Pelalawan
Pemkab Pelalawan | DPRD Pelawan
 
 
+ INDEX BERITA

12:28 - Kadiskoperindag Ingatkan M...
18:35 - Bupati Harris Harapkan Per...
16:59 - ODP Corona di Pelalawan Ta...
11:31 - Baznas Kabupaten Pelalawan...
14:58 - Antisipasi Pencegahan Viru...
19:22 - Bupati Pelalawan Tinjau Fa...
15:16 - Antisipasi Sebaran Virus C...
08:19 - Camat Bandar Petalangan Pi...
19:51 - BKPSDM Pelalawan Tak Libur...
16:13 - Status Siaga Darurat, Bupa...
11:53 - Arus Listrik Sering Mati, ...
17:16 - Antisipasi Virus Corona di...
14:54 - Satu PDP di Pelawan Dinyat...
18:30 - Kapolsek Pangkalankerinci ...
12:14 - Kadiskes Ungkap Ada 4 Oran...
19:38 - Kadiskes Pelalawan Sebut 4...
16:52 - Antisipasi Virus Corona, D...
13:13 - Dinas Koperasi UKM dan Per...
18:48 - Di Bandar Petalangan, Bupa...
12:47 - Antisipasi Virus Corona, B...
 
Para Nelayan Penjaga Lingkungan
Sabtu, 22/02/2020 - 14:49:00 WIB

Oleh: Andy Indrayanto

ASAP mengepul dari arah Selatan Sungai Kerumutan di Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, medio Agustus 2013. Jarum jam baru angka sepuluh pagi. Bersama sejumlah nelayan lainnya, Firman (43) bergegas menuju sumber api yang berasal dari salah satu anak Sungai Kerumutan yakni Sungai Lubuk Bungkuk di Desa Bukit Garam, Kecamatan Kerumutan. Sungai yang selama ini menjadi sumber mata pencaharian mereka sebagai nelayan.

Asap yang memerihkan mata dan hawa panas api yang membakar semak belukar serta rerumputan di sejumlah titik di jalur Sungai Lubuk Bungkuk yang membujur dari Barat ke Timur, membuat mereka tak bisa bergerak lebih jauh. Kabut asap makin pekat, nyaris membutakan mata. Apalagi saat diketahui, ternyata bukan hanya sisi Sungai Lubuk Bungkuk saja yang terbakar namun api yang berkobar nyaris melahap puluhan hektar rumput kering di sisi jalur sungai para nelayan, sampai mengarah ke Sungai Kerumutan. Kala itu, mereka tak mampu berbuat apa-apa, hanya mata-mata mereka menatap kosong sisi-sisi sungai yang terbakar hebat. Sungai dengan habitat di dalamnya, yang selama ini menjadi mata pencaharian mereka.  

Bagi Firman dan nelayan lainnya, Sungai Lubuk Bungkuk yang bermuara ke Sungai Kerumutan itu sudah menjadi urat nadi perekonomian bagi masyarakat nelayan di Desa Bukit Garam, Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan. Sungai itu telah memberikan para penghuninya rela dijadikan tangkapan bagi mereka. Namun Karhutla yang terus terjadi di sepanjang sisi Sungai Kerumutan hingga meluas sampai ke Sungai Lubuk Bungkuk di sepanjang tahun itu telah meluluhlantakkan sebagian mimpi dan harapan para nelayan. Dan kini, para nelayan itu hanya bisa terpaku saja menyaksikan gemeretak api membakar rumput-rumput kumpai (Hymenachine amplexicaulis) dan semak belukar di sepanjang sisi Sungai Lubuk Bungkuk.

Sungai Lubuk Bungkuk sendiri merupakan salah satu dari anak Sungai Kerumutan yang berada di Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Sungai Kerumutan yang muaranya ke Sungai Kampar ini jalurnya membelah hutan Suaka Margasatwa (SM) Kerumutan. Daerah ini merupakan kawasan konservasi dengan luas total mencapai 1.332.169 ha, dihuni berbagai jenis flora dan fauna khas hutan dataran rendah. Terletak di dua kelurahan yakni Kelurahan Kerumutan dan Teluk Meranti. Hutan di kawasan ini dihiasi pepohonan mangrove yang juga dilalui Sungai Kampar, sehingga menjadikannya begitu spesial di antara hutan-hutan lain yang tersebar di Pulau Sumatera.

