www.halloriau.com
BREAKING NEWS :
Hal yang Tidak Membatalkan Puasa, Tapi Menghapus Pahala Berpuasa
Otonomi
Pekanbaru | Dumai | Inhu | Kuansing | Inhil | Kampar | Pelalawan | Rohul | Bengkalis | Siak | Rohil | Meranti
 
Habis Gelap, Terbitlah Pelalawan Terang
Minggu, 28 Februari 2021 - 06:42:24 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

TAHUN 2035 mendatang, diproyeksikan kebutuhan energi dunia akan meningkat sekitar 45% atau rata-rata mengalami peningkatan sebesar 1,6% per tahun. Data ini dilansir dari https://www.esdm.go.id.

Disebutkan, bahwa kebutuhan energi sebesar ini mencerminkan tumbuhnya populasi penduduk dan juga pengembangan ekonomi ditingkat global. Di Indonesia sendiri, di tahun 2025 nanti atau empat tahun dari saat ini, Pemerintah telah menetapkan target bauran energi pembangkit hingga akhir 2025 untuk Batubara sebesar 54,4%, Energi Baru Terbarukan (EBT) 23,0%, Gas 22,2% dan Bahan Bakar Minyak (BBM) 0,4%.

Pemerintah juga telah mengesahkan bauran energi pembangkit dalam RUPTL PLN. Kami melihat terutama rencana bauran EBT akan meningkat dari 12,4% di tahun 2018 menjadi 23% di 2025 nanti," kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi di Jakarta, Selasa (20/3/2018), dikutip dari https://www.esdm.go.id.

Proyeksi tersebut, lanjut Agung, diasumsikan apabila semua pekerjaan penyelesaiaan proyek pembangkit tidak mengalami kendala yang berarti sehingga bisa beroperasi sesuai target. Karena itu, mengingat pentingnya migas ini bagi pertumbuhan ekonomi bangsa Indonesia ke depannya, maka para pemangku kepentingan di negara ini, baik itu di daerah atau di pusat, diharapkan mampu melakukan berbagai terobosan dan inovatif di wilayahnya masing-masing. Artinya, upaya pengelolaan energi ini tak hanya menjadi persoalan di negara kita saja tapi juga negara-negara lain di dunia melakukan hal yang sama. Mereka berusaha melakukan berbagai kebijakan serta langkah-langkah konkret guna membangun ketahanan energi dan diversifikasi energi.

Pasalnya, negara-negara yang hanya mengandalkan migas sebagai komoditi ekspor untuk menghasilkan devisa bagi Negara tanpa mampu meningkatkan kemampuan ekonomi Negara maka akan terpuruk dalam situasi harga migas, khususnya minyak saat ini. Selain industri migas akan sangat tertekan maka industri lain pun akan mengalami tekanan yang signifikan.

Karena itu, pengelolaan yang baik akan sumber daya energi yang ada serta pengembangan strategi ketahanan energi yang komperehensif merupakan salah satu kunci kemajuan tingkat perekonomian sebuah negara. Berbagai upaya inovasi demi meningkatkan manfaat dan ketahanan negara atau daerah dalam hal sumber daya vital ini tidak pernah berakhir. Bahkan beberapa negara maju seperti Amerika Serikat dan Rusia, terbukti dapat berkembang maju dengan strategi ketahanan energi dan pemanfaatan sumber daya alam yang baik.

Langkah dan kebijakan Bupati Pelalawan, HM Harris, yang memanfaatkan sumber daya alam berupa gas untuk mengoptimalkan listrik di Kabupaten Pelalawan, Riau, merupakan contoh yang menakjubkan. Apalagi selama ini, kondisi byar-pet di Kota Pangkalankerinci yang notabene Ibukota Kabupaten Pelalawan sebenarnya sudah cerita lama. Sebuah kisah tentang keluhan masyarakat yang berharap agar listrik tak lagi byar-pet di daerahnya. Bahkan persoalan ini telah menjadi sebuah polemik tak berkesudahan bagi masyarakat, Pemda setempat serta para legislatif.

