PEKANBARU – Astindo Riau menilai lonjakan kunjungan wisatawan mancanegara ke Riau merupakan momentum emas yang harus dimanfaatkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara tetangga dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat Indonesia, khususnya Riau, semakin menarik bagi wisatawan Malaysia dan Singapura.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau mencatat sebanyak 31.747 kunjungan wisatawan mancanegara pada periode terbaru. Sebanyak 7.505 wisatawan masuk melalui empat pintu utama imigrasi, sedangkan 24.242 kunjungan lainnya tercatat melalui Mobile Positioning Data (MPD) di Kabupaten Bengkalis.
Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru menjadi pintu masuk terbesar dengan 4.028 kunjungan, disusul Pelabuhan Dumai sebanyak 1.647 kunjungan, Pelabuhan Bengkalis 1.143 kunjungan, dan Pelabuhan Tanjung Harapan di Kepulauan Meranti sebanyak 687 kunjungan.
Kepala BPS Provinsi Riau, Asep Riyadi, menyebut peningkatan kunjungan melalui pintu masuk utama mencapai 59,44 persen dibandingkan periode sebelumnya. Malaysia menjadi negara penyumbang wisatawan terbesar dengan 15.940 kunjungan atau sekitar 50,21 persen dari total wisman, diikuti Tiongkok, Filipina, Singapura, dan India.
Menanggapi tren tersebut, Ketua DPD Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Riau, Harpina Diansari, mengatakan meningkatnya kunjungan wisatawan Malaysia dan Singapura ke Pekanbaru maupun daerah lain di Indonesia dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar rupiah.
"Fenomena meningkatnya kunjungan wisatawan Malaysia dan Singapura ke sejumlah kota di Indonesia seperti Batam, Padang, dan Pekanbaru dalam beberapa waktu terakhir bukanlah sesuatu yang terjadi tanpa alasan. Salah satu faktor yang paling terasa adalah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara tetangga," ujarnya, Jumat (10/7/2026).
Mengacu terkini pada kurs Bank Indonesia, nilai jual satu Ringgit Malaysia mencapai Rp4.461,46, sedangkan kurs belinya Rp4.411,65. Kondisi ini membuat harga barang, jasa, kuliner hingga akomodasi di Indonesia menjadi lebih terjangkau bagi wisatawan asing.
"Bagi masyarakat Malaysia dan Singapura, berbondong-bondong ke Indonesia saat nilai rupiah melemah ibarat mendapatkan diskon besar secara alami. Dengan jumlah uang yang sama, mereka memperoleh lebih banyak barang, lebih banyak pengalaman wisata, dan lebih banyak pilihan kuliner dibandingkan jika berbelanja di negara mereka sendiri. Apalagi momen-momen tersebut mereka share di akun media sosial, sehingga memberi dampak lebih luas," katanya.
Harpina menilai kondisi tersebut harus dimanfaatkan pelaku industri pariwisata untuk meningkatkan nilai ekonomi melalui paket wisata yang mampu memperpanjang lama tinggal wisatawan.
"Bagi pelaku usaha perjalanan wisata atau tour travel, kondisi saat ini justru membuka peluang besar untuk mengembangkan paket wisata domestik yang terintegrasi. Selama ini banyak wisatawan Malaysia dan Singapura datang hanya untuk berbelanja atau kunjungan singkat. Padahal mereka bisa didorong untuk memperpanjang masa tinggal dengan menawarkan paket wisata yang lebih lengkap dan terintegrasi. Misalnya pelancong yang datang ke Riau juga kita tawarkan paket ke destinasi wisata Sumbar misalnya," jelas Owner Aras Tour & Travel ini.
Menurutnya, wisatawan yang datang ke Riau dapat diarahkan menikmati wisata alam, religi, budaya hingga paket perjalanan lintas provinsi menuju Harau dan Bukittinggi di Sumatera Barat.
"Konsep ini tidak hanya mengajak wisatawan datang untuk berbelanja, tetapi pulang membawa pengalaman yang jauh lebih berkesan," ungkapnya.
Harpina juga menilai Riau memiliki keunggulan karena didukung penerbangan langsung ke Malaysia serta kedekatan budaya yang menjadi nilai tambah dibandingkan daerah lain.
"Saya melihat Riau memiliki peluang yang sangat besar memanfaatkan momentum ini. Selain dekat dengan Malaysia melalui penerbangan langsung, masyarakat Minangkabau memiliki hubungan emosional dan historis yang kuat dengan masyarakat Negeri Jiran. Faktor kedekatan budaya ini merupakan modal yang tidak dimiliki banyak daerah lain," katanya.
Ia mengingatkan seluruh pelaku usaha pariwisata agar meningkatkan kualitas layanan untuk menyambut kenaikan jumlah wisatawan.
"Homestay, hotel, restoran, UMKM, pusat oleh-oleh, hingga transportasi wisata harus bersiap menyambut peningkatan kunjungan tersebut. Kita tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam, tetapi juga harus memberikan pelayanan yang ramah, akses yang mudah, harga yang kompetitif, dan pengalaman wisata yang berkualitas," ujarnya.
Selain itu, Harpina mendorong pemerintah daerah dan pelaku industri memperkuat promosi wisata lintas negara agar wisatawan tidak hanya datang untuk berbelanja, tetapi juga menghabiskan waktu lebih lama di Riau.
"Yang lebih penting lagi, pemerintah daerah dan pelaku industri harus berkolaborasi memperkuat promosi wisata lintas negara. Saat wisatawan Malaysia dan Singapura sedang menjadikan Indonesia sebagai tujuan belanja karena faktor kurs, maka tugas kita adalah mengubah wisata belanja itu menjadi wisata yang menghasilkan lama tinggal lebih panjang dan pengeluaran yang lebih besar," tegasnya.
Meski pelemahan rupiah bukan kondisi ideal bagi perekonomian nasional, Astindo Riau menilai situasi tersebut dapat menjadi peluang strategis bagi sektor pariwisata jika dikelola secara optimal.
"Pada akhirnya, pelemahan rupiah memang bukan kondisi yang ideal bagi perekonomian secara keseluruhan. Namun di sektor pariwisata, situasi ini dapat menjadi peluang emas apabila dikelola secara tepat. Para pelaku usaha wisata harus mampu melihat fenomena ini bukan sekadar sebagai keramaian sementara, melainkan sebagai pintu masuk untuk membangun pasar wisata yang lebih kuat dan berkelanjutan," pungkas Harpina.