambil langkah spekulatif dengan menyetok barang dalam jumlah besar sejak bulan lalu.
Kini, tumpukan pasokan plastik tersebut justru menanti pembeli dengan ketidakpastian harga baru yang membayangi.
Berdasarkan pantauan di lapangan, kenaikan harga komoditas plastik di tingkat pedagang eceran Pekanbaru saat ini sudah tergolong drastis, bahkan beberapa varian mengalami kenaikan hampir dua kali lipat:
Kenaikan tertinggi terlihat pada plastik kresek putih dan plastik PE ukuran satu kilogram yang mencatatkan lonjakan hingga lebih dari 70%.
Kondisi yang dihadapi para pedagang di Pekanbaru mencerminkan fenomena nyata bagaimana kebijakan moneter global langsung berdampak pada piring nasi masyarakat daerah.
Pedagang kini dihadapkan pada dua pilihan sulit: menaikkan harga dengan risiko kehilangan pelanggan, atau mempertahankan harga lama namun menanggung kerugian modal.