SIAK - Di balik setiap helikopter yang lepas landas menuju kawasan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terdapat personel yang siap menghadapi situasi paling berisiko demi menghentikan kobaran api.
Salah satunya adalah Muhammad Sutrisno, Koordinator Tim Reaksi Cepat (TRC) Regu Pemadam Kebakaran (RPK) PT Arara Abadi–APP Group, yang telah mengabdikan diri selama 15 tahun dalam penanggulangan karhutla di Provinsi Riau.
Perjalanan pria berusia 36 tahun itu berawal dari sebuah mimpi sederhana saat masih duduk di bangku sekolah.
Kala itu, setiap kali melihat helikopter melintas di langit Medan, ia membayangkan suatu hari bisa berada di dalamnya.
Harapan masa kecil tersebut akhirnya menjadi kenyataan. Namun, bukan sebagai penumpang yang menikmati panorama dari udara, melainkan sebagai personel yang diterbangkan menuju titik-titik kebakaran paling berbahaya.
"Kalau ditanya kenapa masuk ke pekerjaan ini, awalnya karena mimpi waktu masih sekolah," ucap Sutrisno saat berbincang dengan halloriau.com, Rabu (15/7/2026).
"Dulu saya sering lihat helikopter terbang. Dalam hati saya bilang, kapan ya bisa naik helikopter," kenangnya.
Seiring bertambahnya pengalaman, sensasi menaiki helikopter tidak lagi menjadi sesuatu yang membanggakan.
Baginya, setiap penerbangan justru identik dengan panggilan tugas menghadapi kebakaran.
"Sekarang malah kalau bisa jangan terbang lagi. Karena biasanya kalau naik heli itu pasti menuju lokasi kebakaran," ujarnya.
Menjadi Personel Elite Pemadam Karhutla
Sutrisno bukan anggota pemadam biasa. Ia merupakan bagian dari TRC, unit khusus PT Arara Abadi-APP Group yang hanya diisi personel terpilih setelah melewati seleksi ketat.
Sebelum resmi bertugas, ia bersama anggota lainnya menjalani pendidikan intensif selama 3 bulan bersama instruktur asal Spanyol di pusat pelatihan PT Arara Abadi.
Pelatihan tersebut mencakup penguatan fisik, teknik membaca arah angin, analisis perilaku api, prosedur keselamatan personel hingga kemampuan mengambil keputusan dalam situasi darurat yang berubah sangat cepat.
"TRC memang pelatihannya khusus. Analisa harus bagus, fisik harus kuat, karena tugasnya memang bergerak cepat di lokasi kebakaran," jelasnya.
Berbeda dengan regu pemadam reguler yang mengandalkan kendaraan patroli darat, personel TRC lebih banyak menggunakan helikopter agar dapat menjangkau titik api dengan waktu yang lebih singkat.
"Kalau regu biasa menggunakan kendaraan patroli. Kami banyak menggunakan helikopter supaya lebih cepat sampai ke lokasi," sebutnya.
Saat ini PT Arara Abadi memiliki delapan tim TRC yang masing-masing terdiri dari tujuh personel.
Dalam waktu dekat perusahaan akan menambah tiga tim baru guna memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla.
Nyaris Terjebak Kobaran Api
Dari berbagai operasi yang dijalani, pengalaman paling membekas terjadi pada 2019 ketika tiga tim TRC berjumlah 21 personel diterjunkan membantu pemadaman kebakaran besar di wilayah Rokan, di luar area konsesi perusahaan.
Vegetasi yang sangat kering membuat api bergerak cepat dan sulit dikendalikan.
Saat itu Sutrisno bertugas mengawasi keselamatan personel dari sisi luar sembari memantau perubahan arah angin.
Situasi berubah drastis ketika angin tiba-tiba berbalik arah. Dalam hitungan detik, kobaran api yang semula menjauh justru mengepung personel yang sedang memadamkan api.
"Saya langsung teriak, keluar, sekarang sudah tidak aman. Angin berbalik," ujarnya.
Sebagian anggota sempat bertahan karena merasa proses pemadaman hampir selesai.
Namun tidak lama kemudian api mulai membakar jalur selang, sehingga seluruh personel segera mundur.
"Kita langsung mundur mengikuti jalur selang. Itu satu-satunya panduan untuk keluar karena jarak pandang sudah hilang tertutup asap," kenangnya.
Kabut asap pekat membuat pandangan hampir nol. Jalur selang menjadi satu-satunya penunjuk arah menuju lokasi pompa air yang lebih aman.
Di belakang mereka, kobaran api terus mendekat. Bahkan satu unit ekskavator yang membantu membuka akses nyaris ikut dilalap api.
"Operator alat itu terus mengucap Ya Allah… Ya Allah, karena panasnya sudah luar biasa," tutur Sutrisno.

Keselamatan Tim Menjadi Prioritas
Setelah berhasil keluar dari kepungan api, perjuangan belum usai. Beberapa personel mengalami dehidrasi, muntah, hingga sesak napas akibat terlalu lama menghirup asap.
Sutrisno bersama anggota lainnya saling membantu mengevakuasi rekan yang kondisinya melemah menuju titik aman sebelum akhirnya mendapatkan penanganan medis dan terapi oksigen.
"Kami saling membantu. Ada teman yang kita bopong sampai benar-benar keluar ke lokasi aman," katanya.
Pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga bahwa ancaman terbesar dalam operasi pemadaman bukan hanya kobaran api, melainkan perubahan arah angin yang dapat mengubah situasi hanya dalam hitungan detik.
Karena itu setiap personel TRC selalu dibekali logistik darurat, air minum, perlengkapan keselamatan, hingga tabung oksigen portabel sebelum diterjunkan ke lapangan.
Bagi Sutrisno, keberhasilan operasi tidak diukur dari seberapa dekat seorang pemadam dengan api, tetapi dari kemampuan memastikan seluruh anggota tim kembali dengan selamat.
Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Ancaman El Nino
Menghadapi potensi musim kemarau yang diperkirakan dipengaruhi fenomena El Nino, PT Arara Abadi memperkuat sistem mitigasi kebakaran melalui berbagai langkah preventif.
Perusahaan telah membangun 34 pos akses kontrol dan mitigasi di kawasan rawan karhutla.
Sebanyak empat pos berada di Kabupaten Pelalawan, sementara enam pos ditempatkan di wilayah Duri.
Pos-pos tersebut melibatkan unsur TNI dan Polri sebagai bagian dari pengawasan lapangan sekaligus edukasi kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Seluruh infrastruktur siaga tersebut telah dipersiapkan sejak 2025 sebagai strategi jangka panjang menghadapi peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Selain menambah jumlah personel TRC, perusahaan juga membagi wilayah operasi udara ke dalam tiga zona helikopter sehingga respons terhadap kemunculan titik api dapat dilakukan lebih cepat dan efektif selama musim kemarau.