PELALAWAN - Di saat sebagian besar wilayah Indonesia mulai bersiap menghadapi dampak kekeringan akibat fenomena El Nino, Kabupaten Pelalawan justru terus diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dalam sepekan terakhir.
Menariknya, guyuran air dari langit yang membasahi Bumi Lancang Kuning pertengahan Mei ini murni merupakan fenomena alam, bukan hasil rekayasa manusia.
Kalaksa BPBD Pelalawan, Zulfan MSi menuturkan, fenomena ini bukanlah hasil dari Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang kerap diinisiasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) maupun BPBD Riau.
"Seharusnya saat ini kita sudah memasuki musim kemarau, tapi peluang hujan ternyata masih cukup tinggi. Cuaca sekarang memang menjadi sangat sulit ditebak," ujar Zulfan, Minggu (17/5/2026).
Anomali cuaca ini menghadirkan situasi yang kontradiktif. Di satu sisi, kehadiran hujan di tengah musim kemarau menjadi berkah tersendiri untuk sektor kehutanan.
Karakteristik El Nino tahun 2026 ini sebenarnya diprediksi jauh lebih kering dan menyengat dibanding tahun-tahun sebelumnya, yang secara teori meningkatkan risiko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) secara drastis.
Namun, berkat hujan alami yang turun hampir setiap hari, kemunculan titik panas (hotspot) maupun titik api (firespot) di wilayah-wilayah rawan kebakaran dapat ditekan secara signifikan.
Sifat basah dari hujan ini menjaga kelembapan gambut pelalawan tetap stabil.
Meski begitu, Zulfan mengingatkan, masyarakat tidak boleh lengah. Bergesernya potensi risiko dari kebakaran menjadi genangan air kini menjadi fokus baru pihak berwenang.
Hujan lebat yang terjadi terus-menerus membawa ancaman baru, banjir bandang dan luapan air sungai.
"Ada dua sisi mata uang di sini. Di daerah yang biasanya rawan Karhutla, saat ini kondisinya relatif aman dari kebakaran," tuturnya.
"Tapi di sisi lain, wilayah yang rawan banjir justru harus meningkatkan kewaspadaan, terutama untuk kawasan Pangkalan Kerinci," tukasnya.