SIAK — Upaya mengangkat sejarah Kesultanan Siak ke panggung nasional kembali digaungkan Bupati Siak Dr. Afni Zulkifli, M.Si. Kali ini, Afni memperjuangkan Sultan Siak ke-2, Tengku Buwang Asmara yang bergelar Sultan Mahmud Abdul Jalil Muzaffarsyah, agar ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Perjuangan tersebut disampaikan Afni ketika bertemu Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Jakarta, Jumat malam, 28 Agustus 2026. Pertemuan itu berlangsung setelah Afni menerima penghargaan kategori Pendorong Tata Kelola Sumber Daya Alam Berkelanjutan dari detik.com.
Dalam pertemuan tersebut, Afni tidak hanya menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah pusat terhadap pelestarian cagar budaya di Siak. Ia juga kembali mengingatkan pemerintah mengenai usulan agar Tengku Buwang Asmara mendapat gelar Pahlawan Nasional.
"Beliau Sultan Siak yang secara nyata ikut berperang melawan penjajah Belanda di masanya. Kami mengusulkan Sultan Siak ke 2 ini dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional, selain Sultan terakhir Siak, Sultan Syarif Kasim II. Kajian dan usulan ini sebenarnya sudah lama, dan terus kita perjuangkan bersama," ungkap Bupati Afni saat bertemu Fadli Zon, Jumat malam, 28 Agustus 2026 di Jakarta.
Afni juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan RI atas dukungan dana revitalisasi Istana Asserayah Hasyimiyah dan Balai Rung Sri sebesar Rp5,5 miliar yang diperoleh tahun ini.
Menurut Afni, perhatian pemerintah pusat terhadap peninggalan Kesultanan Siak menjadi bagian penting dalam menjaga warisan sejarah dan kebudayaan Melayu di Riau.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyambut baik upaya tersebut. Ia menilai Kesultanan Siak memiliki posisi penting dalam perjalanan sejarah Indonesia, termasuk karena menjadi salah satu kesultanan yang memberikan pengakuan dan bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
"Kesultanan Siak ini kan adalah Kesultanan yang termasuk pertama memberikan pengakuan dan bergabung ke NKRI, bahkan Sultannya menyerahkan harta kekayaannya dan kedaulatannya kepada Republik Indonesia. Jadi luar biasa, kita sangat menghargai perjalanan sejarah di Siak," ungkap Fadli Zon dikutip dari MCRiau.
Fadli juga memastikan pemerintah akan terus mendukung pelestarian cagar budaya sekaligus membuka ruang kajian terhadap usulan Tengku Buwang Asmara sebagai Pahlawan Nasional.
"InsyaAllah akan dikaji bersama. Terkait bantuan cagar budaya, bantuan itu akan terus ada dan sebetulnya ini arahan dari Bapak Presiden, Bapak Prabowo Subianto," ujar Fadli yang berjanji akan segera berkunjung ke Siak.
Jejak Perang Guntun
Dorongan menjadikan Tengku Buwang Asmara sebagai Pahlawan Nasional memiliki pijakan pada rekam jejak perlawanannya terhadap kolonial Belanda.
Dalam catatan sejarah, Tengku Buwang dikenal sebagai sosok yang disegani sekaligus ditakuti Belanda. Salah satu peristiwa paling penting dalam perjuangannya adalah Perang Guntung, konflik antara Kesultanan Siak dan Belanda yang berlangsung di Pulau Guntung, kawasan muara Sungai Siak.
Tengku Buwang dinobatkan sebagai Sultan Siak di Buatan pada 1746 M setelah Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah atau Raja Kecil wafat. Empat tahun kemudian, pada 1750, ia memindahkan pusat kedudukannya ke Sungai Mempura.
Pemindahan tersebut dilakukan untuk menjauhkan pusat pemerintahan dari pengaruh Belanda. Namun, Belanda terus berupaya mendapatkan akses perdagangan di Sungai Siak.
Kesempatan akhirnya diberikan dengan syarat perdagangan bebas dan tanpa monopoli. Belanda kemudian mendirikan loji di Guntung, yang berada di muara Sungai Siak.
Dalam praktiknya, keberadaan loji justru digunakan Belanda untuk memaksakan kepentingan dagang. Pedagang yang melintas dipaksa menjual barang dagangannya, sementara cukai juga dikenakan kepada orang yang lalu-lalang.
Kebijakan tersebut memicu protes dari Sultan Siak. Sengketa perdagangan kemudian berkembang menjadi konflik bersenjata yang dikenal sebagai Perang Guntung.
Perang tersebut berlangsung pada 1750-1760. Pasukan Kerajaan Siak melakukan serangan terhadap Belanda di Pulau Guntung dan membuat pihak kolonial kehilangan sejumlah bahan perdagangan.
Kondisi itu antara lain tercatat dalam laporan Gubernur Malaka kepada Gubernur Jenderal Batavia tertanggal 8 Maret 1758. Laporan tersebut menyebut Sungai Siak sebagai salah satu pusat perdagangan penting yang menghasilkan berbagai komoditas dari pedalaman Sumatera, termasuk emas yang memiliki nilai strategis bagi perdagangan Melaka.
Perlawanan dan strategi Tengku Buwang menghadapi Belanda kemudian menempatkannya sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah Kesultanan Siak serta perjuangan masyarakat Melayu di kawasan Selat Malaka.
Kini, jejak perjuangan tersebut kembali mendapat perhatian di tingkat nasional melalui usulan agar Tengku Buwang Asmara ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Bagi Pemerintah Kabupaten Siak, perjuangan tersebut bukan sekadar tentang mengangkat nama seorang Sultan. Lebih dari itu, langkah ini dinilai sebagai upaya membawa sejarah Kesultanan Siak dan kontribusi masyarakat Melayu dalam perjalanan bangsa Indonesia ke panggung nasional.