SIAK - Limbah peternakan yang selama ini kerap dianggap sebagai masalah justru dimanfaatkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) menjadi pupuk kompos yang bernilai guna bagi masyarakat.
Inovasi tersebut dilakukan Kelompok 2 KKN Umri Desa Rawang Air Putih, Kabupaten Siak, melalui kegiatan pembuatan kompos di halaman Kantor Desa Rawang Air Putih, Senin (24/8/2026).
Bahan utama yang digunakan berupa kotoran sapi, kotoran kambing, serta daun pisang kering. Mahasiswa juga memanfaatkan EM4, dolomit, serta gula merah dan gula putih sebagai bahan pendukung proses pengomposan.
Ketua Kelompok 2 KKN UMRI, Hiban Nur Hakiki, mengatakan program tersebut disesuaikan dengan potensi yang dimiliki Desa Rawang Air Putih. Selain perkebunan kelapa sawit, desa tersebut juga memiliki aktivitas peternakan sapi dan kambing yang cukup banyak.
"Desa Rawang Air Putih memiliki banyak potensi, mulai dari perkebunan sawit hingga peternakan sapi dan kambing. Mayoritas masyarakat di sini berprofesi sebagai petani dan peternak. Oleh karena itu, kami mahasiswa KKN mencoba berinovasi memanfaatkan kotoran sapi dan kambing menjadi pupuk kompos agar limbah tersebut tidak terbuang sia-sia," ujar Hiban.
Menurutnya, pengolahan limbah peternakan menjadi kompos tidak hanya dapat membantu menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
"Harapan saya ke depannya, pembuatan kompos ini dapat meningkatkan perekonomian masyarakat Desa Rawang Air Putih serta membuat warga semakin maju tanpa harus terus bergantung pada pupuk kimia," tambahnya.
Proses pembuatan kompos diawali dengan mencampurkan kotoran sapi dan kambing dengan daun pisang kering. Campuran tersebut kemudian diberi EM4, dolomit, serta campuran gula merah dan gula putih untuk membantu proses pengomposan.
Setelah seluruh bahan tercampur secara merata, material ditempatkan pada media pengomposan untuk menjalani proses fermentasi. Kompos tersebut akan difermentasi selama tujuh hari sebelum digunakan.
Setelah proses fermentasi selesai, kompos direncanakan diaplikasikan pada perkebunan kelapa sawit yang berada di lingkungan Desa Rawang Air Putih.
Perwakilan Desa Rawang Air Putih, Samsul Bahari, mengapresiasi program kerja mahasiswa KKN UMRI tersebut. Ia berharap inovasi itu dapat terus dimanfaatkan oleh masyarakat setelah mahasiswa menyelesaikan kegiatan KKN.
"Inilah proker dari KKN Umri tahun 2026 tentang kompos kotoran sapi dan kotoran kambing. Selesai kami kerjakan, sekarang kita tinggal menunggu fermentasi selama 7 hari, kemudian akan kita aplikasikan ke perkebunan kelapa sawit," ujar Samsul Bahari di sela-sela kegiatan.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa berharap petani dan peternak di Desa Rawang Air Putih dapat mengembangkan pembuatan pupuk kompos secara mandiri. Limbah peternakan yang sebelumnya berpotensi terbuang dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat untuk mendukung sektor pertanian dan perkebunan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia. (rls)