Layaknya sungai-sungai di kawasan gambut lainnya seperti Sungai Kayu Ara di Kabupaten Siak, Sungai Giam Siak di kawasan Bukitbatu di antara Kabupaten Siak dan Bengkalis dan lainnya, air Sungai Kerumutan dan salah satu anak sungainya yakni Lubuk Bungkuk juga berwarna coklat kehitaman. Berbagai jenis ikan hidup di dalamnya. Ada Ikan Arwana (Schleropages formosus), Ikan Jalai, juga Itik Liar (Cairina scutulata) yang kerap berkeliaran di pinggir sungai, masih bisa dilihat kawasan ini. Tapi dari penuturan Firman, kini Ikan Arwana dan Ikan Jalai sepertinya sudah tak ada lagi.

"Ada sekitar dua tahun lebih kami tak bisa mencari ikan di Sungai Lubuk Bungkuk saat terjadi Karhutla besar di Riau, tahun 2013. Sampai tahun 2015, Riau terus terjadi kebakaran hebat yang melanda hampir di semua Kabupaten, tak terkecuali di Sungai Kerumutan sampai meluas ke lokasi tempat kami mencari ikan yakni Sungai Lubuk Bungkuk. Padahal profesi kami hanya mencari ikan. Sungai Lubuk Bungkuk ini adalah satu-satunya yang telah menjadi ladang rezeki bagi kami selama ini," kata Ketua Kelompok Nelayan Peduli Lingkungan (NPL) binaan PT Sari Lembah Subur (SLS), Firman (43), mengenang kejadian beberapa tahun silam itu.

Tangan Firman lalu menyapu hamparan Sungai Lubuk Bungkuk yang dipenuhi rumput-rumput kumpai di sepanjang sisi sungai. Jika musim kemarau, rumput kumpai ini bisa lebih dahsyat daripada bensin. Percikan api atau puntung rokok saja bisa dengan cepat menimbulkan kebakaran. Sejauh mata memandang, hanya hamparan rumput kumpai yang terlihat menutupi permukaan sungai. Sepintas, hanya rumput kumpai yang mendominasi padahal jika dilihat dari atas baru akan nampak jalur-jalur sungai.

"Sebelum terjadi kebakaran hebat di Riau, lokasi ini masih banyak pepohonan, Bang, tidak seperti sekarang mata begitu lepas memandang karena tak ada pepohonan," kata nelayan lainnya, Alison (35), yang ikut menemani Halloriau.com mengunjungi pondok ikan milik Firman di tepian anak Sungai Lubuk Bungkuk, pekan silam.

Kamis siang di pertengahan penghujung tahun 2019, Halloriau.com bersama staf dari Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanlut) Pemkab Pelalawan mengunjungi pondok milik Firman yang di sekelilingnya dipenuhi rumput kumpai. Kunjungan orang-orang dari Diskanlut Pemkab Pelalawan ini untuk mengetahui sejauhmana kehidupan para nelayan yang sehari-harinya mencari ikan di Sungai Lubuk Bungkuk.

Ditemani Alison yang mendayung pompong (sampan), Halloriau.com menyusuri anak Sungai Lubuk Bungkuk, mencoba merasakan atmosfir para nelayan saat mengais rezeki di sungai yang memiliki lebar lima meter ini. Meski jam mendekati angka satu, tapi siang itu langit Kabupaten Pelalawan cukup bersahabat. Panas tak begitu terik, masih terasa semilir angin sungai berhembus.

Penuturan Alison, dinamakan Lubuk Bungkuk karena Lubuk itu berarti bagian terdalam dari sungai. Dan saat ini, justru ke sanalah Alison membawa Halloriau.com. Dari pondok Firman, pompong yang membawa Halloriau.com bergerak perlahan mengikuti arus air yang berwarna coklat kehitaman. Di sepanjang sisi sungai, rumput-rumput kumpai begitu rapat satu sama lain, seolah tak ada celah diantaranya.

