PEKANBARU - Dipandang sebagai solusi untuk mengatasi masalah abrasi dan longsor tebing sungai di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, limbah sabut kelapa yang selama ini belum dimanfaatkan dengan baik.
Sekelompok mahasiswa Universitas Lancang Kuning (Unilak) Riau berupaya melindungi tebing sungai dengan menggunakan serat sabut kelapa dalam proyek sosial "CocoGuard_Ideation: Inovasi Limbah Sabut Kelapa Mitigasi Abrasi."
Mahasiswa Fakultas Kehutanan dan Sains Unilak Putri Louisa, Fariusman, dan Nurul Adi Aidi berkolaborasi dengan masyarakat untuk mendorong inovasi ini. Dr. Dodi Sukma, Associate Professor, adalah dosen pembimbing mereka.
Desa Sanglar dan Desa Pulau Kecil di Kecamatan Reteh, Kabupaten Indragiri Hilir, akan menjadi lokasi proyek percontohan.
Kondisi Inhil, yang dikenal sebagai salah satu sentra kelapa, adalah sumber ide ini. Pada 2024, produksi kelapa rakyat wilayah tersebut akan mencapai 310.706 ton. Produksi menghasilkan banyak limbah sabut kelapa yang dapat dimanfaatkan kembali.
Masyarakat yang tinggal di tepian sungai, di sisi lain, menghadapi bahaya abrasi dan longsor tebing. Ancaman tersebut bahkan sempat terjadi pada Juni 2026 di Kuala Enok, Kecamatan Tanah Merah.
Pemerintah Provinsi Riau (Pemprov) melaporkan bahwa longsor di wilayah tersebut membahayakan empat belas rumah, dan empat di antaranya terseret ke sungai. Salah satu alasan tim CocoGuard memilih Reteh sebagai lokasi percontohan adalah situasi tersebut.
Menurut Associate Professor Dr. Dodi Sukma, lokasi tersebut memiliki dua kemungkinan: limbah sabut kelapa yang melimpah dan tingginya risiko pengikisan tanah di tepian sungai. CocoGuard tidak hanya cerdas tetapi juga ramah lingkungan.
"Sabut kelapa yang kuat dan alami akan dikumpulkan dan diolah menjadi media berbasis serat alami yang disebut CocoGuard. Media ini akan dipasang di tebing sungai yang rawan abrasi. Diharapkan bahwa material berbasis serat alami ini akan berfungsi sebagai pelindung awal permukaan tanah dari pengikisan," sebut Dr. Dodi.
Dr. Dodi juga merujuk penelitian Asha'ari et al. (2021), yang menunjukkan bahwa permukaan yang tidak mendapatkan perlindungan dapat mengalami penurunan kehilangan tanah lebih besar daripada permukaan yang berbasis kelapa.
Konsep CocoGuard tidak terbatas pada bahan-bahan yang ditemukan dalam sabut kelapa. Setelah pemasangan, tim akan menanam vegetasi untuk memperkuat tanah di kemudian hari.
Putri Louisa, ketua tim, menyatakan bahwa keunggulan proyek terletak pada partisipasi masyarakat dalam setiap langkah.
Kelompok masyarakat dan kelompok pengolah sabut kelapa akan melakukan banyak hal, seperti mengumpulkan limbah, mengolah sabut, membuat media CocoGuard, memasang di tebing sungai, menanam tanaman, dan memantau. "Yang membuat CocoGuard unik adalah bahwa itu tidak hanya berfokus pada teknologi tetapi juga pada pemberdayaan," kata Putri.
Putri mengatakan metode ini menggunakan sabut kelapa untuk melindungi tebing dalam jangka pendek dan vegetasi untuk memperkuat tebing dalam jangka panjang.
Manfaat yang diharapkan juga tidak hanya dari sisi lingkungan. Pemanfaatan sabut kelapa dapat membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat yang selama ini mengolah limbah tersebut.
"Manfaatnya pun berlapis. Secara lingkungan, mampu mengurangi abrasi secara alami. Secara sosial, meningkatkan kapasitas dan keterampilan masyarakat dalam menghadapi risiko bencana. Secara ekonomi, limbah yang tak bernilai kini memiliki nilai guna dan berpotensi menjadi produk bernilai ekonomi yang membuka sumber pendapatan tambahan bagi kelompok pengolah sabut kelapa," sebut Putri.
Gagasan tersebut kemudian mendapat kesempatan untuk dikembangkan setelah proyek CocoGuard lolos dalam program Pertamina Foundation PFmuda 2026. Pengumuman kelolosan dilakukan pada awal September 2026 bersama proyek mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Bagi tim, program tersebut menjadi kesempatan untuk menguji pemanfaatan material lokal dalam menghadapi persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat.
Melalui konsep "dari limbah menjadi pelindung lingkungan", sabut kelapa tidak lagi hanya dipandang sebagai limbah dari komoditas utama masyarakat Inhil. Material tersebut berpotensi menjadi bagian dari upaya mitigasi abrasi di kawasan tepian sungai.
Jika proyek percontohan di Desa Pulau Kecil menunjukkan hasil yang dapat dievaluasi dan dikembangkan, konsep CocoGuard diharapkan dapat diterapkan di titik-titik rawan abrasi lainnya, baik di Desa Sanglar maupun wilayah tepian sungai lainnya di Kabupaten Indragiri Hilir.
"Kami merasa senang atas lolos program Pertamina Foundation 2026. Tentu kami (mahasiswa) ingin berkontribusi bagi kemajuan daerah," ujar Putri. (rls)