Keluhan atau kekesalan masyarakat soal kondisi listrik yang hidup-mati ini bukan tak dirasakan oleh Bupati Pelalawan HM Harris. Bahkan bukan sekali dua kali dirinya kerap menerima cacian dari masyarakat yang dilayangkan langsung ke selulernya, atas kondisi listrik yang mati-hidupnya sudah lebih dari jadwal orang minum obat. Ya, begitu konsistennya dua produsen listrik di Kabupaten Pelalawan yakni PLN dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) mematikan lampu yang membuat kekesalan masyarakat memuncak pada akhirnya dilimpahkan ke orang nomor satu di Kabupaten Pelalawan.

Karena itulah, sejak ditahbiskan menduduki jabatan sebagai orang nomor satu di Kabupaten Pelalawan tahun 2012, duet HM Harris dan Drs H Marwan Ibrahim memasukkan penuntasan soal listrik ini menjadi salah satu target yang harus diselesaikannya semasa menjabat. Selama ini, krisis listrik terjadi karena PT PLN dan Badan usaha Milik Daerah (BUMD) Tuah Sekata lebih banyak mengandalkan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) menjadi "juru selamat" dalam mengatasi ketersediaan listrik di Kabupaten yang beribukotakan Pangkalan Kerinci itu.

"Ya, saya sering dipersalahkan jika lampu padam, padahal di rumah dinas saya juga lampu mati sehingga harus pakai genset. Artinya, saya juga merasakan apa yang dirasakan oleh masyarakat kalau lampu padam. Tapi saya tetap menerima laporan tersebut meski bukan jalurnya. Soalnya, yang mengelola listrik itukan PLN dan BUMD," ujarnya dalam suatu kesempatan, sebagaimana dilansir oleh Harian Metro Riau, akhir tahun lalu.

Berangkat dari kondisi itulah, persoalan listrik ini menjadi bagian yang serius dimasa kepemimpinanya. Dalam pandangan Harris, listrik adalah kunci dari kemajuan sebuah daerah, selain infrastruktur jalan dan jembatan. Hidup di masa sekarang dan terlebih di masa mendatang akan semakin tergantung pada ketersediaan listrik. Karena itu, HM Harris menetapkan mimpi, harapan serta target bahwa daerahnya harus mampu mengatasi krisis energi, dan ia berjuang keras untuk mewujudkan swasembada listrik.

Apalagi sebagai sebuah kabupaten yang baru dilahirkan pasca reformasi tahun 1999 ini, Harris tahu persis bahwa Kabupaten Pelalawan yang memiliki luas 13.256,7 Km ini mempunyai potensi Sumber Daya Alam (SDA) yang memadai berupa gas bumi. Ketersediaan bahan baku yang melimpah diyakininya menjadi solusi terbaik dari impian mulia membawa masyarakat Pelalawan "dari gelap menuju terang". Dari situlah kemudian terlahir gagasan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas atau PLTMG yang dibangun di sebuah Kecamatan Langgam, berjarak 15 kilometer arah Barat Pangkalan Kerinci.

Dengan adanya pembangkit baru ini diharapkan tahun 2016 mendatang, elektrifikasi listrik mencapai 80 persen, naik 59 persen dari yang semula hanya 21 persen. Dengan kata lain, setelah Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) ada, prosentase itu naik drastis. Karena di tahun 2011, masyarakat Kabupaten Pelalawan yang bisa merasakan listrik baru di angka 21 persen saja.

Target HM Harris "main setrum" demi kesejahteraan masyarakat di daerah ini, memang tak main-main. Pasalnya, pada pertengahan 2014, kekuatan daya listrik PLTMG Langgam Power ini kembali ditingkatkan menjadi 50 MW. Bahkan mantan Ketua DPRD Pelalawan tiga periode ini menargetkan di tahun 2021 mendatang, arus daya listrik PLTMG Langgam Power mencapai 200 MW. Dirinya optimis akan bisa memenuhi seluruh keperluan listrik di Kabupaten Pelalawan bahkan kabupaten/kota yang ada, sehingga salah satu program diantara tujuh program yang menjadi target Pemkab Pelalawan yakni "Pelalawan Terang" benar-benar dapat terwujud.