Di sela-sela rumput, jika mata jeli memandang, ada seutas tali yang terbenam ke air. Itulah yang dinamakan tajur. Tajur sebenarnya sama dengan memancing hanya saja jorannya tidak dipegang oleh si pemancing, tapi talinya cuma diikatkan saja di dahan-dahan kecil rerumputan kumpai. Ada juga lukah dan pengileh yang keduanya merupakan bahasa setempat, yang artinya bubu. Bedanya, jika lukah bentuknya lonjong sementara pengileh bubu ikan berbentuk kotak.

"Perangkap-perangkap itu kami benamkan pagi, Bang, siang atau sore baru kami lihat lagi, apa sudah terisi ikan atau belum," terang Alison sambil mendayung sampan. Kisaran lima puluh meter dari pondok Firman dimana tadi kami memulai, sampan berbelok ke kanan. Kembali memasuki jalur sungai dibatasi rumput-rumput kumpai.

Cerita Alison, Sungai Lubuk Bungkuk saat Halloriau.com datang, tergolong tengah banjir. Mungkin karena tadi malam hujan sehingga air agak sedikit tinggi dari biasanya. Di Sungai Lubuk Bungkuk ini, kata Alison, tak hanya ikan Baung, Selais, Toman, Gabus, ikan Tuakang dan ikan Tenggik saja yang menjadi penghuninya.




"Sampai saat ini, kami masih sering melihat Buaya Muara muncul ke permukaan. Panjangnya kira-kira 4 meter dan munculnya selalu habis Maghrib, hanya menampakkan diri saja. Sejauh ini memang tak pernah terjadi apa-apa, Bang, dan kami berharap tidak akan pernah terjadi apa-apa," kata laki-laki asli dari Desa Bukit Garam ini, menceritakan "para penghuni" lain selain ikan di Sungai Lubuk Bungkuk.

Bahkan, lanjut Alison yang menjabat sebagai Sekretaris di Kelompok Nelayan Peduli Lingkungan (NPL) binaan PT SLS ini, para nelayan dulu malah kerap melihat Gajah Mino yang keluar dari dalam air. Gajah Mino? Alison memang tak bisa mendeskripsikan bentuknya secara persis karena yang dia dengar dari para nelayan dahulu, Gajah Mino itu mirip binatang Gajah karena memiliki benda panjang menyerupai belalai yang keluar dari dalam air lalu menyemprotkan air sungai yang berwarna hitam.

"Kami menyebutnya Gajah Mino, Bang. Kata orang-orang dulu, binatang itu yang menjadi penghuni ghaib di sungai ini atau "Dhanyang"-nya. Orang Melayu kata, Bang, sepanjang kita tak bertindak dan berlaku sombong maka dia juga takkan mengganggu kita. Tapi nelayan sekarang jarang ada yang melihat Gajah Mino, hanya buaya saja yang masih sering kami lihat," katanya. "Di situ lah, Bang, buaya itu itu kerap memperlihatkan diri," sambung Alison seraya tangannya menunjuk ke arah barat, saat pompong yang kami naiki berhenti di pertigaan sungai. Alison lalu mengarahkan dayungnya ke kanan, membawa Halloriau.com menuju lokasi kemunculan Buaya dan konon di situ juga Gajah Mino mengeluarkan belalainya dari dalam air.

Dada ini sempat berdegup kencang saat sampan yang ditumpangi bergoyang kecil terkena riak air sungai. Namun Alison menyakini bahwa tidak akan terjadi apa-apa karena riak itu hanya alunan gelombang air kecil yang terkena angin. Kalimat itu seolah-olah menjadi garansi keselamatan Halloriau.com saat menyusuri Sungai Lubuk Bungkuk. Di lokasi kemunculan Buaya ini ternyata merupakan batas akhir Sungai Lubuk Bungkuk, dengan bentuk segi empat dibatasi rumput-rumput kumpai. Di sinilah titik sungai yang paling terdalam, kisaran 8-10 meter kedalamannya, dan dari tempat inilah penamaan sungai diambil.

"Lokasi Buaya keluar itu yang dinamakan Lubuk Bungkuk, Bang, yang jadi nama sungai. Lokasi itu yang paling dalam," katanya kembali berputar haluan.

