KENDARI - Narasi besar mengenai kesiapan infrastruktur kendaraan elektrifikasi di luar Pulau Jawa kerap memicu perdebatan.
Menjawab tantangan tersebut, PT Toyota-Astra Motor (TAM) mengambil langkah progresif dengan meluncurkan ekspedisi "Veloz Hybrid EV Lintas Nusa 2.0: Jelajah Sulawesi".
Menempuh rute nonstop selama 40 hari, perjalanan ini bukan sekadar ajang pamer teknologi, melainkan pembuktian langsung di atas aspal sejauh ribuan kilometer.
Memulai etape dari Kendari, Sulawesi Tenggara, ekspedisi ini akan mengitari sabuk luar Pulau Sulawesi hingga berakhir di Manado, Sulawesi Utara.
Berbeda dengan uji kendara biasa, medan yang dipilih merepresentasikan salah satu jalur paling menantang di Indonesia, kombinasi pegunungan curam, pesisir pantai yang dinamis, hingga hambatan jalan yang tak terduga di enam provinsi.
Toyota menerjunkan langsung satu unit Veloz Hybrid EV Q TSS Modellista, varian tertinggi dari MPV peraih gelar Car of the Year 2026 dari Otomotif Award.
Melalui sistem estafet yang melibatkan jurnalis nasional dan lokal, mobil rakitan anak bangsa ini dipaksa mengeluarkan potensi maksimalnya, baik dari segi efisiensi bahan bakar maupun ketahanan komponen mekanisnya.
Vice President Director PT TAM, Jap Ernando Demily menegaskan, pemilihan rute ini didasarkan pada keragaman karakteristik geografis Sulawesi yang mampu menguji batas kemampuan kendaraan modern.
"Setelah sukses dengan perjalanan serupa tahun lalu, kini kami melanjutkan ekspedisi Veloz Hybrid EV Lintas Nusa 2.0: Jelajah Sulawesi," ucap Jap Ernando Demily, Senin (8/6/2026).
Sejalan semangat Toyota Ada untuk Indonesia, Ernando mengungkapkan, pihaknya ingin memperlihatkan Quality, Durability, dan Reliability (QDR) MPV Hybrid ini melintasi berbagai kondisi jalanan di Indonesia.
"Sulawesi dipilih karena mampu merepresentasikan karakter jalan yang beragam, lengkap dengan panorama indah serta medan yang menantang," sambungnya.
Sejak pertama kali diperkenalkan secara global (World Premiere) sekitar enam bulan lalu pada ajang GJAW 2025, Veloz Hybrid EV memang dirancang untuk mendemokratisasi kendaraan ramah lingkungan.
Dengan rentang harga mulai dari Rp303 juta hingga Rp 389 juta (OTR Jakarta), kendaraan ini mendobrak stigma bahwa mobil berbasis baterai selalu berharga mahal.
Strategi ini terbukti jitu, di mana angka pemesanan telah menembus 12.000 unit hingga akhir Mei 2026.
Salah satu hambatan psikologis konsumen daerah dalam beralih ke kendaraan elektrifikasi adalah kecemasan akan ekosistem pengisian daya (charging station).
Di sinilah keunggulan teknologi Hybrid Electric Vehicle (HEV) generasi terbaru milik Toyota mengambil peran.
Tanpa perlu ketergantungan pada colokan listrik eksternal, sistem hybrid ini mengisi dayanya sendiri secara mandiri melalui siklus berkendara harian.
Rute yang dilewati mencakup titik-titik krusial seperti Kendari, Morowali, Palopo, Makassar, Tana Toraja, Palu, Luwuk, Ou, Tolitoli, Gorontalo, hingga Manado.
Sepanjang jalur berliku ini, tim ekspedisi juga mengemban misi kebudayaan untuk mengeksplorasi potensi wisata alam dan kuliner lokal, sekaligus melihat langsung kontribusi mobilitas Toyota terhadap roda ekonomi daerah.
Marketing Director PT TAM, Bansar Maduma menyatakan, hasil dari validasi lapangan oleh media ini diharapkan menjadi bukti nyata bagi masyarakat yang masih ragu terhadap kepraktisan teknologi hybrid di wilayah pelosok.
"Ekspedisi Veloz Hybrid EV Lintas Nusa siap menjawab pertanyaan sebagian orang atas kemampuan teknologi Hybrid Toyota beradaptasi di lingkungan menantang Pulau Sulawesi," ujar Bansar.
masih kata Bansar, melalui pengujian langsung oleh rekan media nasional, Toyota berharap hasil perjalanan ini dapat tersampaikan secara organik dan sejalan dengan pengalaman nyata para pelanggan.
"Melalui perjalanan lintas Sulawesi ini, turut memperlihatkan ekosistem Hybrid Toyota sanggup mendukung mobilitas pelanggan sampai pelosok wilayah tanpa perlu mengubah kebiasaan sehari-hari," pungkas Bansar Maduma.(rilis)