PEKANBARU - Media sosial kini menjadi salah satu sarana bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk memperkenalkan produk sekaligus menjangkau lebih banyak pelanggan.
Di Pekanbaru, Heri Yulianto, yang akrab disapa Bang Mandoer, memanfaatkan konten kuliner untuk membantu usaha makanan dan minuman lokal semakin dikenal masyarakat.
Melalui akun media sosial @lemak_baik, Heri secara konsisten membagikan pengalaman kulineran, mulai dari jajanan kaki lima hingga kafe dan restoran. Berawal dari hobi bersama istri, aktivitas tersebut kini berkembang menjadi upaya sederhana untuk memperkenalkan berbagai tempat kuliner, termasuk lokasi tersembunyi atau yang populer disebut hidden gem.
Heri mulai serius membuat konten kuliner sejak Februari 2024. Kini, akun Instagram @lemak_baik telah memiliki sekitar 9.000 pengikut, sedangkan akun TikTok @Lemak_baik diikuti sekitar 4.700 pengguna.
"Awalnya saya dan istri kan senang itu kulineran, apalagi mampir ke hidden gem. Jadi dari pada disimpan bikin memori ponsel penuh, kenapa tidak dibikin konten sekalian. Alhamdulillah, terus berjalan sampai sekarang," sebutnya, Minggu (18/10/2026).
Menariknya, Heri mengaku tidak pernah menetapkan target khusus mengenai UMKM yang akan diulas. Ia memilih tempat makan berdasarkan pengalaman dan ketertarikannya terhadap makanan yang dicoba.
Menurutnya, usaha kuliner yang layak diperkenalkan tidak selalu harus berupa restoran besar atau tempat makan yang sudah populer. UMKM kaki lima yang menawarkan cita rasa menarik juga memiliki kesempatan untuk mendapatkan perhatian melalui media sosial.
"Karena kadang kita datang ke suatu tempat dan ternyata makanannya enak. Jadi karena kita senang kita bikinkan kontennya. Enggak berharap lebih sih. Tapi alhamdulillah respons yang di media sosial banyak positif. Bahkan terbantu bagi mereka yang memang pecinta kuliner dan mencari hidden gem," katanya.
Bagi Heri, membuat konten bukan semata-mata soal jumlah penonton atau pengikut. Ia ingin pengalaman kuliner yang dibagikannya bisa memberikan manfaat bagi pelaku usaha, terutama UMKM yang belum banyak dikenal masyarakat.
Ia berharap konten yang diunggah dapat menjadi sarana promosi tambahan bagi pemilik usaha. Dengan jangkauan media sosial yang lebih luas, masyarakat bisa menemukan pilihan kuliner baru, sementara pelaku UMKM berpeluang mendapatkan pelanggan tambahan.
"Saya berharap apa yang saya lakukan ini bisa membantu UMKM. Setidaknya bagi UMKM yang baru, bisa lebih dikenal. Kalau ada yang sedang sepi, semoga bisa melonjak penjualannya," ungkap Heri.
Kehadiran food influencer atau food vlogger memang dapat membantu meningkatkan visibilitas bisnis kuliner. Ulasan yang menarik berpotensi mendorong sebuah produk menjadi viral dan membuat jumlah pembeli meningkat dalam waktu singkat.
Namun, popularitas di media sosial bukan satu-satunya penentu keberlangsungan usaha. Kualitas makanan, konsistensi rasa, pelayanan, harga, serta kemampuan mengelola bisnis tetap menjadi faktor penting agar pelanggan mau kembali setelah kunjungan pertama.
Karena itu, promosi melalui konten digital akan lebih bermanfaat apabila diiringi kesiapan pelaku UMKM dalam memenuhi permintaan konsumen dan menjaga mutu produk.
Perjalanan Heri melalui @lemak_baik memperlihatkan bahwa kepedulian terhadap perkembangan UMKM dapat dimulai dari hal sederhana. Berbagi pengalaman makan dan minum yang awalnya ditujukan sebagai dokumentasi pribadi, kini menjadi cara untuk membantu memperkenalkan potensi kuliner di Pekanbaru.
Di tengah persaingan bisnis kuliner yang semakin ketat, kehadiran kreator konten lokal dapat menjadi jembatan antara pelaku usaha dan calon pelanggan. Apalagi, rekomendasi berbasis pengalaman langsung dapat membantu masyarakat menemukan tempat makan yang sesuai dengan selera mereka.
Heri berharap kegiatan yang dilakukannya bisa terus berjalan dan semakin banyak UMKM yang memperoleh manfaat dari promosi melalui media sosial.
Masyarakat yang ingin menemukan berbagai rekomendasi kuliner di Pekanbaru dapat mengunjungi akun Instagram @lemak_baik dan TikTok @Lemak_baik.