Sebelum terjadi peristiwa kebakaran, biasanya tiap jam 08.00 WIB sampai jelang sore, Alison bersama rekan-rekan nelayan lainnya mencari ikan di Sungai Lubuk Bungkuk yang masih areal PT SLS ini. Saat itu, kata Alison, mereka hanya tinggal memasang tajur, perangkap atau semacam bubu dan kerambah di titik-titik yang sudah mereka prediksi sebelumnya.

"Siang atau sore jelang Maghrib, kami lihat lagi perangkap yang kami pasang. Kalau rezeki lagi bagus, biasanya perangkap yang kami pasang sudah penuh ikan Baung, Selais, Toman dan Tunggik. Ikan-ikan itu ada yang kami konsumsi sendiri, ada juga yang dijual ke orang-orang yang datang ke pondok atau dilempar ke pasar-pasar sekitar sini," terangnya.

Rumput kumpai yang memenuhi permukaan Sungai Lubuk Bungkuk selain tempat nelayan memasang tajur dan perangkap lainnya, lanjut Alison, rumput-rumput itu juga befungsi sebagai tempat ikan bertelur. Karena itulah, para nelayan tidak pernah membersihkannya. Dari literatur yang ada, diketahui juga bahwa rumput kumpai tergolong bagus sebagai bahan pakan ternak.

Tiba kembali di pondok milik Firman, nelayan lainnya yakni Jupridin bercerita bahwa kebakaran yang kerap terjadi di wilayah Sungai Lubuk Bungkuk kebanyakan akibat ulah oknum-oknum tak bertanggung jawab. Oknum-oknum tersebut bukan berasal dari masyarakat tempatan tapi orang luar desa yang tahu jika lokasi anak Sungai Kerumutan ini banyak ikannya. Karena bukan asli dari daerah sini, oknum-oknum itu tak ada kesadaran dalam menjaga lingkungan sekitar. Mereka terkadang dengan seenaknya saja membuang puntung rokok atau membuat api yang masih menyisakan bara, hingga menciptakan percikan api yang makin lama makin besar.

"Puncak-puncaknya itu sekitar tahun 2013 sampai 2015 sehingga kami tak bisa mencari ikan. Tahun 2016, kebakaran masih ada tapi masih bisa secepatnya ditangani hingga tak meluas. Tiga tahun belakangan, tahun 2016-2018 meski masih terjadi karhutla namun tak separah di tiga tahun sebelumnya sehingga kami para nelayan bisa lagi menangkap ikan di sungai ini. Tapi tahun 2019 ini, karhutla memang terjadi tapi tak separah di tahun 2013 sampai 2015. Dan lagi kami yang telah tergabung di NPL, kini sudah bisa membantu memadamkan api sebelum menyebar luas," kata laki-laki yang mengaku usianya memasuki kepala 5 namun tak tahu persis usia sebenarnya.

Petaka karhutla di tahun 2013 - 2015 yang terjadi hampir di seluruh Kabupaten/Kota di Riau khususnya di Sungai Lubuk Bungkuk, membuat kekhawatiran tersendiri bagi para nelayan yang berasal dari Desa Bukit Garam, kecamatan Kerumutan, itu. Betapa tidak was-was dan khawatir? Hampir dua tahun lebih mereka tak bisa menangkap ikan karena Sungai Lubuk Bungkuk yang menjadi andalan mereka mengais rezeki berupa ikan, terbakar hebat.

Masa itu boleh dibilang masa-masa suram bagi para nelayan yang tinggal di Desa Bukit Garam, Kecamatan Kerumutan. Pekerjaan bukannya tak ada namun akibat karhutla diiringi kabut asap yang terus mengepung Sungai Lubuk Bungkuk membuat para nelayan tak bisa berkutik banyak. Apalagi Firman dan para nelayan lainnya tak memiliki keahlian lainnya, selain hanya sebagai penangkap ikan. Otomatis, akibat kondisi tersebut penghasilan pun mereka pun menurun secara drastis. Masa-masa sulit itu ada menghampiri mereka sekitar tiga tahun lebih.

"Saat itu, jangankan untuk memenuhi kebutuhan hidup untuk merokok saja susah, Bang. Kami terpaksa kerja serabutan untuk mempertahankan hidup," kata Firman diamini nelayan lainnya.