Dan upaya penambahan daya yang mencapai 200 MW itu bukan sekedar lips service saja melainkan akan direalisasikan secepatnya oleh Pemkab Pelalawan. Dan untuk mewujudkan hal itu kini sudah nampak dengan adanya perencanaan anggaran Program Percepatan Pembangunan Infrastruktur Desa dan Kelurahan (PPIDK) yang di tahun 2015 memasuki tahun kedua. Dimana dalam PPIDK itu, salah satu itemnya bisa digunakan untuk kegiatan pengadaan instalasi listrik supaya Program Pelalawan Terang ini bisa dirasakan oleh seluruh masyarakat Pelalawan secepatnya tanpa harus menunggu anggaran dari PT PLN.

Karena itu, dirinya selaku Bupati Pelalawan menyatakan bahwa saat ini siapapun investornya pemerintah akan selalu mendukung, selama itu untuk kepentingan masyarakat.

"Kita dukung siapapun investornya selama untuk kepentingan masyarakat, seperti halnya PLTMG Langgam Power, yang penting masyarakat bisa terterangi dan bebas dari krisis listrik," katanya.

Direktur PT Langgam Power, Lukman Situmorang mengatakan bahwa pembangunan PLTMG Langgam Power bermula hanya dari mimpi Bupati Pelalawan HM Harris yang bertekad mengatasi krisis listrik di Pelalawan yang saat itu elektrifikasinya hanya 21 persen. Dan pada bulan April 2012 lalu, dilakukan kerja sama antara PT Navigate Energy dengan PD BUMD Tuah Sekata hingga terbentuklah PT Langgam Power yang dikemas dalam program "Pelalawan Terang".

"Pak HM Harris paling berjasa atas pembangunan PLTMG ini dengan melakukan konversi gas menjadi listrik. Hingga kini, PLTMG Langgam Power telah beroperasi dengan daya yang keluar sebesar 15 MW dan akan menargetkan pertengahan 2014 menjadi 50 MW," katanya.

Tak hanya itu, PLN juga sangat bersyukur dengan beroperasinya PLTMG Langgam Power. Pasalnya, dengan membeli listrik melalui Langgam Power maka PLN bisa menghemat anggaran per bulannya hingga mencapai Rp. 7 miliar. PLN yakin dapat memenuhi keperluan listrik di Provinsi Riau khususnya Kabupaten Pelalawan.

Sedangkan mantan Kepala BPPT Dr Ir Marzan A Iskandar selaku perwakilan dari Menko Perekonomian Ir Hatta Radjasa, kala datang ke Kabupaten Pelalawan guna meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) PT Langgam Power mengatakan bahwa apa yang telah dirintis oleh Bupati Pelalawan dalam pembangunan PLTMG Langgam Power merupakan terobosan yang patut diapresiasi, mengingat kondisi ketersediaan listrik yang kini mengalami permasalahan.

"Kita sangat mendukung penuh upaya Kabupaten Pelalawan melalui PLTMG Langgam Power dalam memenuhi listrik bagi masyarakat luas. Dan yang kita banggakan dari pendirian PLTMG di Kabupaten Pelalawan ini adalah bahwa listrik yang dihasilkan dari PLTMG itu sama sekali tidak mengeluarkan emisi CO2, jadi kita menggunakan energi yang bersih dan bebas dari CO2. Terpenuhi kebutuhan energi itu satu hal, namun terpenuhi kebutuhan energi bersih itu menjadi cita-cita masyarakat global," beber Marzan yang mengaku terkesan usai meninjau langsung PLTMG yang berada di Kecamatan Langgam.

