PEKANBARU – Ancaman kabut asap di Kota Pekanbaru, Riau, belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Hingga Jumat (23/10/2026), kualitas udara masih berada pada kategori tidak sehat, bahkan sejumlah kawasan seperti Panam dilaporkan mengalami kondisi sangat tidak sehat.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan masyarakat, terutama anak-anak dan warga yang rentan mengalami gangguan pernapasan.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Pekanbaru yang disampaikan dalam keterangan tersebut, hampir 11.000 warga telah terserang infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga awal pekan lalu.
Angka tersebut menjadi peringatan serius bahwa dampak kabut asap tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berpotensi memperberat persoalan kesehatan masyarakat apabila paparan terus berlangsung.
Anggota Fraksi Golkar DPRD Kota Pekanbaru, Syamsul Bahri, berharap kualitas udara di ibu kota Provinsi Riau itu dapat kembali bersih dan normal pada pekan depan.
Namun, harapan tersebut perlu diikuti langkah penanganan karhutla yang konsisten, termasuk pengendalian sumber asap agar pencemaran tidak terus berulang.
"Dampak kabut asap ini terhadap kesehatan masyarakat semakin mengkhawatirkan. Bahkan jumlah warga yang terserang ISPA juga terus bertambah," kata Syamsul Bahri, Jumat (23/10/2026).
Jumlah warga yang mengalami ISPA menjadi salah satu indikator penting untuk melihat dampak kabut asap terhadap kesehatan penduduk Pekanbaru.
Meski demikian, data tersebut masih perlu diperbarui secara berkala agar masyarakat mengetahui perkembangan kasus selama kualitas udara belum pulih.
"Ini kan ngeri, jika terus saja kabut asap melanda. Akan terus bertambah jumlahnya," ujarnya.
Kondisi tersebut menuntut perhatian serius dari pemerintah daerah dan instansi terkait. Pemantauan kualitas udara, penyampaian informasi risiko kesehatan secara terbuka, serta perlindungan terhadap kelompok rentan perlu berjalan beriringan dengan upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan.
Di sisi lain, penanganan kabut asap juga membutuhkan informasi yang jelas mengenai perkembangan kualitas udara di setiap kawasan.
Perbedaan kondisi antarlokasi, seperti yang dilaporkan terjadi di Panam, menjadi alasan penting bagi masyarakat untuk tidak hanya mengandalkan kondisi langit sebagai ukuran aman atau tidaknya udara untuk dihirup.
Persoalan kabut asap turut berdampak pada sektor pendidikan. Meskipun kegiatan belajar mengajar secara tatap muka kembali berlangsung pada pekan ini, sejumlah sekolah terpaksa memulangkan siswa lebih awal karena kondisi udara dinilai belum kondusif.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa pemulihan aktivitas masyarakat belum sepenuhnya sejalan dengan membaiknya kondisi lingkungan.
Anak-anak menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus karena paparan polusi udara dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan.
Syamsul menilai kondisi udara yang masih diselimuti asap harus menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan aktivitas sehari-hari.
Keselamatan peserta didik dan masyarakat tidak semestinya dikesampingkan demi mempertahankan rutinitas ketika kualitas udara belum memadai.
Karena itu, keputusan terkait kegiatan sekolah perlu mempertimbangkan hasil pemantauan kualitas udara dan rekomendasi instansi berwenang, bukan semata-mata melihat apakah aktivitas belajar mengajar sudah kembali berjalan.
Syamsul Bahri berharap kondisi tidak sehat yang menyelimuti Pekanbaru segera berakhir sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan aman dan nyaman.
"Tentunya kita terus berdoa, berharap kondisi tidak sehat ini segera berakhir. Sehingga masyarakat bisa kembali menjalankan aktivitas sehari-hari dengan aman dan nyaman," pungkasnya.