Begitu juga ketika saat itu kabut asap tak pekat, para nelayan pun tak berani juga untuk mencari ikan di sungai Lubuk Bungkuk. Pasalnya pada masa-masa karhutla itu, puluhan tentara dari pusat yang diturunkan ke Riau guna membantu pemadaman karhutla, sebagian besar bermarkas di lokasi mereka mencari ikan.

"Jadi meski kabut asap tidak tebal, kami juga nggak berani mencari ikan, Bang. Kami takut dengan tentara yang kebetulan bermarkas di daerah sini untuk membantu memadamkan api. Akhirnya, kami kerja apa saja yang penting dapat uang untuk kebutuhan sehari-hari," lanjut  Firman.

Karena itu, kini Firman dan para nelayan lainnya sangat bersyukur saat PT SLS yang merupakan anak perusahaan PT Astra Agro Lestari menjadikan mereka sebagai Kelompok Binaan perusahaan dengan sebutan Nelayan Peduli Lingkungan (NPL). Cerita Firman, proses mereka menjadi NPL di bawah binaan PT SLS tergolong tak rumit. Firman percaya, niat baik pasti akan menemukan jalannya sendiri.




"Semua pemikiran asal muasal terbentuknya NPL ini berpijak dari kebakaran hutan yang meluluhlantakkan sungai yang menjadi tempat kami mencari nafkah di tahun 2013 itu. Pasca karhutla itu, kami sadar bahwa lingkungan sungai ini harus dijaga sehingga habitat yang ada di dalamnya, yang selama ini telah menjadi tumpuan kami mencari nafkah, tak terganggu ekosistemnya. Karena otomatis, saat terjadi kebakaran, ikan-ikan pun tak muncul karena lingkungannya rusak. Artinya, kami harus menjaga lingkungan sungai ini dari kebakaran bahkan kalau bisa mencegahnya jangan sampai terulang lagi," beber laki-laki yang mengaku asal Jawa Timur ini dan merantau ke Riau tahun 2007, saat menceritakan proses terbentuknya kelompok NPL.

Kebetulan, Firman yang memiliki pondok di tepi anak Sungai Lubuk Bungkuk itu kerap didatangi orang-orang dari PT SLS yang hendak membeli ikan hasil tangkapannya. Dari sekedar bercerita ringan hingga obrolan berbentuk diskusi pun terjalin antara dia dengan orang-orang perusahaan. Saat itu, Firman hanya menginginkan bagaimana dia dan nelayan-nelayan lainnya bisa menjaga Sungai Lubuk Bungkuk ini dari oknum-oknum tak bertanggung jawab agar tak terjadi lagi kebakaran.

Pucuk dicinta ulam tiba! Begitulah pepatah mengatakan jika niat dan keinginan sudah bertemu. Keinginan Firman dan rekan-rekan nelayan lainnya mulai terealisasi saat PT SLS menawarkan mereka untuk membentuk kelompok NPL. Para nelayan jelas antusias menyambut, dan realisasi awal PT SLS adalah dengan mengundang 17 nelayan yang kesemuanya berasal dari Desa Bukit Garam dan Diskanlut Kabupaten Pelalawan sebagai leading sector untuk masalah perikanan di daerah ini. Pembicaraan awal saat itu seputar pembentukan Kelompok Nelayan Peduli Lingkungan beserta tujuannya.

"Setelah beberapa kali pertemuan, akhirnya terbentuklah kelompok Nelayan Peduli Lingkungan binaan PT Sari Lembah Subur. Resminya NPL ini terbentuk tanggal 7 November 2017," terang Humas PT SLS, Setyo Budi Utomo, pada Halloriau.com.

Awalnya, kata Setyo, kelompok ini dinamakan Nelayan Peduli Api (NPA) tapi pada perkembangannya kemudian pihaknya merubah nama itu menjadi tak hanya Api saja tapi pada ruang lingkup yang lebih besar lagi yakni Lingkungan. Asumsinya, para nelayan yang kesehariannya mencari nafkah di Sungai Lubuk Bungkuk itu diharapkan tak hanya menjaga sungai dari kebakaran saja tapi lebih baik jika mampu mencegahnya.