Terpisah, Kabid Ketenagalistrikan Energi Sumber Daya & Mineral (ESDM) Provinsi Riau, Andreani SE, MSi, mengakui jika program Pelalawan Terang yang digagas oleh HM Harris itu mampu meningkatkan secara nyata ratio elektrifikasi listrik di Kabupaten Pelalawan. Bahkan dibanding periode pertama Bupati HM Harris dilantik sampai kini menginjak periode kedua kepemimpinannya, ratio elektrifikasi listrik di Kabupaten Pelalawan, meningkat dengan pesat.

"Memang ada tiga program atau kegiatan yang menaikkan ratio elektrifikasi listrik di Pelalawan yakni PPIDK, program Listrik Desa dari Pusat dan program dari ESDM sendiri yakni pengembangan jaringan. Tiga program unggulan itu disimulasikan ke berbagai bentuk program kegiatan hingga tercapailah ratio elektrifikasi listrik saat ini yang hampir menyentuh 90 persen," kata Andreani yang akrab dipanggil Ani ini.

Ani menjelaskan bahwa untuk ketenagalistrikan kalau dahulu hanya PLN saja sebagai BUMN negara yang diperbolehkan untuk mendirikan pembangkit tenaga listrik tapi kini pemerintah juga wajib mendirikan pembangkit. Hal ini bertujuan dalam meningkatkan ratio elektrifikasi listrik dalam mendongkrak ratio elektrifikasi listrik nasional.

"Khusus bagi daerah pesisir dan pedalaman di Kabupaten Pelalawan yakni di Kuala Kampar, ESDM membangun PLTS Terpusat di daerah Kuala kampar yakni di Desa Sei Solok, Teluk Bakau dan Teluk Beringin. Kesemuanya berada di Kuala Kampar, pembangunan itu berasal dari APBN namun usulannya dari bawah juga. Pembangunan PLTS terpusat ini merupakan bidang dari Energi Baru Terbarukan (EBTK) ESDM Pusat. Pembangunan PLTS ini juga merupakan salah satu cara untuk menaikkan ratio elektrifikasi listrik di Pelalawan," ujarnya.

Di tahun 2015, saat Dinas Pertambangan dan Energi masih bercokol di Kabupaten Pelalawan untuk bidang ketenagalistrikan, dinas ESDM melakukan existing ke BUMD yakni Desa Sering dengan panjang jaringan 6 KMs, Terusan baru dengan panjang jaringan 6 KMs dan juga Ibukota Pelalawan yakni Pangkalankerinci.

"Sebenarnya ada sejumlah program pemerintah dalam membangun jaringan listrik di Kabupaten Pelalawan namun karena anggaran yang besar, maka kami masukkan proposal ke PLN sekitar tahun 2015. Program pembangunan jaringan listrik ini sekarang tengah dikerjakan oleh PLN, program itu diantaranya yakni pembangunan jaringan yang akan dibangun sepanjang 146,621 KMs, melewati 3 kecamatan dan 10 desa dengan estimasi anggaran kurang-lebih 85 Milyar, kondisi geografisnya tanah rawa dan gambut," ujarnya.

Dikarenakan estimasi anggaran yang besar, lanjut Ani, di tahun 2015 pihaknya memberikan proposal ke PLN. Program tersebut kini tengah dikerjakan oleh PLN. Tidak beroperasinya PLTMG Langgam Power yang dilaunching tahun 2013 lalu, secara tidak langsung, tak berpengaruh dengan ratio elektrifikasi listrik di daerah yang lahir di bulan Oktober 1999 ini.

"Tidak beroperasinya PLTMG Langgam Power mungkin dikarenakan harga jual per Kwh ke PT PLN sedikit lebih rendah sehingga menyebabkan nilai investasi terlalu lama," katanya.

Dikatakannya, salah satu upaya agar PLN dapat memberikan pelayanan yang terbaik pada masyarakat sebaiknya disarankan agar perusahaan sawit yang ada di Kabupaten Pelalawan dapat mengembangkan existing ke PLN. Sehingga dengan begitu, daerah di Kabupaten Pelalawan yang jauh dari pembangkit bisa terbantu oleh perusahaan.

