SIAK - Sudah hampir sepekan, lantai Aula Gedung Balai Tanah Terpadu Perdesaan (BTTP) di Kampung Muara Kelantan, Kecamatan Sungai Mandau, berubah menjadi tempat penampungan warga terdampak banjir.
Tikar, pakaian dan barang kebutuhan sehari-hari masih berserakan, menjadi saksi aktivitas pengungsi yang belum bisa kembali ke rumah.
Sejumlah anak tampak duduk berdesakan di sudut aula, sementara para orangtua berupaya mengeringkan pakaian yang sempat terendam banjir.
Meski genangan air di permukiman mulai menurun, kondisi rumah yang masih lembap memaksa warga tetap bertahan di pengungsian.
Siti (34), salah seorang pengungsi, mengaku banjir kali ini sangat menguras tenaga dan emosi, terutama bagi anak-anak.
“Air memang sudah mulai turun, tapi rumah kami masih lembap. Anak-anak susah tidur, apalagi yang masih kecil,” ujarnya.
Ia berharap penanganan banjir segera tuntas agar warga bisa kembali beraktivitas normal.
Kekhawatiran terhadap kesehatan anak menjadi alasan utama dirinya memilih bertahan di pengungsian.
Keluhan serupa disampaikan Ahmad (47). Ia menyebut banjir telah melumpuhkan aktivitas ekonomi warga.
“Kami tidak bisa bekerja. Jalan ke kebun masih tergenang, sekolah anak-anak juga terganggu,” katanya.
Meski demikian, Ahmad mengaku bersyukur karena kebutuhan makan sehari-hari masih terbantu melalui dapur umum dan bantuan dari pemerintah.
Berdasarkan data BPBD Siak, di Kampung Muara Kelantan saat ini terdapat 12 kepala keluarga yang masih mengungsi.
Jumlah tersebut terdiri dari satu lansia, 24 orang dewasa, lima anak SD, enam anak SMP, empat anak SMA, dua balita, dan satu bayi.
Banjir di wilayah ini telah berlangsung selama enam hari. Kondisi air berangsur surut, namun pengungsi belum berani kembali karena lingkungan rumah belum sepenuhnya aman.
Secara umum, banjir hidrometeorologi masih melanda sejumlah kecamatan di Kabupaten Siak dalam sepekan terakhir.
Di Kecamatan Sungai Mandau, genangan di Kampung Teluk Lancang dilaporkan berkurang.
Sementara itu, banjir di Kampung Sei Selodang telah surut setelah dilakukan pencucian parit dan kanal melalui kerja sama perusahaan dan swadaya masyarakat.
Kalaksa BPBD Siak, Novendra Kasmara menjelaskan, di Kecamatan Mempura, banjir di Kampung Benteng Hulu, Dusun Sehati, masih menyisakan genangan di halaman rumah dan akses kebun warga, dengan lima rumah terdampak.
“Di Kecamatan Siak, banjir di Kampung Rawang Air Putih juga mulai berkurang setelah alat berat perusahaan bekerja membersihkan kanal,” ujarnya.
Namun, genangan air masih ditemukan di Kampung Mengkapan, Kecamatan Sungai Apit.
Sekolah dan beberapa rumah warga masih terendam dengan ketinggian air mencapai sekitar 50 sentimeter akibat pasang air laut.
“Warga di lokasi tersebut memilih bertahan di rumah masing-masing,” kata Kasmara.
Kondisi serupa juga terjadi di Kampung Pencing Bekulo, Kecamatan Kandis, serta Kampung Dosan, Kecamatan Pusako, meski genangan dilaporkan mulai turun.
Di Kampung Dosan, banjir yang telah memasuki hari ke-8 memaksa warga mengungsi ke tenda BPBD.
Data BPBD mencatat, di lokasi tersebut terdapat enam lansia, 43 orang dewasa, lima anak TK, 11 anak SD, enam anak SMP, dua anak SMA, 12 balita, satu ibu hamil, dan dua bayi.
Sejumlah unsur siaga di lokasi, mulai dari BPBD, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, TNI, hingga relawan.
“Sarana yang disiapkan antara lain tenda pengungsi, tangki air bersih, dan mobil dapur umum,” jelasnya.
Kasmara menambahkan, sebagian besar wilayah terdampak saat ini menunjukkan tren penurunan genangan.
Namun, penanganan belum sepenuhnya rampung karena masih menunggu pengerahan alat berat di beberapa titik serta dipengaruhi kondisi pasang air dan kanal.