Jadi dengan terbentuknya NPL ini, lanjut Setyo, para nelayan diharapkan bisa menegur langsung jika ada pemancing yang tanpa disadari melakukan suatu tindakan yang merusak lingkungan. Para NPL yang semuanya berprofesi sebagai nelayan ini memiliki wewenang untuk hal tersebut. Karena itu, para NPL ini dibekali berbagai pelatihan cara memadamkan api serta pemahaman akan pentingnya menjaga lingkungan dari instansi terkait yang didatangkan perusahaan.

"Jika terjadi apa-apa, misalnya kembali terjadi kebakaran di Sungai Lubuk Bungkuk ini, para nelayan itu yang merasakan pertama kali karena mereka menggantungkan mata pencahariannya di sini. Para NPL inilah yang merasakan pahit manisnya saat mengais rezeki dari sungai ini. Jadi mereka diharapkan bisa menjadi garda terdepan dalam menjaga lingkungan di sekitar Sungai Lubuk Bungkuk ini, atau dari ulah oknum-oknum tak bertanggung jawab," ungkapnya.

Dan itulah yang dilihat Halloriau.com saat perwakilan dari Diskanlut Pelalawan dan tim Regu Pemadam Kebakaran (RPK) perusahaan memberikan sosialisasi pada para NPL tentang pentingnya menjaga lingkungan agar tak terjadi lagi karhutla, di pertengahan penghujung tahun 2019 lalu.

Dalam kesempatan tanya jawab itu, Kabid Pemberdayaan Usaha Perikanan Diskanlut Pelalawan, Rani mengatakan bahwa para nelayan yang sudah tergabung dalam NPL diharuskan menjadi contoh terdepan dalam menjaga lingkungan khususnya sungai.

"Soalnya kalau lingkungan sungai terbakar, kan Bapak-Bapak juga yang rugi karena tak bisa menangkap ikan. Karena itu, Bapak-Bapak harus bersyukur karena PT SLS mau menjadikan NPL di bawah binaan perusahaan. Selain Bapak-Bapak dibantu alat penangkap ikan, Bapak-Bapak juga akan diberikan pelatihan mengenai cara memadamkan api guna menjaga lingkungan," katanya. 

Bagi Rani, apa yang dilakukan oleh PT SLS ini adalah sebagai bentuk komitmen perusahaan pada masyarakat sekitar yang diwujudkan melalui program Community Sosial Responsibility (CSR). Di tengah terjadinya rasionalisasi anggaran daerah, peran pihak perusahaan atau swasta memang benar-benar diperlukan agar terjadi kesinambungan pembangunan yang berkelanjutan dalam membangun Kabupaten Pelalawan ini.

"Dan PT SLS telah menunjukkan komitmen itu dengan memberdayakan para nelayan untuk bergabung dalam NPL ini, dengan tujuan menjaga lingkungan sekitar sungai," katanya.

***

Konteks pemberdayaan masyarakat yang berada di ring satu perusahaan saat ini bisa dalam berbagai bentuk, dan biasanya disesuaikan dengan kondisi yang dihadapi. Dan inilah yang dilakukan oleh PT SLS dengan memberdayakan potensi masyarakat yang berada di lingkungan perusahaan. Kelompok NPL adalah salah satu bukti nyata kepedulian PT SLS pada masyarakat dengan profesi nelayan yang berada di areal perusahaan. 

Dalam skala kecil, program CSR yang dilakukan oleh perusahaan pada masyarakat tempatan yang berada di ring satu perusahaan adalah sebagai bentuk pertanggungjawaban mereka pada masyarakat dan lingkungan sekitar. Namun dalam tataran yang lebih tinggi lagi, apa yang dilakukan PT SLS lewat program CSR adalah bentuk pertanggung jawaban pada bangsa dan negara ini.