"Salah satunya seperti di RAPP yang memiliki Riau Power Energi yang telah excess power ke PLN sebanyak 5 MW dan ke BUMD Tuah Sekata sebanyak 4,75 MW. Kemudian perusahaan Musim Mas yang telah existing ke PLN atau jual daya ke perusahaan negara tersebut hingga bisa menghidupkan dua desa yang ada di Desa Talau dan Desa Beringin, yang keduanya berada di Pangkalankuras. Jadi andaikata semua Perusahaan Kelapa Sawit (PKS) berbuat sama seperti apa yang dilakukan dua perusahaan itu, bukan hal yang mustahil wilayah-wilayah terjauh di Kabupaten Pelalawan pun bisa terjangkau listrik," ujarnya.

Sebagai suatu kawasan pertumbuhan baru, ketersediaan sumber gas dan pemanfaatannya untuk tenaga listrik merupakan salah satu modal penting untuk merealisasikan implementasi vital proyek Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) untuk koridor Sumatera yang berdiri di Kabupaten Pelalawan. Dan program Pelalawan Terang adalah sebagai penopang utama untuk mewujudkannya, di samping sebagai pemenuhan kebutuhan dasar listrik bagi masyarakat di daerah ini.

Ke depan, jika mimpi dan harapan Bupati Pelalawan bisa terwujud dengan maksimalnya arus daya listrik yang dihasilkan oleh PLTMG sebesar 200 MW seperti cita-citanya, maka bukan tak mungkin impian Harris agar generasi di daerah ini bisa menjadi tuan rumah di negerinya sendiri, dapat terwujud. Dan yang utama lagi, daerah ini bisa benar-benar bebas dari krisis listrik dengan mengoptimalkan energi gas yang bisa menerangkan selama 24 jam. Semoga!

Penulis : Andi Indrayanto
Editor : Fauzia


Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa/rilis atau ingin berbagi foto?
Silakan SMS ke 0813 7176 0777
via EMAIL: redaksi@halloriau.com
(mohon dilampirkan data diri Anda)

BERITA TERKAIT    
 

BERITA LAINNYA    
ilustrasiHal yang Tidak Membatalkan Puasa, Tapi Menghapus Pahala Berpuasa
ilustrasiBegini Nikmat Dahsyatnya Bersedekah
ilustrasiTips Menjalani Ibadah Ramadan di Tengah Pandemi
Habib Rizieq Emosi Pertanyaannya Dipotong Jaksa: Saya Bertanya Fakta!
Polres Pelalawan Gulung Sindikat Pembobol Brankas Antar-Provinsi dan Kabupaten
  Showroom Honda Soekarno Hatta di PekanbaruPenjualan Honda Melejit, HR-V Tertinggi
ShioRamalan Shio Hari Ini, Orang-orang yang Lahir di Tahun Ini Bakal Beruntung
Tak Hanya Kaya Vitamin, Nanas Sangat Baik untuk Kecantikan Kulit
Puluhan Orang Terjaring Razia Prokes Covid-19 di Rohil
Ditpolair Polda Riau Turunkan Tim Evakuasi Warga Terdampak Banjir
Komentar Anda :

 
 
 
 
Eksekutif : Pemprov Riau Pekanbaru Dumai Inhu Kuansing Inhil Kampar Pelalawan Rohul Bengkalis Siak Rohil Meranti
Legislatif : DPRD Pekanbaru DPRD Dumai DPRD Inhu DPRD Kuansing DPRD Inhil DPRD Kampar DPRD Pelalawan DPRD Rohul
DPRD Bengkalis DPRD Siak DPRD Rohil DPRD Meranti
     
Management : Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik Wartawan | Visi dan Misi
    © 2010-2021 PT. METRO MEDIA CEMERLANG (MMC), All Rights Reserved