Sebagai anak perusahaan PT Astra Agro Lestari yang bergerak di bidang sawit, keberhasilan PT SLS dalam merangkul para nelayan yang berada di lingkungan perusahaan untuk kemudian dibina sebagai Nelayan Peduli Lingkungan (NPL) tak lepas dari keberhasilan manajemen perusahaan dalam mengimplementasikan program CSR bagi masyarakat tempatan yang berada di lingkungan perusahaan. Dengan pemberdayaan itu, perusahaan telah memaksimalkan potensi yang ada di masyarakat sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lewat berbagai program serta terobosan-terobosan yang dilakukan oleh perusahaan. Kontribusi ini juga dilakukan oleh perusahaan saat terjadi karhutla di tahun 2019 lalu. Hal ini diakui oleh Ketua NPL, Firman, pada Halloriau.com.

Ketika terjadi karhutla di tahun 2019 lalu, NPL yang dikomandoi oleh Firman ikut terjun memadamkan api yang membakar di sekitar wilayah Sungai Lubuk Bungkuk yang menjadi mata pencaharian mereka. Tak ingin terulang kejadian di tahun 2015 silam, Firman beserta anggota NPL lainnya berhari-hari ikut memadamkan api bersama Tim RPK SLS, TNI-Polri dan Masyarakat Peduli Api (MPA) setempat. Dalam proses pemadaman itu, PT SLS memberikan insentif pada anggota NPL yang sebagian besar anggotanya berprofesi sebagai petani sawit selain sebagai nelayan.

"Besarannya kisaran Rp 100 sampai Rp 200 ribu sehari, Bang, sehingga anggota saya yang profesinya sebagai petani sawit selain sebagai nelayan, dapat juga memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Soalnya selama kita melakukan pemadaman, otomatis kita tak memiliki mata pencaharian. Kita yang jadi nelayan juga tak bisa menangkap ikan, yang profesinya sebagai petani sawit juga tak bisa memanen sawitnya dan menjual ke PT SLS karena karhutla yang nyata berdampak ke perekonomian kami. Karena itulah, kami semua dari NPL ikut terjun memadamkan api yang membakar di wilayah Sungai Lubuk Bungkuk," ungkapnya.

Sebagai bagian dari perusahaan Astra Group, PT. SLS yang bergerak di bidang perkebunan sawit ini telah menunjukkan wujud nyata dalam mengembangkan potensi yang berada di sekitar perusahaan. Dengan potensi yang ada itu, PT. SLS memfasilitasi kemampuan yang dimiliki masyarakat di sekitar perusahaan sehingga secara nyata masyarakat ikut berkontribusi dalam menanggulangi persoalan karhutla, yang kerap terjadi di Kabupaten Pelalawan. 

Nelayan Peduli Lingkungan (NPL), menjadi bukti dari semua itu. Berbagai prestasi dan kinerja yang dilakukan NPL dalam menjaga lingkungan di sekitar wilayah perusahaan telah membawa NPL ini diakui oleh Astra International (AI), sehingga pada Festival Nelayan di Pulau Bali yang digelar Astra pada bulan Desember tahun lalu, NPL binaan PT SLS masuk 10 besar dari 28 finalis UMKM yang berada di bawah binaan perusahaan Group Astra. 

Tak tanggung-tanggung, masyarakat yang berada di Kampung Lubuk Bungkuk, Bukit Garam, akan dijadikan Kampung Berseri Astra Desa Sejahtera, yang merupakan program Astra International. Bukan hanya itu, di tahun 2019 itu juga, Firman ditunjuk menjadi Ketua tim Kerja Penelitian Ekosistim Gambut, dimana program ini merupakan program Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Pelalawan untuk menjaga ekosistim lingkungan yang ada di wilayah tersebut.

"Semua ini berawal karena kami tergabung dalam NPL, yang berada di bawah binaan PT. SLS. Kalau tidak, tak mungkin kami atau saya pribadi bisa ditunjuk menjadi Ketua Tim Kerja Penelitian Ekosistim Gambut," ungkap Firman.

Dalam program yang ditaja KLHK itu, dengan masa kerja 3 (tiga) tahun maka KLHK melalui DLHK Pelalawan akan memberikan bantuan pada masyarakat di sekitar wilayah perusahaan berupa tanaman-tanaman kayu. Tanaman ini nantinya akan ditanam di wilayah Lubuk Babu sampai Tanjung Kuyo, dimana wilayah tersebut pada tahun 2013-2015 habis dilanda kebakaran hebat. 

"Mereka juga akan melaksanakan program sekat kanal, kerambah dan penanaman sagu ke masyarakat. Hal ini tujuannya untuk membantu perekonomian masyarakat yang ada di wilayah sini," katanya.        

Kadiskanlut Kabupaten Pelalawan, Ir Wahiduddin, M,Si, saat dimintai tanggapannya soal NPL ini mengatakan bahwa program yang dilakukan PT SLS dengan merekrut para nelayan untuk dijadikan peduli lingkungan, harus diapresiasi. Ini artinya, perusahaan berkontribusi dan bertanggung jawab pada masyarakat dan lingkungan, dengan menciptakan keseimbangan antara kepentingan bisnis, sosial, dan lingkungan.

"Program ini sinergi sekali, dimana PT SLS merangkul masyarakat tempatan yang berprofesi sebagai nelayan untuk kemudian diarahkan menjadi nelayan yang peduli pada lingkungan. Simbiosis mutualisme yang bagus, karena selain masyarakat juga bisa turut menjaga lingkungan, perusahaan pun memberikan dampak nyata akan keberadaannya di tengah masyarakat," terangnya.

Menurutnya, kepedulian masyarakat akan pentingnya menjaga sumber daya perairan sangat lah penting. Sumber daya perairan yang baik itu, salah satunya ditentukan dengan adanya keterlibatan masyarakat setempat dalam menjaga lingkungannya. Apalagi karhutla yang kerap terjadi di Riau dan juga di Kabupaten Pelalawan, berdampak pada masyarakat nelayan.

"Karhutla jika bersinggungan dengan perairan maka akan menyebabkan kerusakan ekosistem perairan itu. Dan rusaknya lingkungan jelas akan berpengaruh besar terhadap hasil penangkapan para nelayan. Di sini peran NPL diperlukan agar bisa terlibat menjadi pemadam api sebelum meluas, sangat diperlukan, bahkan mereka harus bisa menjadi garda terdepan dalam pecegahan karhutla di lokasi mereka mencari nafkah. Kita berharap apa yang dilakukan oleh PT SLS ini dapat ditiru oleh perusahaan-perusahaan lain dengan memberdayakan masyarakat tempatan sesuai dengan kondisi di daerah tersebut," urainya.

Bagi Firman, Alison dan Jupridin, dan nelayan lainnya yang tergabung dalam NPL, apa yang dilakukan PT SLS yang bergerak di bidang sawit ini secara langsung telah mengangkat mimpi dan harapan karena telah mau membina mereka. Inspirasi yang dilakukan oleh PT SLS dengan membina dan membentuk mereka menjadi NPL, telah membuat mereka kini tidak hanya menjadi penjaga lingkungan saja dari bencana karhutla, tapi juga menjadi ujung tombak melindungi "para penghuni" sungai. Semoga!***



Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa/rilis atau ingin berbagi foto?
Silakan SMS ke 0813 7176 0777
via EMAIL: redaksi@halloriau.com
(mohon dilampirkan data diri Anda)

 
Berita Lainnya :
  • Lagi, 67 TKI dari Malaysia Tiba di Pelabuhan Dumai
  • Telantarkan TKI, Bupati Irwan Akan Stop Rute Kapal ke Selatpanjang
  • Satu dari 7 Pasien Positif Corona di Sumbar Meninggal Dunia
  • Selama Wabah Corona, Pemko Diminta Pastikan Ketersediaan Pangan dan Anggaran Aman
  • Cegah Corona, DPW FPI Kepulauan Meranti Semprot Disinfectant di Masjid dan Musala
  •  
    Komentar Anda :

     
    Eksekutif : Pemprov Riau Pekanbaru Dumai Inhu Kuansing Inhil Kampar Pelalawan Rohul Bengkalis Siak Rohil Meranti
    Legislatif : DPRD Pekanbaru DPRD Dumai DPRD Inhu DPRD Kuansing DPRD Inhil DPRD Kampar DPRD Pelalawan DPRD Rohul
    DPRD Bengkalis DPRD Siak DPRD Rohil DPRD Meranti
         
    Management : Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik Wartawan | Visi dan Misi
        © 2010-2020 PT. METRO MEDIA CEMERLANG (MMC), All Rights Reserved